Stay in touch
Subscribe to our RSS!
Oh c'mon
Bookmark us!
Have a question?
Get an answer!

Feature Title‎ 1

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat... Read More

Feature Title‎ 2

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat... Read More

Feature Title‎ 3

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat... Read More

Feature Title‎ 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat... Read More

Feature Title‎ 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat... Read More

Laporan KKN

0 komentar
BAB 1. PENDAHULUAN

A. Analisis Situasi
Kesejahteraan dan kelayakan hidup dari penduduk desa dan perkotaan memiliki perbedaan yang sangat jauh. Dari segi penduduk perkotaan memiliki sarana dan prasarana yang layak untuk kesejahteraan dari penduduknya. Sedangkan penduduk di pedesaan memiliki sarana dan prasarana yang jauh dari kelayakan dan kesejahteraannya, sehingga penduduk di pedesaan menjadi masyarakat yang jauh tertinggal dari masyarakat perkotaan. Masyarakat perkotaan pada umumnya dapat memenuhi kebutuhan hidup lebih mudah, hal ini dikarenakan mudahnya masyarakat perkotaan mengakses segala sesuatu kebutuhan hidup mereka. Ditinjau dari sosialisasi dan pendidikan yang tidak merata merupakan salah satu faktor yang membuat masyarakat di desa kurang memahami pentingnya pendidikan. Minimnya pemahaman masyarakat desa terhadap pendidikan yang menyebabkan kondisi ekomoni yang rendah, karena kurangnya keahlian dan pengetahuan yang dapat menunjang terciptanya suatu kreatifitas dari masyarakat desa. Mata pencaharian penduduk desa pada umumnya yaitu sebagai petani dan peternak yang tidak dapat dipastikan hasilnya. Mata pencaharian masyarakat pedesaan yang semacam ini yang menyebabkan masyarakat lebih memilih bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya daripada belajar dibangku sekolah.
Permasalahan yang diuraikan diatas perlu mendapatkan perhatian dari berbagai pihak agar permasalahan tersebut dapat memperoleh pemecahan masalah yang terbaik untuk meningkatkan sumber daya manusia dan pemberdayaan segala potensi yang ada di desa tersebut melalui sosialisasi dan pelatihan keterampilan. Penanganan tersebut tidak cukup hanya dilakukan oleh pemerintah saja namun dari semua pihak yang ikut peduli dan mampu untuk menangani hal tersebut. Berkenaan dengan hal tersebut, mahasiswa sebagai pihak intelektual dan memiliki tanggunga jawab untuk ikut membantu memperdayakan sumber daya yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Melalui pendirian Pos Pemberdayaan Keluarga (POSDAYA) di wilayah pedesaan dengan merumuskan kegiatan-kegiatan pengabdian pada masyarakat dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai aplikasi nyata dari ilmu yang dimiliki oleh mahasiswa.
Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Abdurachman Saleh Situbondo tahun 2015 direalisasikan sebagai bentuk kegiatan yang relevan dengan permasalahan yang ada di tempat mahasiswa tersebut berada. Melalui penyelenggaraan kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan meningkatkan serta memotivasi masyarakat agar lebih aktif dan kreatif serta menciptakan masyarakat yang mandiri sebagai upaya menciptakan kesejahteraan dan kelayakan hidup masyarakat pedesaan dapat terwujud.
Desa Mangaran Kecamatan Mangaran Kabupaten Situbondo, sebagian besar keadaan alamnya dikembangkan dalam bidang pertanian. Ditinjau besarnya lahan persawahan yang dimanfaatkan oleh masyarakat. Mata pencaharian masyarakat Desa Mangaran sebagian besar bekerja di sektor pertanian, peternakan, pedagang, dan kerajinan. Semua mata pencaharian tersebut memiliki daya tahan ekonomi yang rentan karena sektor ini sangat dipengaruhi oleh iklim investasi nasional dan maupun global.
Secara administrasi Desa Mangaran terdiri dari 6 (enam) dusun dengan luas wilayah dan tingkat perkembangannya yang tidak merata pada setiap dusunnya. Kepadatan penduduknya juga menjadi salah satu faktor.
Dari segi topografi, Desa Mangaran berada di desa bagian Utara wilayah Kabupaten Situbondo dengan batas-batas administrasi desa meliputi:
Utara : Desa Tanjung Glugur.
Selatan : Desa Tenggir dan Tokelan.
Timur : Desa Tanjung Kamal dan Poka’an.
Barat : Desa Tribungan dan Kayu Putih.
Jumlah penduduk Desa Mangaran pada tahun 2014 yaitu 4527 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 2236 jiwa dan terdiri dari perempuan 2291 jiwa. Jumlah penduduk terbagi menjadi 1568 Kepala Keluarga. Komposisi penduduk berdasarkan usia dapat di lihat pada Table A.1.


Tabel A.1 Klasifikasi Penduduk Desa Mangaran Berdasarkan usia
Kelompok Umur Laki – laki (L) Perempuan (P) L+P
00-07 193 220 413
08-12 167 136 303
13-17 213 173 386
18-23 195 151 346
24-29 177 199 376
30-34 165 182 347
35-38 117 148 265
Sumber : Data Desa Mangaran Tahun 2014
Kondisi geografis Desa Mangaran terletak pada wilayah daratan sedang yang luas dan subur. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya data yang di dapatkan dari Desa Mangaran.
Tabel A.2 Luas Lahan Desa Mangaran Secara Keseluruhan
Sebesar 315.192 Ha/m2.
Macam Tanah Luas (Ha)
Pekarangan 8.292
persawah 256.000
Permukiman 40.000
Perkebunan -
Kuburan 8.200
Taman -
Perkantoran 2.700
Tegal/ladang -
Rawa -
Luas prasarana lainnya -
Sumber : Profil Desa Mangaran Tahun 2014
Kodisi geografis tersebut merupakan salah satu faktor penunjang mata pencaharian penduduk Desa Mangaran adalah petani. Selain itu, banyaknya sumber mata air di desa ini juga sebagai salah satu faktornya. Namun, tidak semua warga Desa Mangaran bertani, ada juga yang memiliki profesi lain yaitu sebagai peternak.
Selain permasalahan atas terdapat juga permasalahan pada bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan hidup dan keagamaan.
1. Analisis Bidang Pendidikan
2. Analisis Bidang Kesehatan
3. Analisis Bidang Ekonomi
4. Analisis Bidang Lingkungan Hidup
5. Analisis Bidang Pendidikan Keagamaan

B. Permasalahan
Berdasarkan identifikasi dan data yang telah diperoleh, pemasalahan yang dihadapi Desa Mangaran secara umum menyangkut bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan hidup dan keagamaan. Berikut ini beberapa permasalahan yang terdapat di Desa Mangaran adalah:
1. Bidang Pendidikan
2. Bidang Kesehatan
3. Bidang Ekonomi
4. Bidang Lingkungan Hidup
5. Bidang Pendidikan Keagamaan

Secara umum


C. Tujuan
D. Target
E. Lokasi KKN
F. Mahasiswa dan Dosen Pembimbing Lapangan



BAB 2. PERENCANAAN, PELAKSANAAN DAN HASIL PROGRAM

A. Perencanaan Program
1. Sosialisasi tentang Posdaya melalui Program KKN Tematik
1.1 Pemerintahan Setempat (Kecamatan, Desa, RW/RT/Dinas, dan Lembaga terkait).
 Survei Tempat
Kegiatan survei ini dilakukan sebanyak 2 kali,yaitu pada tanggal 20 dan 21 April 2015. Pada kegiatan survei pertama kami disambut oleh pihak Perangkat Desa untuk selanjutnya kami koordinasi dengan Perangkat Desa untuk memperoleh informasi tentang Perangkat Desa,profil serta kondisi Desa Mangaran. Kegiatan survei ini juga bermaksud untuk mensosialisasikan maksud dan tujuan kegiatan KKN Posdaya yang akan dilaksanakan selama 53 hari dari tanggal 23 April 2015 sampai tanggal 14 Juni 2015.
 Penerimaan di Kecamatan Mangaran
Kegiatan penerimaan ini dilaksanakan saat pemberangkatan mahasiswa KKN Tematik Posdaya KecamatanMangaran 2015 pada Tanggal 23 April 2015 yang bertempat di Kecamatan Mangaran. Kegiatan ini bermaksud untuk mensosialisasikan program KKN Tematik Posdaya kepada pihak Kecamatan Mangaran. Penerimaan ini digabungkan bersama Mahasiswa KKN UNARS di desa lain yang berada di lingkungan Kecamatan Mangaran. Kegiatan penerimaan ini di dampingi oleh Dosen Pembimbing Kelompok yaitu Nur Holifatuz Zahro, M.Pd.
 Penerimaan Di Desa Mangaran
Kegiatan penerimaan di Desa Mangaran dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 23 April 2015, bertempat di Kantor Desa Mangaran. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Desa beserta jajarannya. Pada penerimaan ini, semua anggota KKN Posdaya di kenalkan satu persatu kepada perangkat Desa Mangaran, serta anggota KKN diberi informasi mengenai lokasi,kondisi Desa Mangaran.
1.2 Organisasi Sosial Masyarakat yang mengembangkan program pemberdayaan keluarga (PKK, Posyandu)
 PKK
Sebelum program dilaksanakan Mahasiswa KKN mengadakan sosialisasi terlebih dahulu dengan anggota PKK tentang Program yang akan dilaksanakan di Desa Mangaran. Sosialisasi ini dilaksanakan pada tanggal 11 Mei 2015. Sosialisasi ini bertujuan untuk menjelaskan maksud kedatangan Mahasiswa KKN di Desa Mangaran serta program semua bidang yang akan dilaksanakan selama 53 hari.
 Posyandu
Sebelum program dilaksanakan Mahasiswa KKN mengadakan sosialisasi terlebih dahulu dengan Kader Posyandu tentang Program yang akan dilaksanakan di Desa Mangaran. Sosialisasi ini dilaksanakan pada tanggal 11 Mei 2015. Sosialisasi ini bertujuan untuk menjelaskan maksud kedatangan Mahasiswa KKN di Desa Mangaran serta program semua bidang yang akan dilaksanakan selama 53 hari.
1.3 Tokoh Masyarakat dan keluarga-keluarga
 Tokoh Masyarakat dan keluarga-keluarga
Untuk melancarkan program yang akan dilaksanakan, mahasiswa KKN Desa Mangaran melaksanakan sosialisasi terlebih dahulu dengan tokoh masyarakat dan keluarga-keluarga di Desa Mangaran. Pelaksanaan sosialisasi ini dilakukan tanggal 11 Mei 2015. Hal ini bertujuan untuk menjelaskan tentang KKN Posdaya dan Program KKN yang akan dilaksanakan. Selanjutnya mahasiswa KKN mendatangi tempat yang akan dijadikan sebagai tempat pelaksanaan program-program Posdaya di semua bidang.
2. Pendataan dan Identifikasi Potensi keluarga, lembaga, permasalahan serta kebutuhan program.
2.3 Potensi
2.1.1 Sasaran Objek dan Subjek
Adapun sasaran objek dan subjek dalam program KKN Posdaya yaitu :
 Bidang Pendidikan
Sasaran objek dan subjek di bidang Pendidikan Masyarakat Buta Aksara khususnya Ibu Rumah Tangga, Anak-anak usian dini serta masyarakat umum khususnya di Dusun Mangaran Selatan .
 Bidang Kesehatan
Sasaran objek dan subjek di bidang kesehatan Masyarakat Lanjut Usia (lansia) dan anak-anak usia dini serta masyarakat umum di Desa Mangaran.
 Bidang Ekonomi
Sasaran objek dan subjek di bidang ekonomi yaitu ibu rumah tangga dan Kader-kader PKK.
 Bidang Lingkungan Hidup
Sasaran objek dan subjek di bidang lingkungn hidup yaitu masyarakat yang memiliki lahan kosong pekarangan yang luas di Desa Mangaran.
 Bidang Keagamaan
Sasaran objek dan subjek di bidan keagamaan yaitu pemuda dan pemudi serta masyarakat umum di Desa Mangaran.
2.1.2 Lembaga Pendukung yang ada
1. PAUD
2. Posyandu
3. Pondok Pesantren
4. PKK

2.2 Kebutuhan bantuan program
2.2.1 Bidang Pendidikan
 Permasalahan : Masyarakat masih ada yang tidak bisa membaca dan menulis (buta aksara) khususnya di Dusun Mangaran Selatan.
 Kebutuhan Bantuan Program : Program yang dibutuhkan di bidang Pendidikan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan mengadakan program Keaksaraan Fungsional (KF).
2.2.2 Bidang Kesehatan
 Permasalahan : Masyarakat Lanjut Usia (lansia) masih banyak yang kurang sadar terhadap pentingnya kesehatan dengan berbagai alasan tidak mau berpartisipasi ke Posyandu Lansia.
 Kebutuhan Bantuan Program : program yang dibutuhkan di bidang Kesehatan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan membantu mengajak masyarakat lansia untuk berpartisipasi dalam program posyandu lansia dengan mendatangi langsung ke rumah masyarakat lansia dan memberikan stiker tentang pemeriksaan gratis.
2.2.3 Bidang Ekonomi
 Permasalahan : Masih rendahnya kreativitas masyarakat Desa Mangaran.
 Kebutuhan Bantuan Program : program yang dibutuhkan di bidang Ekonomi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan memberikan pelatihan dan penyuluhan tentang pembuatan lampion benang berkarakter dan pembuatan makanan nimki.


2.2.4 Bidang Lingkungan Hidup
 Permasalahan : Di desa Mangaran masih banyak lahan kosong pekarangan yang belum dimanfaatkan secara optimal.
 Kebutuhan Bantuan program : Program yang dibutuhkan di bidang Lingkungan Hidup untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah mengadakan program Kebun Bergizi dengan menanam tanaman hortikultura sehingga bisa memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
2.2.5 Bidang Keagamaan
 Permasalahan : kurangnya sarana remaja untuk mengapresiasi di bidang keagamaan.
 Kebutuhan Bantuan Program : Program yang dibutuhkan di bidang Keagamaan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan membentuk Remas (Remaja Masjid).

3. Penyusunan Perencanaan, Langkah-langkah kegiatan dan revisi program kegiatan KKN Posdaya.
hhh
Adapun bentuk perencanaan kegiatan,langkah-langkah dan revisi program adalah sebagai berikut.
No TEMA JENIS KEGIATAN SASARAN TUJUAN REVISI PROGRAM
1 Pendidikan Keaksaraan Fungsional (KF) Masyarakat Desa Mangaran yang buta aksara Khususnya di Dusun Mangaran Selatan. Menuntaskan buta aksara dikalangan masyarakat


PAUD
Anak-anak usia Dini Di Dusun Mangaran Selatan.
2 Ekonomi Pembuatan Lampion Berkarakter
Pembuatan makanan Nimki
3 Kesehatan Posyandu Lansia
4 Lingkungan Hidup Kebun Bergizi
5 Keagamaan Remas

B. Pelaksanaan Program (Pembentukan)
1. Profil Lokasi KKN dan Profil Sasaran Posdaya yang dibentuk/dibina.
a) Nama posdaya dan logo
KKN kelompok V yang bertempat di Desa Mangaran memberikan nama POSDAYA ANGGREK. Nama Posdaya Anggrek mempunyai filosofi yang berarti bunga anggrek adalah bunga yang tahan lama. Keindahan dan kekuatannya tidak dihasilkan dalam waktu singkat. Untuk mendapatkan sesuatu yang indah perlu perjuanan dan kerja keras. Jadi filosofi bunga anggrek dari nama posdaya yang kami ambil adalah kerja keras dan ilmu yang kelompok kami abdikan langsung ke masyarakat desa mangaran dapat berguna dan dapat memberi manfaat bagi masyarakat dan dapat dikembangkan setelah program KKN ini berakhir.


b) Lokasi/alamat
Lokasi KKN Kelompok V bertempat di Desa Mangaran Jl. Raya Mangaran No. 01 Kecamatan Mangaran Kabupaten Situbondo Telp (0338) 5510900.
c) Susunan Pengurus
Penanggung Jawab : 1. Kepala desa mangaran
2. Ketua TP
Ketua : Achmad Sholeh Nur Hidayat
Sekretaris : Nurul Aisyah
Bendahara : Sri Windaningrum
Bidang Pendidikan : Winda Novelasari
Hadi Purnomo
Ayu Indriawati
Bidang Kesehatan : Linda Novianti
Dian Novita
Desy Wulansari
Bidang Ekonomi :Titik Rusdayanti
Dewi Elisa
Sofia Riza Nur Halila
Dodik Setiawan
Bidang Lingkungan : Siti Hatija
Kristina Dewi
Junaidi
Bidang Keagaaman : Imam Ghozali
Mei Wahyuni
Siti Aisyah





d) Perencanaan program: Kesehatan, Pendidikan, wirausaha dan Lingkungan hidup.
1. Bidang Pendidikan
 Keaksaraan Fungsional (KF)
 Pada tanggal 15 Mei 2015 berkunjung ke rumah tutor KF untuk membicarakan masalah program KF dan meminta data warga yang akan mengikuti KF.
 Pada tanggal 16 Mei 2015 terpetakan penduduk yang tergolong buta aksara dan adanya tempat untuk melaksanakan KF.
 Pada tanggal 18 Mei 2015 berkunjung ke rumah warga yang akan mengikuti KF dan menentukan Jadwal pelaksanaan KF.
 Pada tanggal 19 Mei 2015 melaksanakan kegiatan KF bersama warga KF dan mengenalkan huruf abjad dari A – Z pada pertemuan I
 Pada tanggal 20 Mei 2015 memberikan materi tentang menulis abjad dari A – Z serta berhitung mulai dari angka 1 – 20 pada pertemuan II
 Pada tanggal 24 Mei 2015 mengenalkan huruf konsonan dan vocal Pada pertemuan III
 Pada tanggal 28 Mei 2015 memberi materi membaca satu suku kata pada pertemuan IV
 Pada tanggal 31 Mei 2015 menjelaskan materi dua suku kata pada pertemuan V
 Pada tanggal 3 Juni 2015 Pelatihan tanda tangan pada warga mangaran yang mengikuti KF di pertemuan VI
 Pada tanggal 6 Juni 2015 melakukan evaluasi hasil belajar KF (Ulangan) pertemuan VII
 Pada tanggal 12 Juni 2015 pembagian cinderamata pada anggota KF

 PAUD
 Pada Tanggal 29 April 2015 melakukan observasi dan perkenalan ke PAUD fajar ulum di Dusun mangaran selatan
 Pada Tanggal 22 Mei 2015 Mensosialisasi mengenai makanan sehat dan hidup sehat
 Pada Tanggal 29 Juni 2015 Meningkatkan kesadaran hidup sehat yaitu kebersihan gigi untuk PAUD
 Pada Tanggal 5 Mei 2015 Meningkatkan kesadaran hidup sehat yaitu kebersihan kuku dan cuci tangan untuk PAUD
 Pada Tanggal 8 Juni 2015 Melatih tari untuk persiapan haflah
 Pada Tanggal 9 Juni 2015 Melatih tari untuk persiapan haflah ke II
 Pada Tanggal 10 Juni 2015 Melatih tari untuk persiapan haflh ke III
 Pada Tanggal 11 Juni2015 Melatih tari untuk persiapan haflah ke IV
 Pada Tanggal 12 Juni2015 Melatih tari untuk persiapan haflah ke V
 Pada Tanggal 14 Juni 2015 Pementasan tari

2. Bidang Kesehatan
 Pada tangal 4 Mei melaksanakan observasi di Posyandu Anggrek II Dusun Mangaran selatan RT 02/RW 11, dalam kegiatan observasi tersebut kami membantu menimbang balita
 Pada Tanggal 11 Mei 2015 melaksanakan sosialisai program yang akan dilaksanakan KKN Tematik posdaya kelompok Anggrek dalam kegiatan Posyandu untuk Balita dan Lansia
 Pada tanggal 12 Mei melaksanakan Posyandu di Melati I di dusun krajan RT 01/ RW 09 di rumah B. Rahma selaku ketua Kader Posyandu.
 Tanggal 13 Mei 2015 melaksanakan posyandu di Mawar dusun barat pasar RT 01/RW 06 di rumah B. Haerana selaku Ketua kader Posyandu.
 Pada tanggal 15 Mei 2015 melaksanakan posyandu di Melati II dusun Krajan RT 02/RW 10 di rumah B. Yuniarti/Agus Salim Selaku ketua Posyandu.
 Pada tanggal 16 Mei 2015 melakukan pembuatan kartu kunjungan dan stiker untuk posyandu lansia.
 Pada Tanggal 11 Juni 2015 melaksanakan Posyandu Lansia dan memberikan stiker di Posyandu Mawar Dusun Barat Pasar RT 01/RW 06 di rumah B. Haerana.
 Pada tanggal 11 memberikan kartu kunjungan dan stiker di tiap posyandu yang belum melaksanakan posyandu lansia.

3. Bidang Ekonomi
 Program ekonomi diawali dengan observasi tentang kegiatan ekonomi yang ada di desa Mangaran. Observasi yang utama dilakukan kepada ibu-ibu PKK desa Mangaran. Setelah diadakan kegiatan observasi kami menyimpulkan bahwa kreativitas ibu-ibu PKK sudah ada tapi perlu ditingkatkan lagi guna meningkatkan pendapatan masyarakat desa Mangaran khususnya para keluarga-keluarga yang ada di desa Mangaran.
 Kegiatan kedua adalah sosialisasi program yaitu sosialisasi tentang penyuluhan/pelatihan lampion benang dan penyuluhan pembuatan makanan nimki. Selesai kegiatan sosialisasi kami kordinator ekonomi beserta anggota KKN menemui pengurus PKK untuk konfirmasi tempat dan waktu untuk kegiatan pembuatan lampion benang.
 Setelah waktu dan tempat disepakati , kegiatan selanjutnya yaitu menyiapkan bahan-bahan pembuatan lampion benang.
 Tahap selanjutnya adalah praktek langsung pembuatan lampion berkarakter kepada ibu-ibu PKK.
 Hasil dari pembuatan lampion benang karya ibu-ibu dipamerkan di alun-alun sebagai produk unggulan dari desa Mangaran.
 Program kedua dari program ekonomi adalah pembuatan makanan ringan nimki.
 Proses penyuluhan/pelatihan makanan ringan nimki sama halnya perencanaan/pelatihan pembuatan lampion berkarakter.
 Proses selanjutnya dari penyiapan bahan hingga proses praktik langsung sama dengan pembuatan lampion benang.

4. Bidang Lingkungan Hidup
Kondisi pekarangan di pedesaan pada umumnya luas dan belum dimanfaatkan secara optimal. Hal ini dikarenakan masyarakat pedesaan kurang peduli dan kurang memahami tentang pemanfaatan lahan pekarangan kosong secara optimal. Hal ini juga terjadi di Desa Mangaran. Di Desa Mangaran masih banyak lahan kosong di pekarangan yang belum dimanfaatkan. Jika masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan kosong secara optimal dengan menanam tanaman hortikultura maka dapat memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga serta berpeluang meningkatkan penghasilan rumah tangga.
Berdasarkan kondisi tersebut, kami selaku mahasiswa KKN-T POSDAYA Universitas Abdurachman Saleh Situbondo yang ditempatkan di Desa Mangaran Kecamatan Kabupaten Situbondo akan mengadakan kegiatan Kebun Bergizi dengan memanfaatkan lahan kosong yang ada dipekarangan rumah. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan masyarakat bisa memanfaatkan lahan kosong pekarangan secara optimal. Berikut adalah jadwal perencanaan program lingkungan hidup :

Bidang / Macam Kegiatan Sasaran yang Telah Dicapai Waktu Sumber Daya
Tempat Pelaksanaan
Lingkungan Hidup
• Melaksanakan kerja bakti di lingkungan Kantor Desa



• Observasi lahan di dusun 1,2,3,4,5 dan 6



• Kerja bakti bersama Perangkat Desa di Makam



• Observasi lahan di Balai Desa



• Observasi lahan di Dusun Mangaran Selatan



• Pembuatan dan pengajuan proposal ke Dinas Pertanian

• Sosialisi program kerja Lingkungan Hidup



• Melakukan konfirmasi tentang jadwal pelaksanaan kegiatan Kebun Bergizi

• Penanaman benih holtikultura di persemaian


• Konfirmasi dan persiapan pengolahan lahan di Dusun Mangaran Selatan


• Pengolahan lahan di Dusun Mangaran Selatan


• Pengajuan permohonan bibit ke BPK3

• Meninjau perkembangan bibit tanaman hortikultura



• Meninjau Perkembangan tanaman hortikultura dan Kebun Bergizi



• Observasi lahan untuk perlombaan Kebun bergizi tingkat Kecamatan


• Pengolahan lahan dan penanaman tanaman hortikultura



• Penanaman bibit di dusun Mangaran Selatan RT 02 RW 11



• Penanaman benih dipolibeg



• Pemindahan bibit ke polybag



• Observasi dan konfirmasi lahan untuk Kebun Bergizi

• Pengolahan lahan untuk Kebun Bergizi

• Meninjau perkembangan Kebun Bergizi


• Meninjau perkembangan Kebun Bergizi

• Meninjau perkembangan Kebun Bergizi
Desa Mangaran melakukan kegiatan Kerja Bakti 1 bulan 1 kali













Sebelumnya lahan milik Desa Mangaran di tanami tanaman ubi/ketela pohon,sekarang di berakan



24 April 2015



25 April 2015



30 April 2015



1 Mei 2015



2 Mei 2015




9 Mei 2015


11 Mei 2015




12 Mei 2015



14 Mei 2015



15 Mei 2015




17 Mei 2015



18 Mei 2015


18-19 Mei 2015



22 Mei 2015




23 Mei 2015



24 Mei 2015




24 Mei 2015




24 Mei 2015



29 Mei 2015



30 Mei 2015


31 Mei 2015


2 Juni 2015



6 Juni 2015


9 Juni 2015
Perangkat Desa,PKK
,Mahasiswa KKN

Mahasiswa KKN dan Bpk Kadus Saiful Abidin

Perangkat Desa dan Mahasiswa KKN


Mahasiswa KKN


Mahasiswa KKN dan Bpk Kadus Saiful Abidin

Mahasiswa KKN

Perangkat Desa,PKK,Mahasiswa KKN dan warga

Mahasiswa KKN


Mahasiswa KKN


Mahasiswa KKN



Mahasiswa KKN dan warga


Mahasiswa KKN

Mahasiswa KKN



Mahasiswa KKN



PKK,warga Dan Mahasiswa KKN

Mahasiswa KKN dan warga



Mahasiswa KKN



Mahasiswa KKN


Mahasiswa KKN


Mahasiswa KKN

Mahasiswa KKN dan warga

Mahasiswa KKN


Mahasiswa KKN

Mahasiswa KKN
Kantor Desa Mangaran



Desa Mangaran




Desa Mangaran




Kantor Desa Mangaran


Dusun Mangaran Selatan


Posko KKN


Kantor Desa Mangaran



Dusun Mangaran Selatan

Posko KKN Kantor Desa Mangaran

Dusun Mangaran Selatan


Dusun Mangaran Selatan

Jl. Karang Asem


Dusun Mangaran Selatan dan Posko KKN

Dusun Mangaran Selatan dan Posko KKN

Dusun Karang Kenik


Dusun Karang Kenik



Dusun Mangaran Selatan RT 02 RW 11

Posko KKN kantor Desa Mangaran

Posko KKN kantor Desa Mangaran

Dusun Barat Pasar

Dusun Barat Pasar

Dusun Mangaran Selatan

Dusun Karang Kenik

Dusun Barat Pasar

5. Bidang Pendidikan Keagamaan
 Tanggal24 April 2015Melaksanakan Observasi ke dusun mangaran selatan RT 2 RW 11.
 Tanggal02 mei 2015 Sosialisasi tentang organisasi remas dengan Mahasiswa KKN.
 Tanggal02 mei 2015Observasi mendatangi masjid dengan Mahasiswa KKN dan Bpk Kadus.
 Tanggal04 Mei 2015 koordinasi tentang organisasi dan kegiatan remas bersama Ust.basit dan koordinator remas.
 Tanggal13 mei 2015Melaksanakan Kifaya.
 Tanggal14 Mei 2015Membersihkan masjid untuk persiapan solat jum’at yang dilaksanakan setiap malam jum’at.
 Tanggal 21 Mei 2015,Kegiatan Khotmil Khotmil Qur’an yang dilaksanakan setiap malam jum’a jam 19.30.
 Tanggal 25 Mei 2015,1 dan 8 juni 2015,Melaksanakan kegiata muslimat (manakib) setiap malam selasa warga dusun mangaran selatan.
 Tanggal 28 Mei 2015 ,4 dan 11 juni 2015,Khotmil qu’an dan membrsihkan mesjid.
 Tanggal 30 mei 2015,Isro’ mi’roj nabi Mohammad SAW
e) Sasaran Binaan
Khalayak sasaran merupakan suatu penggerak terkait dengan 4 tujuan pokok pelakasanaan KKN Tematik Posdaya di desa Dawuhan mangli adalah Anak usia 7-10 tahun di Desa Dawuhan mangli serta berbagai perangkat desa dan tokoh masyarakat desa Dawuhan mangli dengan tujuan mencapai sasaran sebagai berikut :
1. Bidang Pendidikan
 Pendidikan Keangsaraan fungsioanal (KF)
Sasaran utama di bidang pendidikan khususnya Keaksaraan fungsional (KF) di Dusun Mangaran selatan RT:02 RW:11 Desa Mangaran adalah ibu –ibu lansia yang tidak pernah mengenyam pendidikan dasar sebelumnya.
 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Sasaran dibidang pendididkan adalah Anak usia Paud serta Anak usia Taman Kanak-Kanak di Dusun Mangaran selatan RT:02 Rw:11 Desa Mangaran.
2. Bidang Kesehatan
Sasaran utama di bidang Kesehatan Desa Mangaran adalah warga yang ada di Dusun Mangaran Selatan RT:02 RW:11 (Posyandu Anggrek II), Dusun Barat Pasar RT:01 RW:06 (Posyandu Mawar), Dusun Krajan RT:02 RW:10 (Posyandu Melati II), Dusun Barat Kecamatan RT:02 RW:02 (Posyandu Wijaya Kusuma), Dusun Krajan RT:01 RW:09 (Posyandu Melati I) Khususnya Balita, ibu hamil dan Lansia.
3. Bidang Ekonomi
Sasaran utama dibidang ekonomi Desa Mangaran adalah warga atau ibu-ibu yang tidak memiliki pekerjaan atau usaha serta ibu-ibu PKK yang sudah aktif dibidangnya di Dusun Barat Pasar RT:01 RW:06 Desa Mangaran.
4. Bidang Lingkungan Hidup
Sasaran di bidang Lingkungan Hidup adalah Warga tiga Dusun yang berada di desa Mangaran yaitu Dusun Mangaran Selatan RT:02 RW:11, Dusun Utara Pasar RT:01 RW:07 dan Dusun Barat Pasar RT:01 RW:11 yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani serta masyarakat yang sadar akan kebersihan lingkungan.
5. Bidang Pendidikan Keagamaan
Sasaran dibidang pendididkan keagamaan adalah Remaja Masjid (Remas) yang ada di Dusun Mangaran Selatan RT:02 Rw:11 Desa Mangaran.


2. Realisasi perencanaan kegiatan KKN Posdaya (Pembentukan Posdaya dan Pendampingan Posdaya)
a) Pelaksanaan kegiatan :
 Bidang Pendidikan
1) Pendidikan Keaksaraan Funsioanal (KF)
Keaksaraan Fungsional (KF) merupakan salah satu program kontinuitas yang dilaksanakan secara rutin. Tujuan dari KF ini adalah untuk memberikan pengetahuan kepada orang – orang yang tidak mengenal huruf – huruf atau tidak bias membaca dan menulis. KF ini pun tidak dipungut biaya sama sekali (gratis). Kegiatan ini mencakup kedalam aspek bidang pendidikan dan bidang social
Pelaksanaan KF ini dilaksanakan seminggu 2x pada malam hari di Dusun Mangaran Selatan tempatnya di paud fajar ulum. Dalam pelaksanaannya program ini mendapat respon yang sangat bagus dan antusias yang tinggi dari warga yang berada disekitar paud fajar ulum, akan tetapi banyak juga yang bertempat tinggal jauh dari posko Tim KKN.
Kegiatan ini adalah kegiatan wajib yang harus dilaksanakan oleh mahasiswa yang sedang melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata– Pengabdian Pada Masyarakat (PPM-KKN) Universitas Abdurachman Saleh Situbondo Tahun 2015, karena selain program wajib dari kampus Universitas Abdurachman Saleh Situbondo program ini juga program Pemerintahan kabupaten Situbondo. Di kalangan mahasiswa kegiatan ini dikenal dengan istilah Keaksaraan Fungsional (KF). Kegiatan ini bertujuan untuk mencerdaskan warga Desa Mangaran Selatan dari kebuta aksaraan sehingga masyarakat setempat mampu untuk membaca dan menulis.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Posdaya kelompok 5 “Anggrek” mulai melaksanakan kegiatan tersebut pada tanggal 15 Mei 2015 yang diawali dengan perkenalan kepada masyarakat tentang program keaksaraan fungsional dan peserta Keaksaraan Fungsional, acara keaksaraan fungsional dilaksanakan di RT 02 RW 11 Dusun Mangaran Selatan sesuai dengan intruksi Kepala Desa Dawuhan karena di Dusun Mangaran Selatan masyarakatnya banyak yang tidak sekolah dan tidak mengerti baca tulis dengan demikian telah kami putuskan bahwa program penuntasan buta aksara difokuskan di Dusun Mangaran pada pukul 19.00 WIB sampai dengan pukul 21.00 WIB.
Tabel 2.1 Tutor untuk pengajaran Keaksaraan Fungsional (KF)
No TEMPAT TUTOR PESERTA
1 Dusun Mangaran Selatan RT 02 RW 11 1. Khairun Nikmah
2. Kiky 1. Ibu Artima
2. Ibu Asmi
3. Ibu Eddi
4. Ibu Rawati
5. Ibu Busrina
6. Ibu Hatija
7. Ibu Juhriya
8. Ibu Juman
9. Ibu Mariyana
10. Ibu Sa’diya
11. Ibu Salama
12. Ibu sitti
13. Ibu sri Misawati
14. Ibu Suwerni


Adapula jadwal Keaksaraan Fungsional (KF) yang dilaksanakan dab disajikan dalam bentuk table di bawah ini :

Bidang / Macam Kegiatan Sasaran yang Telah Dicapai

Waktu Sumber Daya Tempat
Pelaksanaan %
Realisasi Program Ket.
Pendidikan
• Berkunjung ke rumah tutor KF untuk membicarakan masalah program KF
• Terpetakan penduduk yang tergolong buta aksara dan adanya tempat untuk melaksanakan KF
• Berkunjung ke rumah warga yang akan mengikuti KF dan menentukan Jadwal pelaksanaan KF
• Untuk meminta data warga yang akan mengikuti KF
• Untuk membantu dalam program kegiatan KF


• Bersilahturahmi dan penentuan jadwal KF



15 Mei 2015





16 Mei 2015







18 Mei 2015












Masyarakat



Kepala Dusun




Ibu warga Mangaran




Desa Mangaran


Rumah Kepala Dusun



Kantor Desa Mangaran





34%



34%





34%









Bidang / Macam Kegiatan Sasaran yang Telah Dicapai

Waktu Sumber Daya Tempat
Pelaksanaan %
Realisasi Program Ket.
• Membentuk kelompok belajar
• Banyaknya alokasi waktu yang digunakan dalam proses belajar mengajar KF
• Melaksanakan kegiatan KF bersama warga KF dan mengenalkan huruf abjad dari A – Z pada pertemuan I

• Banyaknya alokasi waktu yang digunakan dalam proses belajar mengajar KF
• Memberikan materi tentang menulis abjad dari A – Z serta berhitung mulai dari angka 1 – 20 pada pertemuan II




• Mengenalkan huruf konsonan dan vocal Pada pertemuan III


• Memberi materi membaca satu suku kata pada pertemuan IV

• Menjelaskan materi dua suku kata pada pertemuan V
• Menjelaskan materi dua suku kata pertemuan VI
• Pelatihan tanda tangan pertemuan VII
• Evaluasi hasil belajar KF (Ulangan) pertemuan VII
• Pembagian cinderamata pada anggota KF





Warga mangaran yang mengikuti KF











Warga dan mahasiswa KKN












Warga dan mahasiswa KKN



Warga dan mahasiswa KKN



Warga dan mahasiswa KKN



Warga dan mahasiswa KKN



Warga dan mahasiswa KKN

Warga dan mahasiswa KKN



Warga dan mahasiswa KKN






19 Mei 2015
















20 Mei 2015













24 Mei 2015






28 Mei 2015



31 Mei 2015




3 Juni 2015



5 Juni 2015


7 Juni 2015




12 Juni 2015




Warga dan mahasiswa KKN









Warga dan mahasiswa KKN







Warga dan mahasiswa KKN


Warga dan mahasiswa KKN

Warga dan mahasiswa KKN

Warga dan mahasiswa KKN

Warga dan mahasiswa KKN
Warga dan mahasiswa KKN

Warga dan mahasiswa KKN




Paud Fajar Ulum










Paud Fajar Ulum








Paud Fajar Ulum



Paud Fajar Ulum


Paud Fajar Ulum


Paud Fajar Ulum


Paud Fajar Ulum

Paud Fajar Ulum


Paud Fajar Ulum




54%











54%









54%




55%



55%



57%



57%


57%



100%



2) Pendidikan PAUD
PAUD merupakan suatu upaya pembinaan yang ditunjukkan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Tujuan dari Pendidikan anak usia dini ini adalah untuk memberikan pengetahuan kepada siswa – siswi untuk membentuk karakter dalam menjaga kebersihan diri sendiri dan keberanian. Kegiatan ini mencakup kedalam aspek bidang pendidikan dan bidang kesehatan.
Pelaksanaan Pendidikan ini dilaksanakan seminggu 1x pada hari jum’at di Dusun Mangaran Selatan tempatnya di PAUD fajar ulum. Kegiatan ini adalah kegiatan wajib yang harus dilaksanakan oleh mahasiswa yang sedang melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata – Pengabdian Pada Masyarakat (PPM-KKN) Universitas Abdurachman Saleh Situbondo Tahun 2015.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Posdaya kelompok 5 “Anggrek” mulai melaksanakan kegiatan tersebut pada tanggal 29 April 2015 yang diawali dengan observasi atau perkenalan kepada guru dan siswa PAUD Fajar Ulum dilaksanakan di RT 02 RW 11 Dusun Mangaran Selatan karena di dusun tersebut hanya ada satu Pendidikan anak Usia Dini yaitu Pendidikan anak Usia Dini Fajar Ulum.
Tabel 2.12 Tutor untuk Pendidikan Anak Usia Dini
No TEMPAT TUTOR SISWA
1 Dusun Mangaran Selatan RT 02 RW 11 1. Kiky 1. Ahmad tri A
2. Moh.Ikmal Fauzi
3. Moh Alfa R
4. Ach Andi P
5. Rifki Febrian
6. Hilmi Pratama
7. Feriyanto
8. Lailatul jannah
9. Salsabila Fitria
10. Ifana Dwi A


Adapula jadwal Pendidikan anak usia dini yang dilaksanakan dan disajikan dalam bentuk table di bawah ini :
Bidang / Macam Kegiatan Sasaran yang Telah Dicapai Waktu Sumber Daya Tempat
Pelaksanaan %
Realisasi Program Ket.
Pendidikan
• Berkunjung observasi ke PAUD fajar ulum


• Mensosialisasi mengenai makanan sehat dan hidup sehat


• Meningkatkan kesadaran hidup sehat yaitu kebersihan gigi untuk PAUD



• Meningkatkan kesadaran hidup sehat yaitu kebersihan kuku dan cuci tangan untuk PA
• Berkenalan pada guru dan siswa PAUD

• Dapat memilih makanan sehat dan hidup sehat


• Dapat menjaga kebersihan dan kesehatan kuku

• Dapat menjaga kebersihan dan kesehatan kuku
29 April 2015




22 Mei 2015



29 Mei 2015







5 juni 2015


Mahasiswa KKN



Guru, siswa dan Mahasiswa KKN


siswa dan Mahasiswa KKN




siswa dan Mahasiswa KKN

PAUD fajar ulum



Paud Fajar Ulum




Paud Fajar Ulum





Paud Fajar Ulum




33%




77%





77%







77%




Bidang / Macam Kegiatan Sasaran yang Telah Dicapai
Waktu Sumber Daya Tempat
Pelaksanaan %
Realisasi Program Ket.

• Melatih tari untuk persiapan haflah



• Melatih tari untuk persiapan haflah pertemuan ke II


• Melatih tari untuk persiapan haflah pertemuan ke III



• Melatih tari untuk persiapan haflah pertemuan ke IV


• Melatih tari untuk persiapan haflah pertemuan ke V


• Pementasan Hafla
• Dapat melakukan gerakan Tari

• Dapat melakukan gerakan Tari

• Dapat melakukan gerakan Tari

• Dapat melakukan gerakan Tari

• Dapat melakukan gerakan Tari

• Dapat menampilkan tari

8 Juni 2015


9 Juni 2015



10 Juni 2015



11 Juni 2015



12 Juni 2015



14 Juni 2015
Siswa dan mahasiswa KKN


Siswa dan mahasiswa KKN


Siswa dan mahasiswa KKN


Siswa dan mahasiswa KKN


Siswa dan mahasiswa KKN


Masyarakat, Siswa dan mahasiswa KKN

Paud fajar Ulum




Paud fajar Ulum


Paud Fajar Ulum



Paud Fajar Ulum



Paud Fajar Ulum



Di halaman Paud Fajar Ulum

30%




55%





85%





100%



100%




100%

 Bidang Kesehatan
1. Kesehatan Balita
Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui kesehatan dari balita serta tingkat partisipasi balita mulai dari usia 0-7 tahun. Kegiatan ini berlangsung di beberapa posyandu di Desa mangaran, diantaranya Posyandu Anggrek II Dusun Mangaran Selatan RT02/RW 11 bertempat di rumah ibu Sumo, Posyandu Melati I Dusun Krajan RT 01/RW 09 bertempat dirumah ibu Rahma, Posyandu Mawar Dusun Barat Pasar RT 01/RW 06 bertempat di rumah ibu Haerana dan Posyandu Melati II Dusun Krajan RT 02 RW 10 bertempat dirumah ibu Yuniarti/ Agus Samin.
Pelaksanaan kegiatan Posyandu balita dilaksanakan dalam 1 minggu sekali di tempat yang berbeda. kegiatan yang dilaksanakan di tiap posyandu, melakukan penimbangan dan pemberian makanan bergizi untuk menunjang peningkatan gizi balita.
2. Kesehatan Manula/Lansia
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan meningkatkan partisipasi bagi Lansia tentang pentingya kesehatan. Kegiatan ini berlangsung dalam 1 minggu sekali di beberapa posyandu yang sudah tercantum di atas. Di setiap posyandu telah disediakan kartu kunjungan kesehatan dan stiker yang disediakan oleh KKN tematik Posdaya “Anggrek”, dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan kesehatan Lansia. Dengan adanya kartu kontrol ini petugas kesehatan juga lebih mudah untuk memeberikan pengobatan kepada Lansia. Selain itu juga dapat mengetahui tingkat partisipasi Lansia.
Kegiatan yang dilaksanakan diposyandu lansia diantaranya melakukan pemeriksaan dan memberikan obat terhadap penyakit yang diderita setiap lansia. Kebanyakan lansia mengalami penyakit sesak nafas, sering pusing, asam urat, batuk dan lain – lain.
 Bidang Ekonomi
1. Melaksanakan observasi di Desa Mangaran tentang kegiatan ekonomi yang dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 29 April 2015 pada ketua dan onggota PKK.
2. Mensosialisasikan program ekonomi yang akan dilakukan yaitu tentang pelaksanaan penyuluhan/pelatihan keterampilan lampion berkarakter dan pembuatan makanan Nimki. Pelaksanaan sosialisasi kepada warga masyarakat dilaksanakan pada hari Senin tanggal 11 Mei 2015 di Balai desa Mangaran.
3. Mengomunikasikan jadwal dan tempat untuk melaksanakan pelatihan pembuatan lampion kepada ibu-ibu desa mangaran khususnya anggota PKK.
4. Kegiatan selanjutnya yang dilakukan adalah menyediakan bahan yang akan digunakan seperti benang jahit 3 buah, 1 lem rajawali, 1 buah balon, kain flanel sesuai dengan karakter yang dibuat.
5. Sebelum pelaksanaan praktek, kordinator beserta anggota KKN Kelompok V desa Mangaran melaksanakan praktek sendiri agar saat demonstransi dapat menjelaskan kepada peserta pelatihan dengan lancar dan hasil dari karaya anak KKN bisa dijadiakan contoh acuan pembuatan lampion berkarakter.
6. Pelaksanakan penyuluhan/ pelatihan pembuatan lampion dilaksanakan pada hari Selasa, 5 Mei 2015 yang bertempat di Balai Desa Mangaran. Anggota dari pelaksanaan praktek adalah ibu-ibu PKK.
7. Hasil dari praktek selanjutnya di pamerkan di laun-alun sebagai produk unggulan desa Mangaran pada tanggal 6 Mei 2015-16 Mei 2015.
8. Proses pembuatan lampion berkarakter tidak berhenti waktu praktek dibalai desa saja tetapi berlajut di dusun Barat Pasar di rumah ibu Hosnol Hotima RT 01/RW 07. Dimana didusun tersebut merupakan tempat pelaksanaan kegiatan ekomi desa Mangaran. Pelaksanaan praktek pada tanggal 6 Mei 2015 dan 7 Mei 2015.
9. Program kedua dari kegiatan bidang ekonomi yaitu pembuatan makanan ringan nimki.
10. Mengomunikasikan jadwal dan tempat untuk melaksanakan pelatihan pembuatan nimki.
11. Kegiatan selanjutnya yang dilakukan adalah menyediakan bahan yang akan digunakan seperti tepung terigu 200gram, minyak goreng 0,5 kilogram, wijen 1 ons, ketumbar halus 2 sendok makanan, garam secukupnya, penggilingan kue, gunting, pisau, kompor, wajan.
12. Sebelum pelaksanaan praktek, kordinator beserta anggota KKN Kelompok V desa Mangaran melaksanakan praktek sendiri agar saat demonstransi dapat menjelaskan kepada peserta pelatihan dengan lancar.
13. Pelaksanakan penyuluhan/ pelatihan pembuatan nimki dilaksanakan pada hari Jumat, 22 Mei 2015 yang bertempat di Balai Desa Mangaran. Anggota dari pelaksanaan praktek adalah ibu-ibu PKK.
14. Proses pembuatan makanan ringan nimki tidak berhenti waktu praktek dibalai desa saja tetapi berlajut di dusun Barat Pasar di rumah ibu Hosnol Hotima RT 01/RW 07. Dimana didusun tersebut merupakan tempat pelaksanaan kegiatan ekonomi desa Mangaran. Pelaksanaan praktek pada tanggal 6 Mei 2015.




Bidang / Macam Kegiatan

Sasaran yang Telah Dicapai

Waktu Sumber Daya Tempat
Pelaksanaan %
Realisasi Program
Ekonomi
• Pelatihan kreatifitas warga dengan membuat lampion benang berkarakter

• Pelatihan tataboga











• Pelatihan kreatifitas warga dengan membuat lampion benang berkarakter

• Pelatihan tataboga



• Penambahan wawasan dan keterampilan membuat lampion berkarakter

• Penambahan ketrampilan dan wawasan bagi kader dan warga di dalam pembuatan makanan kecil “nimki”.

• Penambahan wawasan dan keterampilan membuat lampion berkarakter

• Penambahan ketrampilan dan wawasan bagi kader
05 Mei 2015
09.00-11.00






16 Mei 2015





18 Mei 2015




6 Juni 2015








7 Juni 2015

Kader PKK, Mahasiswa, alat dan bahan lampion
Kader PKK, Mahasiswa, alat dan bahan nimki



Ibu warga Mangaran




Ibu warga Mangaran

Balai Desa Mangaran



balai desa mangaran


Kantor Desa Mangaran


ibu Husnol Hotima



ibu Husnol Hotima

33%





50%




34%



100%





100%






Bidang / Macam Kegiatan
Sasaran yang Telah Dicapai

Waktu
Sumber Daya
Tempat
Pelaksanaan
%
Realisasi Program
dan warga di dalam pembuatan makanan kecil “nimki”.


 Bidang Lingkungan Hidup
Adapun perencanaan di bidang lingkungan hidup dengan program Kebun Bergizi yang telah terealisasi selama pelaksanaan KKN Tematik Posdaya di Desa Mangaran Mulai tanggal 23 April 2015 adalah sebagai berikut :
Bidang / Macam Kegiatan Perencanaan yang Telah Terealisasi Waktu Sumber Daya
Tempat Pelaksanaan
Lingkungan Hidup

• Melaksanakan kerja bakti di lingkungan Kantor Desa

• Observasi lahan di dusun 1,2,3,4,5 dan 6


• Kerja bakti bersama Perangkat Desa di Makam

• Observasi lahan di Balai Desa


• Observasi lahan di Dusun Mangaran Selatan




• Sosialisi program kerja Lingkungan Hidup


• Melakukan konfirmasi tentang jadwal pelaksanaan kegiatan Kebun Bergizi

• Penanaman benih holtikultura di persemaian

• Konfirmasi dan persiapan pengolahan lahan di Dusun Mangaran Selatan
• Pengolahan lahan di Dusun Mangaran Selatan


• Meninjau perkembangan bibit tanaman hortikultura




• Meninjau Perkembangan tanaman hortikultura dan Kebun Bergizi

• Observasi lahan untuk perlombaan Kebun bergizi tingkat Kecamatan
• Pengolahan lahan dan penanaman tanaman hortikultura


• Penanaman bibit di dusun Mangaran Selatan RT 02 RW 11

• Penanaman benih dipolibeg





• Pemindahan bibit ke polybag



• Observasi lahan di Dusun Barat Pasar


• Pengolahan lahan di Dusun Barat Pasar


• Penanaman Benih Tanaman Hortikultura Ke Polybag

• Terciptanya lingkungan Kantor Desa Mangaran yang bersih
• Mengetahui lahan kosong pekarangan warga
• Mengetahui lahan milik Kantor Desa Mangaran
• Mengetahui lahan kosong pekarangan warga di dusun Mangaran Selatan
• Masyarakat,PKK dan perangkat Desa mengetahui tentang program yang di rencanakan mahasiswa KKN
• Mengetahui lahan kosong pekarangan warga

• Tersedianya benih yang akan di tanam di lahan warga
• Kesiapan kegiatan pengolahan lahan di Dusun Mangaran Selatan
• Terbentuknya Kebun Bergizi dan pengoptimalan lahan kosong pekarangan warga
• Mengetahui perkembangan bibit tanaman hortikultura
• Mengetahui perkembangan tanaman hortikultura dan Kebun Bergizi
• Mengetahui kondisi lahan yang akan menjadi Kebun Bergizi
• Terbentuknya Kebun Bergizi dan pengoptimalan lahan kosong pekarangan
• Terbentuknya Kebun Bergizi dan pengoptimalan lahan kosong pekarangan

• Tersedia bibit tanaman hortikultura untuk Kebun Bergizi

• Tersedianya bibit untuk pengolahan lahan di Dusun Barat Pasar
• Mengetahui lahan kosong pekarangan yang akan dijadikan Kebun Bergizi
• Terbentuknya Kebun Bergizi dan pengoptimalan lahan

• Terbentuknya kebun bergizi dan pengoptimalan lahan di Dusun Barat Pasar



24 April 2015



25 April 2015



30 April 2015


1 Mei 2015





2 Mei 2015








11 Mei 2015





12 Mei 2015



14 Mei 2015




15 Mei 2015






17 Mei 2015







18 - 19Mei 2015



22 Mei 2015






23 Mei 2015




24 Mei 2015








24 Mei 2015




29 Mei 2015




30 Mei 2015





31 Mei 2015




5 Juni 2015



Perangkat Desa,PKK
,Mahasiswa KKN

Mahasiswa KKN dan Bpk Kadus Saiful Abidin

Perangkat Desa dan Mahasiswa KKN

Mahasiswa KKN


Mahasiswa KKN dan Bpk Kadus Saiful Abidin





Perangkat Desa,PKK
,Mahasiswa KKN dan Masyarakt





Mahasiswa KKN dan Bpk Kadus Saiful Abidin

Mahasiswa KKN



Mahasiswa KKN




Mahasiswa KKN ,Bpk Kadus Saiful Abidin dan Warga




Mahasiswa KKN



Mahasiswa KKN





Mahasiswa KKN dan Warga


Mahasiswa KKN,PKK dan Warga



Mahasiswa KKN dan warga





Mahasiswa KKN



Mahasiswa KKN




Mahasiswa KKN dan warga





Mahasiswa KKN dan warga



Mahasiswa KKN dan warga


Kantor Desa Mangaran




Desa Mangaran



Desa Mangaran


Kantor Desa Mangaran



Dusun Mangaran Selatan







Kantor Desa Mangaran








Dusun Mangaran Selatan


Kantor Desa Mangaran



Dusun Mangaran
Selatan



Dusun Mangaran Selatan






Kantor Desa Mangaran



Dusun Mangaran
Selatan dan




Kantor Desa Mangaran
Dusun Karang Kenik


Dusun Karang Kenik



Dusun Mangaran Selatan




Posko KKN Kantor Desa Mangaran


Posko KKN di Kantor Desa Mangaran



Dusun Barat Pasar





Dusun Barat Pasar



Dusun Barat

 Bidang Keagamaan
No Program Kerja Tanggal Pelaksanaan Hasil Kualitatif Hasil Kuantitatif

1. Melaksanakan Kifayah 13 mei 2015 Masyarakat Mangaran mampu melaksanakan kifayah dengan baik 1 kali pertemuan dengan masayarakat sebanyak 30 orang
2. Pengajian muslimat 25 mei ,1 dan 8 juni, 2015 Masyarakat mampu menjalin hubungan emosionall antar warga n warga mampu meningkatkan siritual dengan baik
3 kali pertemuan dengan masyarakat Mangaran sebanyak 25
3. Khotmil qur’an 28 mei , 4,11 juni 2015 Para pemuda dan pemudi mampu membaca al-quran dengan baik dan fasih Dilaksanakan sebanyak 3 kali dengan peserta sebanyak 15 orang.
4. Isra’ mi’raj 30 juni 2015 Masyarakat mampu menyadari pentingnya hari-hari besar dalam islam. Dilaksanakan sebanyak 1 kali latihan dengan masyarakat sebanyak 50 orang.

Kegitan KKN Interhtrasi-Interkoneksi Tematik Posdaya khususnya dalam bidang keagamaan tahun akademik 2014/2015 Universitas Abdurrachman Saleh Situbondo ini dilakukan didusun Mangaran selatan, yang didiami oleh kelompok V (lima).
Tahap awal dalam kegiatan ini adalah melakukan observasi terhadap lingkungan atau lokasi KKN dengan cara mencari berbagai informasi yang ada di lokasi dan mencari mengenai hal-hal apa yang dirasa kurang dan diperlukan di lokasi tersebut,
Setelah dilakukannya sebuah observasi yang dirasa cukup maka hal yang harus dilakukan ialah pembuatan atau perancangan program kerja, yang kemudian dijadikan sebagai landasan dasar program yang akan dilaksankan di lokasi KKN . Rogram kerja khususs bidang kegamaan yang telah dirancang tersebut kemudian diteliti oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) untuk disetujui dan kemudian dilaksanakan.
b) Kaderisasi/Agen Pembaharuan (Posdaya)
1. Bidang Pendidikan
Ketua : Saiful Abidin
Sekretaris : Siti Sakinah
Bendahara : Khairul Nikmah
2. Bidang kesehatan
Ketua : Sumo
Sekretaris : Suaiba
Bendahara : Yuli
Anggota : Yunita Pratiwi P.D
3. Bidang Ekonomi
Ketua : Hosnol hotima
Sekretaris : Halila
Bendahara : Nur Aziza
Anggota : Haerana
Usman
4. Bidang Lingkungan hidup
Ketua : Asmiyati
Sekretaris : Rumiyati
Bendahara : Salama
5. Bidang Keagamaan
Ketua : Wahyu
Sekretaris : Lutfi
Bendahara : Johan
3. Faktor pendukung dan Penghambat Pelaksanaan program
a. Bidang Pendidikan
1. Pendidikan Keaksaraan Fungsioanal (KF)
 Faktor Pendukung
Faktor yang mendukung pelaksanaan program Keaksaran Fungsional (KF) di Dusun Mangaran Selatan RT:02 RW:11 Desa Mangaran yaitu :
1) Persetujuan dari pihak perangkat Desa yaitu Kepala Dusun yang memperbolehkan melaksanakan program Keaksaran Fungsional (KF) di Dusun tersebut.
2) Tempat pelaksanaan program Keaksaran Fungsional (KF) yang telah tersedia dan layak untuk ditempati sebagai proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yaitu di PAUD Fajar Ulum.
3) Antusias dan semangat warga yang mendukung terlaksananya program Keaksaran Fungsional (KF).
 Faktor penghambat
Faktor yang mempengaruhi atau menghambat pelaksanaan program Keaksaran Fungsional (KF) di Dusun Mangaran Selatan RT:02 RW:11 Desa Mangaran yaitu :
1) Penglihatan warga yang mengikuti Program Keaksaran Fungsional (KF) yang kurang jelas karena faktor usia.
2) Jadwal yang sudah ditetapkan terhambat oleh kegiatan yang ada di Dusun tersebut, misalnya pengajian, hotmil Qur’an, hajatan, dan lain-lain.
3) Rasa ingin tahu warga sekitar yang tidak mengikuti program Keaksaran Fungsional (KF) sehingga membuat kegaduhan di luar kelas dan proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) menjadi sedikit terganggu.
2. Pendidikan PAUD
 Faktor pendukung
Faktor yang mendukung pelaksanaan PAUD Fajar Ulum di Dusun Mangaran Selatan RT:02 RW:11 yaitu :
1) Tempat yang sudah tersedia dan layak untuk ditempati.
2) Siswa dan guru yang sangat antusias dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM).
3) Dukungan dan partisipasi orang tua yang sangat membantu pelaksanaan program PAUD.
 Faktor penghambat
Faktor yang mempengaruhi atau menghambat pelaksanaan program PAUD Fajar Ulum di Dusun Mangaran Selatan RT:02 RW:11 yaitu :
1) Fasilitas yang kurang memadai.
2) Siwa yang cenderung asyik bermain sendiri dan jarang memperhatikan guru yang sedang menjelaskan, sehingga kondisi kelas ramai.
b. Bidang Kesehatan
 Faktor pendukung
Faktor yang mendukung pelaksanaan program Posyandu Balita dan Lansia di beberapa Dusun Desa Mangaran yaitu :
1) Persetujuan dari pihak perangkat desa yaitu Kepala Dusun dan Kader di setiap Posyandu serta petugas kesehatan.
2) Tersediannya tempat Posyandu sehingga kegiatan tersebut mudah dijangkau oleh warga.
3) Antusias warga dalam mengikuti program posyandu khususnya Posyandu Balita.

 Faktor penghambat
Faktor yang mempengaruhi atau menghambat pelaksanaan program Posyandu Balita dan Lansia di beberapa Dusun Desa Mangaran yaitu :
1) Kurangnya antusias warga khususnya Posyandu Lansia yang ada di semua Posyandu yang ada di Desa Mangaran.
2) Jadwal pelaksanaan dan sosialisasi Posyandu yang di tetapkan oleh Kader Posyandu dan petugas kesehatan belum menjangkau keseluruh warga khususnya Posyandu Lansia.
3) Kedatangan warga tidak tepat waktu sesuai jadwal yang telah ditetapkan oleh kader Posyandu sehingga memerlukan waktu yang cukup lama dalam pelaksanaanya.
3. Bidang Ekonomi
 Faktor pendukung
Faktor yang mendukung pelaksanaan program pelatihan/penyuluhan pembuatan “Lampion Berkarakter” dan pembuatan makanan ringan “ Nimki”di Dusun Barat Pasar RT:02 RW:07 Desa Mangaran yaitu :
1) Persetujuan dari pihak perangkat Desa yaitu Kepala Dusun dan Kader PKK yang memperbolehkan melaksanakan program pelatihan/penyuluhan pembuatan “Lampion Berkarakter” dan pembuatan makanan ringan “ Nimki”.
2) Adanya kegiatan pameran yang dipamerkan di Alun-alun Situbondo tanggal 6-16 Mei 2015 sebagai produk unggulan Desa Mangaran.
3) Program tersebut sebagai produk pengganti produk musiman “ladrang sukun”.
 Faktor penghambat
Faktor yang mempengaruhi atau menghambat pelaksanaan program pelatihan/penyuluhan pembuatan “Lampion Berkarakter” dan pembuatan makanan ringan “ Nimki”di Dusun Barat Pasar RT:02 RW:07 Desa Mangaran yaitu :
1) Kurangnya kreatifitas warga menjadi kendala atau penghambat dalam pelaksanaan program tersebut.
2) Penyesuaian jadwal pelaksanaan terbentur dengan kegiatan warga yang mempunyai kesibukan.
3) Kurangnya antusias warga terhadap program pelatihan/penyuluhan pembuatan “Lampion Berkarakter” dan pembuatan makanan ringan “ Nimki”.
4. Bidang Lingkungan Hidup
 Faktor pendukung
Faktor-faktor yang mendukung pelaksanaan program lingkungan hidup kebun bergizi sebagai berikut :
 Sebagian besar lahan pekarangan di Desa Mangaran masih kosong dan belum di manfaatkan secara optimal
 Faktor penghambat
Faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan program lingkungan hidup kebun bergizi sebagai berikut :
 Kurangnya kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan lahan kosong pekarangan.
 Kurangnya antusiasme masyarakat Desa Mangaran untuk melakukan kebun bergizi

5. Bidang Pendidikan Keagamaan
 Faktor pendukung
Beberapa faktor pendukung yang menunjang berjalannya lancarnya program kami antara lain:
1) Sarana prasarana yang memadai ,sehingga memerlancar pelaksanaan program kami.
2) Lingkungan masyarakat yang mendukung ,sehingga yang membuat kami melaksanakan program juga bersemanagat.
 Faktor penghambat
Tidak banyak faktor penghambat dalam program kami dalam bidang keagamaan ,karena memang masyarakat dusun Mangaran selatan yang kami tempati untuk pelaksanaan program dalam bidang keagamaan memiliki jiwa siritual yang kuat , faktor penghambat antara lain
1) Terkendala dengan agenda atau program yang laen.
2) Dan derbatas oleh waktu

C. Hasil Kegiatan dan Temuan
1. Hasil Kegiatan
 Bidang Pendidikan
a. Keaksaraan Fungsional (KF)
Hasil yang didapatkan selama mahasiswa KKN tematik posdaya melaksanakan program keaksaraan Fungsional (KF) yaitu :
1) Warga yang telah mengikuti program keaksaraan Fungsional (KF) sudah bisa menulis dan membaca dan dikategorikan berhasil.
2) Warga yang mengikuti program keaksaraan Fungsional (KF) telah mengenal huruf dari A – Z dan dikategorikan berhasil.
3) Warga yang telah mengikuti program keaksaraan Fungsional (KF) sudah bisa membuat tanda tangan tanpa harus cap jempol dan dikategorikan berhasil.
b. PAUD
Hasil yang didapatkan selama mahasiswa KKN tematik posdaya melaksanakan program PAUD yaitu :
1) Siswa mampu dan bisa menerapkan hidup sehat.
2) Siswa bisa menggosok gigi dengan benar.
3) Siswa bisa memotong kuku dan mencuci tangan dengan benar.
 Bidang Kesehatan
Hasil yang didapatkan selama mahasiswa KKN tematik posdaya melaksanakan program POSYANDU yaitu :
1) Tingkat partisipasi lansia sudah dapat dikatakan berhasil.
2) Tingkat partisipasi ibu hamil sudah dapat dikatakan berhasil.
3) Tingkat partisipasi balita sudah dapat dikatakann berhasil

 Bidang Ekonomi
Hasil yang didapatkan selama mahasiswa KKN tematik posdaya melaksanakan program ekonomi yaitu :
1) Kreativitas masyarakat yang meningkat.
2) Masyarakat dapat meningkatkan pendapatan keluarga.

 Bidang Lingkungan Hidup
Hasil yang didapatkan selama mahasiswa KKN tematik posdaya melaksanakan program lingkungan hidup yaitu :
1) Mengurangi pengurangan pembelanjaan keluarga dengan adanya kebun bergizi.
2) Lingkungan menjadi hidup dengan adanya berbagai macam tumbuhan.
3) Pemanfaatan lahan kosong yang tidak terpakai.
 Bidang Keagamaan
Hasil yang didapatkan selama mahasiswa KKN tematik posdaya melaksanakan program keagamaan yaitu :
1) Memperdalam ilmu agama dengan adanya khotmil al – qu’an
2) Partisipasi remaja yang sangat antusias mengikuti program remas.
3) Meningkatkan kegiatan aflah yang sudah terlaksana setiap tahunnya.
2. Temuan
 Bidang Pendidikan
 Pendidikan Keanksaraan Fungsional (KF)
1) Kesulitan dalam mencari tutor dan warga yang akan mengikuti KF.
2) Struktur organisasi KF yang masih belum jelas ketika di awal pelaksanaan program.
 Pendidikan PAUD
Sarana dan prasarana yang ada tidak mendukung program pelaksanaan sehingga menghambat jalannya proses belajar mengajar.
 Bidang Kesehatan
1) Kesulitan dalam mendata lansia diawal program pelaksanaan.
2) Tidak adanya kartu kunjungan dan stiker dari petugas kesehatan sebagai bukti bahwa telah ikut serta dalam Posyandu.
 Bidang Ekonomi
Tidak terlaksananya pembuatan ladrang labu karena masyarakat tidak tertarik.
 Bidang Lingkungan Hidup
1) Masyarakat kurang perduli terhadap tumbuhan yang ditanam sehingga banyak yang dimakan ayam.
2) Tidak mendapatkan ijin dari Kepala Desa untuk Lahan yang dijadikan lahan pioner.
 Bidang Pendidikan Keagamaan
Tidak adanya kerjasama antara pihak panitia dengan coordinator keagamaan



BAB 3. KESIMPULAN, REKOMENDASI DAN TINDAK LANJUT

A. Kesimpulan
B. Rekomendasi Tindak Lanjut Program




































DAFTAR PUSTAKA



Read More →

MAKALAH COLLABORATIF LEARNING (KERJASAMA)

1 komentar
COLLABORATIVE LEARNING
(KERJASAMA)

Oleh Kelompok 2:
1. Winda Novelasari (201110182)
2. Mahfudha YN (201110184)
3. Riko Susanto (201110185)


PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ABDURACHMAN SALEH
SITUBONDO
2014




Kata Pengantar
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat, hidayah, dan bimbingannya dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Makalah berjudul “PEMBELAJARAN COLLABORATIVE LEARNING (KERJASAMA)”. Penulisan makalah ini dimaksudkan guna memenuhi tugas kuliah studi Perencanaan Pembelajaran SD.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis telah mendapatkan bantuan dan bimbingan secara langsung maupun tidak langsung dari Bapak dosen mata kuliah Perencanaan Pembelajaran SD yaitu Dodik Eko Yulianto, S.Pd, rekan serta kakak tercinta. Untuk itu, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu. Semoga Tuhan memberikan anugerah yang setimpal.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Selanjutnya, penulis berharap semoga makalah ini dapat memberi tambahan pengetahuan dan memberikan manfaat bagi kita semua.



Situbondo, 9 Mei 2014

Penulis



BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Guru sebagai agen perubahan dalam proses pembelajaran dituntut untuk memiliki kompetensi pedagogik. Tercapainya kompetensi ini ditunjukkan dengan beberapa indikator antara lain menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip belajar yang mendidik serta mengembangkan kurikulum terkait mata pelajaran yang diampunya. Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi seorang pendidik untuk memahami konsep-konsep pembelajaran. Konsep pembelajaran yang diketahui oleh guru selanjutnya digunakan sebagai landasan untuk mengembangkan proses pembelajaran mereka.
Penggunakan metode ceramah dalam praktek pembelajaran di kelas, sering kali tak dapat dihindari oleh para guru. Selain itu, penggunaan metode diskusi kelompok dalam pembelajaran saat ini pun banyak di implementasikan oleh para guru. Diskusi kelompok dalam hal ini guru mengkondisikan para siswa untuk bekerja sama menyelesaikan suatu tugas yang disebut Collaborative Learning. Strategi ini digunakan oleh para guru dengan maksud meningkatkan keaktifan belajar para siswa melalui kerja sama di dalam kelas. Dengan kata lain penggunaan kerja sama (collaborative learning) dalam pembelajaran dapat dikatakan pula sebagai sarana penerapan nilai kerjasama atau kekompakan dalam pendidikan karakter dan budaya bangsa.

1.2 Rumusan masalah
1.2.1 Apa definisi dari pembelajaran Collaborative Learning?
1.2.2 Bagaimana penerapan Collaborative Learning di dalam kelas?
1.2.3 Apa saja macam-macam bentuk Collaborative Learning?
1.2.4 Apa kelebihan dan kekurangan Collaborative Learning?



1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui definisi pembelajaran Collaborative Learning
1.3.2 Untuk memahami penerapan Collaborative Leraning di dalam kelas
1.3.3 Mengetahui dan memahami macam-macam bentuk Collaborative Leraning
1.3.4 Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan pembelajaran Collaborative Learning

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Definisi Pembelajaran Collaborative Learning
Menurut pendapat Keohane kolaborasi yaitu bekerja bersama dengan yang lain, kerja sama, bekerja dalam begian satu team, dan di dalamnya bercampur didalam satu kelompok menuju keberhasilan bersama. Sedangkan Gokhale mendefinisikan bahwa “collaborative learning” mengacu pada metode pengajaran di mana siswa dalam satu kelompok yang bervariasi tingkat kecakapannya bekerjasama dalam kelompok kecil yang mengarah pada tujuan bersama.
Dari pengertian kolaborasi yang diungkapkan oleh berbagai ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian Collaborative Learning (belajar kolaborasi) adalah suatu strategi pembelajaran di mana para siswa dengan variasi yang bertingkat bekerjasama dalam kelompok kecil kearah satu tujuan. Dalam kelompok ini para siswa saling membantu antara satu dengan yang lain. Jadi situasi belajar kolaboratif ada unsur ketergantungan yang positif untuk mencapai kesuksesan.
Belajar kolaboratif menuntut adanya modifikasi tujuan pembelajaran dari yang semula sekedar penyampaian informasi menjadi konstruksi pengetahuan oleh individu melalui belajar kelompok. Dalam belajar kolaboratif, tidak ada perbedaan tugas untuk masing-masing individu, melainkan tugas itu milik bersama dan diselesikan secara bersama tanpa membedakan percakapan belajar siswa.
Dari uraian diatas, kita bisa mengetahui hal yang ditekankan dalam belajar kolaboratif yaitu bagaimana “cara agar siswa dalam aktivitas belajar kelompok terjadi adanya kerjasama, interaksi, dan pertukaran informasi”.
 Strategi pembelajaran kolaboratif didukung oleh adanya tiga teori, yaitu:

1. Teori Kognitif

Teori ini berkaitan dengan terjadinya pertukaran konsep antar anggota kelompok pada pembelajaran kolaboratif sehingga dalam suatu kelompok akan terjadi proses transformasi ilmu pengetahuan pada setiap anggota.


2. Teori Konstruktivisme Sosial

Pada teori ini terlihat adanya interaksi sosial antar anggota yang akan membantu perkembangan individu dan meningkatkan sikap saling menghormati pendapat anggota semua kelompok.
3. Teori Motivasi

Teori ini teraplikasi dalam struktur pembelajaran kolaboratif karena pembelajaran tersebut akan memberikan lingkungan yang kondusif bagi siswa untuk belajar, menambah keberanian anggota untuk memberi pendapat dan menciptakan situasi saling memerlukan pada seluruh anggota dalam kelompok.
2.2 Penerapan Collaborative Learning Di Dalam Kelas
Salah satu upaya untuk mewujudkan suasana belajar yang memungkinkan peserta didik berkomunikasi secara baik adalah dengan menggunakan metode pembelajaran Collaborative Learning (pembelajaran kerjasama). Collaborative Learning merupakan salah satu bentuk dari pembelajaran Active Learning yang lebih menekankan kepada aktifitas dan kreatifitas siswa. Metode ini meliputi berbagai cara untuk membuat peserta didik aktif sejak awal melalui aktifitas-aktifitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu yang singkat membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran.
Realisasi collaborative learning dalam pembelajaran adalah peserta didik dikelompokkan menjadi beberapa kelompok yang berbeda. Setiap kelompok diberi tugas untuk menyelesaikan suatu masalah dengan cara bekerja sama dengan seluruh anggota kelompoknya. Setiap anggota diharuskan aktif dalam menyelesaikan masalah tersebut.
Guru memonitor jalannya kerjasama dan memberikan bimbingan jika menemukan kelompok yang kurang baik dalam bekerja sama. Pembelajaran dengan metode ini dilakukan dalam beberapa kali pertemuan, tergantung pada seberapa sulit masalah yang harus dipecahkan. Durasi pertemuan antar anggota kelompok maupun antar kelompok dalam bekerja sama akan memberikan pengaruh terhadap keberhasilan metode ini. Pertemuan kelompok yang teratur dalam jangka waktu tertentu akan dapat meningkatkan kesuksesan dibanding kelompok yang hanya bekerja sama kadang-kadang saja. Pembelajaran ini dirancang untuk memaksimalkan keberhasilan belajar secara kolaboratif dan untuk mengasah keterampilan kerjasama siswa dalam berinteraksi dengan teman-temannya, dan juga untuk meminimalkan kegagalan belajar yang dilakukan secara sendiri-diri.
Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif.
1) Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.
2) Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis..
3) Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
4) Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
5) Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.
6) Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.
7) Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
8) Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.
Tiga bentuk pola pengelompokkan Collaborative Learning Di Dalam Kelas , yaitu:
a. The two-person group (tutoring)
Yaitu satu orang ditugasi mengajar yang lain. Jadi, siswa dapat berperan sebagai pengajar yang disebut tutor, sedangkan siswa yang lain disebut tutee.

b. The small group (interactive recitation; discussion)
Adalah cara penyampaian bahan pelajaran di mana guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan masalah.
c. Small or large group (recitation)
Yaitu suatu metode mengajar dan pengajar memberikan tugas untuk mempelajari sesuatu kepada pembelajar, kemudian melaporkan hasilnya. Tugas-tugas yang diberikan oleh pengajar dapat dilaksanakan di rumah, sekolah, perpustakaan, laboratorium, atau di tempat lain.
Ada lima elemen dasar yang dibutuhkan agar kerjasama dalam proses pembelajaran dapat sukses, yaitu :
a. Possitive interdependence (saling ketergantungan positif)
Yaitu siswa harus percaya bahwa mereka adalah proses belajar bersama dan mereka peduli pada belajar siswa yang lain. Dalam pembelajaran ini setiap siswa harus merasa bahwa ia bergantung secara positif dan terikat dengan antarsesama anggota kelompoknya dengan tanggung jawab menguasai bahan pelajaran dan memastikan bahwa semua anggota kelompoknya pun menguasainya. Mereka merasa tidak akan sukses bila siswa lain juga tidak sukses.
b. Verbal, face to face interaction (interaksi langsung antarsiswa)
Yaitu hasil belajar yang terbaik dapat diperoleh dengan adanya komunikasi verbal antarsiswa yang didukung oleh saling ketergantungan positif. Siswa harus saling berhadapan dan saling membantu dalam pencapaian tujuan belajar. Siswa juga harus menjelaskan, berargumen, elaborasi, dan terikat terhadap apa yang mereka pelajari sekarang untuk mengikat apa yang mereka pelajari sebelumnya.
c. Individual accountability (pertanggungjawaban individu)
Yaitu setiap kelompok harus realis bahwa mereka harus belajar. Agar dalam suatu kelompok siswa dapat menyumbang, mendukung dan membantu satu sama lain, setiap siswa dituntut harus menguasai materi yang dijadikan pokok bahasan. Dengan demikian setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari pokok bahasan dan bertanggung jawab pula terhadap hasil belajar kelompok.
d. Social skills (keterampilan berkolaborasi)
Yaitu keterampilan sosial siswa sangat penting dalam pembelajaran. Siswa dituntut mempunyai keterampilan berkolaborasi, sehingga dalam kelompok tercipta interaksi yang dinamis untuk saling belajar dan membelajarkan sebagai bagian dari proses belajar kolaboratif. Siswa harus belajar dan diajar kepemimpian, komunikasi, kepercayaan, membangun dan keterampilan dalam memecahkan konflik.
e. Group processing (keefektifan proses kelompok)
Yaitu kelompok harus mampu menilai kebaikan apa yang mereka kerjakan secara bersama dan bagaimana mereka dapat melakukan secara lebih baik. Siswa memproses keefektifan kelompok belajarnya dengan cara menjelaskan tindakan mana yang dapat menyumbang belajar dan mana yang tidak serta membuat keputusan-keputusan tindakan yang dapat dilanjutkan atau yang perlu diubah.
2.3 Macam-Macam Bentuk Pembelajaran Collaborative Learning
Ada banyak macam pembelajaran kolaboratif yang pernah dikembangkan oleh para ahli, tetapi hanya sekitar sepuluh macam yang mendapatkan perhatian secara luas, yaitu:
1. Learning Together
Dalam metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-siswa yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.
2. Teams-Games-Tournament (TGT)
Setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok.
3. Group Investigation (GI)
Semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
4. Academic-Constructive Controversy (AC)
Setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.
5. Jigsaw Proscedure (JP)
Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda tentang suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.
6. Student Team Achievement Divisions (STAD)
Para siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling belajar dan membelajarkan sesamanya. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok.

7. Complex Instruction (CI)
Metode pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika dan pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para siswa yang sangat heterogen. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
8. Team Accelerated Instruction (TAI)
Bentuk pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/ kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap siswa mengerjakan soal-soal tahap berikutnya. Namun jika seorang siswa belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasarkan pada hasil belajar individual maupun kelompok.
9. Cooperative Learning Stuctures (CLS)
Dalam pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua siswa (berpasangan). Seorang siswa bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Bila jawaban tutee benar, ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua siswa yang saling berpasangan itu berganti peran.
10. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Model pembelajaran ini mirip dengan TAI. Sesuai namanya, model pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran ini, para siswa saling menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya.
2.4 Kelebihan dan Kekurangan Collaborative Learning
a. Kelebihan
• Siswa belajar bermusyawarah
• Siswa belajar menghargai pendapat orang lain
• Dapat mengembangkan cara berpikir kritis dan rasional
• Dapat memupuk rasa kerja sama
• Adanya persaingan yang sehat
b. Kelemahan
• Pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari pokok persoalan.
• Membutuhkan waktu cukup banyak.
• Adanya sifat-sifat pribadi yang ingin menonjolkan diri atau sebaliknya yang lemah merasa rendah diri dan selalu tergantung pada orang lain.
• Kebulatan atau kesimpulan bahan kadang sukar dicapai.

BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa collaborative learning merupakan salah satu strategi pembelejaran yang digunakan untuk meningkatkan hasil belajar. Dalam strategi tersebut lebih memfokuskan bagaimana memaksimalkan partisipasi dan keaktifan dalam pembelajaran serta bagaimana siswa dapat mengkonstruksi sendiri ilmu pengetahuan untuk menjadi miliknya. Dalam strategi ini, peran guru cenderung menjadi fasilitator, motivator, dan membimbing menemukan alternatif pemencahan bila terjadi siswa mengalami kesulitan belajar.
3.2 Saran
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, khususnya bagi para pendidik untuk bisa menerapkan pembelajaran Collaborative Learning di dalam kelas. Agar tercipta suasana yang menyenangkan dan menggembirakan bagi siswa.

Daftar Pustaka
Hastuti, Sri. 1996. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Bagian Proyek Penataran Guru Slip Setara D-III.
Parwoto. 2007. Strategi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan.
Smith, B. L., and MacGregor, J. T. (1992). "What is collaborative learning?" In Goodsell, A. S., Maher, M. R., and Tinto, V., Eds. (1992), Collaborative Learning: A Sourcebook for Higher Education. National Center on Postsecondary Teaching, Learning, & Assessment, Syracuse University.
Rockwood, H. S. III (1995a). "Cooperative and collaborative learning" The national teaching & learning forum, 4 (6), 8-9.




Read More →

NASKAH VIDEO PEMBELAJARAN

1 komentar
Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas III SD Semester II Pokok Bahasan Sumber Energi
Sub pokok Cara Berperilaku Hemat Energi
Dalam Kehidupan Sehari-hari


A. RASIOANAL
Manusia yang berkualitas merupakan suatu ujung tombak kemajuan dari suatu bangsa. Pendidikan yang berkualitas akan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan produktif. Hal tersebut mendorong suatu negara menjadi negara yang maju dan pesat dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi, sangat berpengaruh terhadap penyusunan dan implementasi strategi pembelajaran. Melalui kemajuan tersebut para guru dapat menggunakan berbagai media sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran (Sanjaya, 2006: 162). Keberhasilan dari pendidikan tidaklah luput dari peran serta kepala sekolah, guru, siswa dan semua anggota sekolah. Pendidikan mempunyai peran sangat penting dalam pembangunan suatu bangsa, keberhasilan pembangunan suatu bangsa sangatlah ditentukan oleh faktor sumber daya manusia (SDM) itu sendiri. Masalah pendidikan adalah suatu hal yang sangat berkaitan dengan hal tersebut yaitu tentang peran guru.
Peran guru akan sangat berpengaruh dalam membantu dan menentukan keberhasilan anak didiknya. Guru merupakan pelaku utama sebagai fasilitator penyelenggaraan proses pembelajaran. Tugas guru adalah menyampaikan materi pelajaran kepada siswa melalui komunikasi dalam proses belajar mengajar yang dilakukan di sekolah. Oleh karena itu, keberhasilan dari seorang guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa juga tergantung dari media pembelajaran yang digunakannya. Karena ketidaklancaran dari penggunaan media pembelajaran dapat membawa akibat yang tidak baik bagi pesan yang akan disampaikan oleh guru. Maka dari itu guru harus pandai dan kreatif dalam memilih media pembelajaran. Salah satu contoh media pembelajaran yang dapat menarik perhatian siswa adalah media video. Media video dapat digunakan unttuk menerangkan program-program formal yang sistematis yang dipakai sebagai bagian integral dari suatu pelajaran sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan yang lain. Bagi yang merencanakan dan memeproduksi media video yang baik harus mengetahui sifat-sifat khusus dan terampil dalam produksinya.
Dengan melihat pernyataan itu maka penggunaan variasi media pembelajaran dalam pembelajaran dirasa sangat penting digunakan guru untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Arshad (2011 :21-23) menuliskan ada beberapa hasil dari penelitian menunjukan dampak positif dari penggunaan media sebagai bagian integral pembelajaran di kelas atau sebagai cara utama pembelajaran langsung sebagai berikut:
1. Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku. Setiap siswa yang melihat atau mendengar melalui media menerima pesan yang sama.
2. Pembelajaran yang dilakukan oleh guru lebih menarik.
3. Pembelajaran menjadi lebih interaktif.
4. Banyaknya penggunaan media dalam pembelajaran membantu guru mempersingkat waktu dalam penyampaian pesan dan isi pembelajaran.
5. Kualitas hasil belajar dapat meningkat jika media yang digunakan dapat mengkomunikasikan elemen-elemen pengetahuan dengan baik.
6. Dapat meningkatkan sikap positif siswa.
7. Peran guru dapat berubah kearah yang lebih positif.
B. TUJUAN PRODUKSI
Produksi media video pembelajaran ini mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Dapat memberikan perangsang, pengalaman, dan persepsi yang sama khususnya dalam media video.
2. Dengan adanya media pembelajaran video sebagai alat bantu utama untuk menunjang keberhasilan mengajar dan mengembangkan metode-metode yang dipakainya dengan memanfaatkan daya guna media pembelajaran.
3. Menerapkan teknik-teknik pembuatan video pembelajaran dan menerapkannya dalam pembelajaran.
4. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalitas (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan).
5. Melatih siswa untuk lebih spesifik dalam menanggapi persoalan yang ada di dalam media video.

C. TUJUAN PEMBELAJARAN
• Standar Kompetensi :
Memahami arti penting hemat energi untuk masa depan
• Kompetensi Dasar :
Mengenal sumber energi di sekitar kita serta kegunaannya.
• Indikator :
Menyebutkan macam-macam sumber energi
Menyatakan pesan dalam bentuk tulisan
Menerapkan sikap perilaku hemat energi dalam kehidupan sehari hari
D. POSISI PENGGUNAAN
Media video ini digunakan pada proses pembelajaran Bahasa Indonesia Tema 7 yaitu tentang berperilaku hemat energi dalam kehidupan sehari-hari, dimana guru terlebih dahulu memnberi pengantar sebelum siswa menyaksikan video pembelajaran. Setelah selesai menyaksikan video pembelajaran, siswa diminta untuk menyampaikan pesan yang terkandung didalam video secara tulisan. Dan juga guru meminta kepada siswa untuk bisa menerapakan perilaku hemat energi didalam kehidupan sehari-hari.

E. SINOPSIS
Di suatu sekolah ada seorang guru yang bernama Jesica. Beliau mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 3. Selagi bu Jesica mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia, beliau juga merupakan wali kelas di kelas 3. Banyak anak-anak yang menyukai bu Jesica, karena sikapnya yang ramah dan menyayangi semua muridnya. Siswa dan siswi selalu mengikuti pelajaran bahasa Indonesia dengan tertib dan tenang. Bu Jesica memberikan materi tentang “Berperilaku Hemat Energi Dalam Kehidupan Sehari-hari”. Beliau menjelaskan pengertian energi dan arti penting energi di kehidupan sehari-hari. “Kita harus menghemat energi agar tidak cepat habis, dengan cara menggunakan energi sesuai dengan kebutuhan kita dan tidak berlebihan atau seperlunya saja, kata bu Jesica”. Bu Jesica memberikan beberapa contoh perilaku hemat energi dengan menggunakan gambar. Anak-anak sangat antusias mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia hingga akhir pembelajaran.

F. TREATMENT
Scene 01 : Pada awal program ditampilkan animasi sebagai opening yang diikuti dengan logo UNARS dan caption “Mempersembahkan Video Pembelajaran”.
Scene 02 : Dilanjutkan dengan caption “Berperilaku Hemat Energi Dalam Kehidupan Sehari-hari”.
Scene 03 : Caption “Untuk Siswa SD Kelas III”
Scene 04 : Caption “Selamat Menyaksikan”
Scene 05 : Lalu presenter berbicara sebagai pembukaan video yang menjelaskan garis besar isi video pembelajaran tersebut di taman.
Scene 06 : Selanjutnya memperlihatkan potongan-potongan shot yang pendek dari sumber energi.
Scene 07 : Disebuah sekolah dasar, tampak dari kejauhan sedang terjadi pembelajaran, setelah didekati rupanya seorang guru perempuan yang sedang asyik mengejar di kelas.
Scene 08 : Suasana di dalam kelas.
Scene 09 : Guru menjelaskan “Arti Penting Hemat Energi Di Kehidupan Sehari-hari”.
Scene 10 : Guru memberikan contoh macam-macam sumber energi pada murid dengan menggunakan media power point.
Scene 11 : Guru dan murid saling bertanya jawab mengenai perilaku hemat energi di dalam kehidupan sehari-hari.
Scene 12 : Murid bertanya pada guru tentang dampak apabila tidak hemat energy.
Scene 13 : Guru memberikan tugas sekolah, setelah itu membahas soal yang telah dikerjakan.
Scene 14 : Guru dan murid bersama-sama menutup pembelajaran dengan berdo’a.
Scene 15 : Di akhir program presenter mengajak pemirsa untuk menyimpulkan materi tentang berperilaku hemat energi didalam kehidupan sehari-hari disertai dengan caption.
Scene 16 : Selanjutnya presenter menutup program dan berharap dapat bertemu pada program yang lainnya.
Scene 17 : Caption kerabat kerja diiringi dengan musik (tulisan bergerak dari bawah ke atas).
Scene 18 : Caption sekian dan terima kasih diiringi dengan musik. 
G. GARIS-GARIS BESAR ISI PROGRAM MEDIA PEMBELAJARAN

No
Standar
Kompetensi
Kompetensi
Dasar
Indikator
Pokok
Bahasan
Sub Pokok Bahasan
Metode
Sumber Belajar
1. Memahai arti penting hemat energi untuk masa depan. Mengenal sumber energi di sekitar kita serta keguaan
nya. 1. Menyebutkan macam-macam sumber energi
2. Menyatakan pesan dalam bentuk tulisan.
3. Menerapakan sikap hemat energy didalam kehidupan sehari-hari Mengenal arti penting sumber energi. Berperilaku hemat energi didalam kehidupan sehari-hari. Tanya Jawab,
Ceramahdan dialog Buku Tematik kelas III


H. NASKAH
1. IDENTITAS NASKAH
a. Bidang Studi : Bahasa Indonesia
b. Kelas / semester : III (Tiga) / II (Dua)
c. Kompetensi dasar : Mengenal sumber energy di sekitar kita serta
kegunaannya.
d. Indikator Pembelajaran : 1. Menyebutkan macam- macam sumber energi.
2. Menyatakan pesan dalam bentuk tulisan.
3. Menerapkan sikap hemat energy didalam kehidupan sehari-hari
e. Penulis Naskah : 1. Winda Novelasari
2. Hadi Purnomo
3. Arjondi
f. Produser : 1. Winda Novelasari
2. Hadi Purnomo
3. Arjondi

g. Sutradara : 1. Winda Novelasari
2. Hadi Purnomo
3. Arjondi
h. Kameramen : Hdi Purnomo
i. Grafis : Winda Novelasrai
j. Ligthing : Arjondi
k. Meke UP : Mahfudha YN
l. Sound Enginer : Hadi Purnomo
m. Pelaku / Tellent
Narrator : Winda Novelasari
Guru : Mahfudha YN
Murid : Retno Uvi Arumdani, Winda Novelasari, Arjondi dan lain-lain



2. NASKAH VIDEO
Scene Visual Audio / Narasi




01 LS : Tampilkan animasi sebagai opening yang diikuti dengan logo UNARS dan caption “Mempersembahkan Video Pembelajaran”.
Life 1
Musik Pembuka :
Fade In: In-Up-Normal-Down




02 Fade InCU : Caption “Berperilaku Hemat Energi Dalam Kehidupan Sehari-hari”.
Fade Out
Musik :
Fade In : Up-Normal



03 Fade InCU : Caption “Untuk Siswa SD Kelas III”.
Fade Out

Musik
Normal



04 Fade InCU : Caption “SELAMAT MENYAKSIKAN”.
Fade Out

Musik :
Fade Out: Normal-Down-Out.




05 Fade InMS: Presenter berdiri di taman dekat pohon-pohonan

Fade Out
Adik-adik siswa-siswi yang saya banggakan, dalam video pembelajaran ini akan menayangkan film yang membahasa tentang “Cara Berperilaku Hemat Energi Didalam Kehidupan Sehari-hari”.
Setelah Menyaksikan video ini,adik-adik diharapkan dapat mengerti dan memahami tentang cara berperilaku hemat energi didalam kehidupan sehari-hari”.

Musik :
Fade In-Normal-Down






06 MS : memperlihatkan potongan-potongan shot yang pendek dari sumber energi.
Fade Out

Musik :
Fade In-Normal-Down





07 DissolveLS: Di sekolah guru sedang mengajar murid.
Fade Out

Musik :
Fade In-Up-Normal-Down



08 LS: Suasana di dalam kelas
Fade Out
Musik :
Fade In-Up-Normal-Down





09 Off Screen Voice (OSV): Guru menjelasakan arti penting berperilaku hemat energi.
LS: orang menyalakan lampu
LS: Mematikan televisI
MS: Menghidupkan kran air
Fade Out
Musik :
Fade In-Up-Normal-Down





10 DissolveLS: Caption “Memberi contoh hemat energi”.
MS: Mamatikan lampu ketika mau tidur
CU: Mematikan radio
LS: Mematikan kran air
Fade Out
Musik :
Smash




11 BlackCU: Guru dan murid bertanya jawab tentang sikap hemat energi.
LS: Gambar mobil
Fade Out

Musik:
Smash



12 LS: Dampak tidak hemat energi
Fade Out
Musik:
Fade In-Up-Normal-Down



13 DissolveLS: Pemberian Tugas
Fade Out

Musik:
Fade In-Normal-Down




14 DissolveLS: Menutup pelajaran dan berdo’a
Fade Out
Musik:
Fade In-Normal-Down




15 Fade InMS: Penyimpulan Materi
Fade Out

Adik-adik setelah kalian menyaksikan video ini, simpulkanlah hasil penayangan yang telah kalian tonton.

Musik:
Fade In-Normal-Down




16 Fade InMS: Presenter berdiri di taman dekat pohon-pohona.
Fade Out

Adik-adik siswa-siswi yang saya banggakan. Demikianlah tayangan video pembelajaran tentang berperilaku hemat energi didalam kehidupan sehari-hari. Semoga video ini bermanfaat bagi adik-adik semua, ssampai jumpa lagi di lain kesempatan.
Musik:
In – Up- Under
17 CutCU: Caption ”Kerabat Kerja dan Animasi”
Fade Out

Musik:
Fade In-Normal-Down
18 LS: Caption ”Sekian dan Terima Kasih”
Fade Out
Musik:
Fade In-Normal-Down


Read More →

RPP Tematik Kelas 1 Tema 2 (Kegemaranku) Subtema 1 Pembelajaran ke - 3

0 komentar
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )


Satuan Pendidikan : SDIT Nurul Anshar
Kelas / Semester : I / I
Tema / Topik : 2. Kegemaranku
Sub Tema : 1. Gemar berolahraga
Pembelajaran Ke : 3
Hari / Tanggal : Kamis / 4 September 2014
Alokasi Waktu : 5 x 35 menit


A. Kompetensi Inti
1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, perduli dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman dan guru.
3. Memahami pengetahuan factual dengan cara mengatur ( melihat, mendengar, membaca ) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya Makhluk Ciptaan Tuhan dan kegiatannya dan benda benda yang dijumpainya dirumah dan disekolah.
4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.

B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
Bahasa Indonesia
1.1 Menerima anugerah Tuhan Yang Maha Esa berupa bahasa Indonesia yang dikenal sebagai bahasa persatuan dan sarana belajar di tengah keberagaman bahasa daerah
2.3 Memiliki perilaku santun dan sikap kasih sayang melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah
2.5 Memiliki perilaku santun dan jujur dalam hal kegiatan dan bermain di lingkungan melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah
3.1 Mengenal teks deskriptif tentang anggota tubuh dan pancaindra, wujud dan sifat benda, serta peristiwa siang dan malam dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu pemahaman
4.1 Mengamati dan menirukan teks deskriptif tentang anggota tubuh dan pancaindra, wujud dan sifat benda, serta peristiwa siang dan malam secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu penyajian

Indikator
3.1.1 Mengamati teks deskriptif tentang anggota tubuh
4.1.1 Mempraktikkan teks deskriptif tentang anggota tubuh





Matematika
1.1 Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya
2.1 Menunjukkan perilaku patuh pada aturan dalam melakukan penjumlahan dan pengurangan sesuai prosedur/ aturan dengan memperhatikan nilai tempat puluhan dan satuan
2.2 Menunjukkan perilaku teliti dan peduli dengan menata benda-benda di sekitar ruang kelas berdasarkan dimensi (bangun datar, bangun ruang), beratnya, atau urutan kelompok terkecil sampai terbesar
3.2 Mengenal bilangan asli sampai 99 dengan menggunakan benda-benda yang ada di sekitar rumah, sekolah, atau tempat bermain
4.10 Membaca dan mendeskripsikan data pokok yang ditampilkan pada grafik konkrit dan piktograf

Indikator
3.2.1 Menghitung benda hingga 20
3.2.2 Menyebutkan bilangan 1 sampai dengan 20
3.2.3 Mengidentifikasi banyak benda berdasarkan gambar

PPKn
1.2 Menerima kebersamaan dalam keberagaman sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa di lingkungan rumah dan sekolah
2.1 Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru sebagai perwujudan nilai dan moral Pancasila
2.2 Menunjukkan perilaku patuh pada tata tertib dan aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan sekolah
2.3 Menunjukkan perilaku kebersamaan dalam keberagaman di rumah dan sekolah
3.2 Mengenal tata tertib dan aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan sekolah
4.2 Melaksanakan tata tertib di rumah dan sekolah

Indikator
3.2.1 Mengidentifikasi aturan sederhana di sekolah
4.2.1 Menunjukkan sikap tertib saat mengikuti kegiatan permainan di sekolah

PJOK
1.1 Menghargai tubuh dengan seluruh perangkat gerak dan kemampuannya sebagai anugerah Tuhan yang tidak ternilai
2.1 Menunjukkan perilaku percaya diri dalam melakukan berbagai aktivitas fisik dalam bentuk permainan
2.2 Menunjukkan perilaku santun kepada teman dan guru selama pembelajaran penjas
2.4 Menunjukkan kemauan bekerjasama dalam melakukan berbagai aktivitas fisik
2.5 Toleransi dan mau berbagi dengan teman lain dalam penggunaan peralatan dan kesempatan
2.6 Disiplin selama melakukan berbagai aktivitas fisik
2.7 Menerima kekalahan dan kemenangan dalam permainan
3.1 Mengetahui konsep gerak dasar lokomotor sesuai dengan dimensi anggota tubuh yang digunakan, arah, ruang gerak, hubungan, dan usaha, dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan atau tradisional
4.1 Mempraktikkan pola gerak dasar lokomotor sesuai dengan dimensi anggota tubuh yang digunakan, arah, ruang gerak, hubungan dan usaha, dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan atau tradisional

Indikator
3.1.1 Mengetahui dan memahami gerakan kepala, leher, pundak, tangan, pinggul dan kaki
4.1.1 Melakukan senam pemanasan secara sederhana

C. Tujuan Pembelajaran
1. Dengan menyimak, siswa mampu menyebutkan bagian-bagian tubuh yang terdapat dalam teks melalui permainan kuda bisik dengan percaya diri.
2. Dengan bertanya jawab siswa dapat menjelaskan cara bermain bulu tangkis dengan percaya diri.
3. Dengan membaca nyaring, siswa dapat menjawab pertanyaan dengan santun.
4. Dengan bertanya jawab siswa dapat mengidentifikasi aturan sederhana permainan sepak bola dengan santun.
5. Dengan bermain “kuda bisik” siswa dapat menunjukkan sikap tertib dengan disiplin.
6. Dengan mengamati gambar, siswa mampu membilang 1-20.
7. Dengan kerja kelompok siswa mampu mengidentifikasi jumlah siswa berdasarkan olahraga kesukaan dengan tepat

D. Materi
1. Membaca teks tentang olaharaga
2. Olahraga bulu tangkis, voli, lompat jauh dan sepak bola
3. Menghitung bilangan 1 sampai 99

E. Pendekatan & Metode
Pendekatan : Scientific (Mengamati. Mengomunikasikan, Menanya, Menalar, dan
Mengolah Informasi)
Strategi : Cooperative Learning ( discovery based learning )
Metode : Penugasan, Tanya jawab, diskusi, dan ceramah

F. Sumber dan Media
1. Buku siswa.
2. Lembar kerja di buku siswa.
3. Alat yang bisa dipakai untuk praktik bulutangkis.
4. Buku Guru / Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.-- Edisi Revisi Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014.





G. Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi Waktu
Pendahuluan 1. Mengajak siswa berdoa menurut agama keyakinan masing – masing (untuk mengawali kegiatan pembelajaran)
2. Melakukan komunikasi tentang kehadiran siswa
3. Guru menanyakan olahraga yang disukai oleh siswa

4. Menginformasikan tema yang akan dibelajarkan yaitu tentang Kegemaranku pembelajaran 3 dan tujuan pembelajaran 10 menit
Inti 1. Siswa menyimak guru membacakan teks pendek tentang bagian tubuh yang digunakan saat berolahraga. (mengolah informasi)
2. Siswa bertanya jawab seputar teks yang baru dibacakan. (menanya)
3. Guru menjelaskan cara bermain bulu tangkis secara
sederhana. (mengkomunikasikan)
4. Siswa membaca nyaring teks dengan bantuan guru lalu menjawab pertanyaan. (mengolah informasi)
5. Kemudian siswa menyebutkan kalimat tentang bagian-bagian tubuh yang terdapat dalam teks. (mengkomunikasikan)
6. Siswa mendengarkan aturan permainan “Kuda Bisik”. (mengumpulkan informasi)
7. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
• Siswa berbaris berbanjar ke belakang dalam
kelompok masing-masing. (mengolah informasi)
• Satu perwakilan siswa dari kelompok masing-masing berkumpul dan mendengarkan kalimat
yang dibacakan guru. Misalnya, “bulutangkis
menggerakkan tubuh”. (mengolah informasi)
• Setelah mendengar aba-aba dari guru, setiap
perwakilan siswa membisikkan kata-kata yang didengarnya dari guru kepada teman di barisan paling depan. (mengkomunikasikan)
• Kemudian siswa di barisan paling depan membisikkan kalimat tersebut kepada teman di
belakangnya dan seterusnya sampai kepada siswa
yang berada di barisan paling belakang. (mengkomunikasikan)
• Setelah selesai guru meminta siswa di bagian
paling belakang menyampaikan kalimat yang
didengarnya kepada guru. (mengkomunikasikan)
• Guru mencatat dan mengecek kebenaran jawaban
dan meneliti kesalahan penyampaian dengan
meminta siswa mengulang apa yang telah
dibisikkan pada teman. (mengkomunikasikan)
8. Guru memberikan apresiasi hasil kerja dan ketertiban masing-masing kelompok. (mengkomunikasikan)
9. Permainan diulang dengan guru membisikkan kalimat-kalimat lain yang berhubungan dengan teks. (mengamati)
10. Perwakilan kelompok harus dipilih secara bergilir.
11. Setelah waktu permainan habis siswa diminta
Menyampaikan perasaan dan pendapatnya mengenai kegiatan tersebut. (mengkomunikasikan)
12. Siswa melakukkan praktik permainan bulu tangkis. (mengolah informasi)
13. Siswa membaca nyaring teks dengan bantuan guru. (mengkomunikasikan)
14. Siswa bertanya jawab tentang isi teks. (menanya)
15. Siswa mengidentifikasi aturan sederhana permainan bola melalui diskusi, misalnya satu tim sepak bola terdiri dari 11 pemainan. (mengolah informasi)
16. Usai bermain bola siswa mendengarkan penjelasan guru tentang belajar menghitung bilangan 1-20. (mengolah informasi)
• Guru memilih tiga siswa berdasarkan olahraga kegemarannya. Misalnya, siswa pertama gemar sepak bola, siswa kedua gemar bulu tangkis, dan siswa ketiga gemar pencak silat. (mengumpulkan informasi)
• Siswa lainnya diminta untuk bergabung dengan salah satu dari ketiga siswa tersebut. (mengkomunikasikan)
• Siswa diminta menghitung jumlah anggota pada kelompoknya dengan bersuara. (mengkomunikasikan)
• Guru menuliskannya di papan tulis, misalnya sepak bola = 11 siswa, bulu tangkis = 13 siswa, dan pencak silat = 16 siswa. (mengkomunikasikan)
17. Permainan dapat diulang dengan kriteria yang berbeda, misalnya alat olahraga yang paling disukai atau warna baju sepak bola yang paling disukai, dan seterusnya. (mengumpulkan informasi)
18. Hal yang perlu diperhatikan adalah pembagian kelompok maksimal sebanyak tiga kelompok. (mengamati)
19. Lakukan permainan ini berulang kali sehingga siswa punya banyak pengalaman dalam menghitung bilangan lebih dari 10. (mengumpulkan informasi)
20. Untuk membantu siswa menghubungkan konsep bilangan dengan lambang bilangan, sebaiknya guru menuliskan lambang bilangan dari setiap jumlah anggota kelompok. (mengkomunikasikan)
21. Kegiatan ini diakhiri dengan meminta siswa mengerjakan latihan di buku siswa. (mengkomunikasikan) 150 menit
Penutup 1. Bersama – sama siswa membuat kesimpulan rangkuman hasil belajar selama sehari (komunikasi)
2. Bertanya jawab tentang materi yang telah dipelajari (untuk mengetahui hasil ketercapaian materi)
3. Melakukan penilaian
4. Mengajak siswa – siswa berdoa menurut keyakinan masing – masing untuk mengakhiri pembelajaran. 15 menit

H. Penilaian
1. Penilaian Sikap


2. Penilaian Pengetahuan
- Tes tertulis (lembar kerja di buku siswa)












3. Penilaian Keterampilan
Lembar Pengamatan Kegiatan Permainan Kuda Bisik




Situbondo, 4 September 2014
Mahasiswa / Praktikan



WINDA NOVELASARI
NPM. 201110182

Mengetahui,

Guru Pamong Dosen Pembimbing




Dra. RINDANG SARI VIDYA PRATIWI, S.pd
NIY. 045992012 NIS. NIS.360 010 173



Kepala Sekolah




HADI SUKOMULYONO, S.pd
NIP. 196990917 199308 1 001







Read More →

RPP Tematik Kelas 1 Tema 2 (Kegemaranku) Pembelajaran ke - 1

0 komentar
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )


Satuan Pendidikan : SDIT Nurul Anshar
Kelas / Semester : I / I
Tema / Topik : 2. Kegemaranku
Sub Tema : 1. Gemar Berolahraga
Pembelajaran : 1
Pertemuan : 1
Alokasi Waktu : 5 x 35 menit


A. Kompetensi Inti
1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, perduli dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman dan guru.
3. Memahami pengetahuan factual dengan cara mengatur ( melihat, mendengar, membaca ) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya Makhluk Ciptaan Tuhan dan kegiatannya dan benda benda yang dijumpainya dirumah dan disekolah.
4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.

B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
Bahasa Indonesia
1.1 Menerima anugerah Tuhan Yang Maha Esa berupa bahasa Indonesia yang dikenal sebagai bahasa persatuan dan sarana belajar di tengah keberagaman bahasa daerah
2.3 Memiliki perilaku santun dan sikap kasih sayang melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah
2.4 Memiliki perilaku santun dan jujur dalam hal kegiatan dan bermain di lingkungan melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah
3.2 Mengenal teks petunjuk/arahan tentang perawatan tubuh serta pemeliharaan kesehatan dan kebugaran tubuh dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu pemahaman.
4.2 Mempraktikan teks arahan/petunjuk tentang merawat tubuh serta kesehatan dan kebugaran tubuh secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu penyajian.

Indikator
3.2.1 Menjelaskan tentang teks petunjuk pemeliharaan kebugaran tubuh
4.2.1 Membaca teks petunjuk tentang merawat kebugaran tubuh

SBDP
1.1 Merasakan keindahan alam sebagai salah satu tanda-tanda kekuasaan Tuhan
2.1 Menunjukkan rasa percaya diri untuk berlatih mengekspresikan diri dalam mengolah karya seni
3.1 Mengenal cara dan hasil karya seni ekspresi
4.1 Menggambar ekspresi dengan mengolah garis, warna dan bentuk berdasarkan hasil pengamatan di lingkungan sekitar

Indikator
3.1.1 Mengidentifikasi gambar sebagai karya seni ekspresi
4.1.1 Menggambar ekspresi berdasarkan hasil pengamatan lembar kerja di dalam buku siswa

C. Tujuan Pembelajaran
1. Dengan mengamati gambar, siswa mampu menjelaskan macam-macam olahraga dengan santun.
2. Dengan membaca nyaring, siswa mampu menyebutkan nama-nama olahraga dengan percaya diri.
3. Dengan menyusun huruf, siswa dapat menemukan 2-3 nama-nama jenis olahraga dengan disiplin.
4. Dengan menyusun huruf siswa mampu menulis nama-nama olahraga dengan percaya diri.
5. Dengan memasangkan gambar siswa mampu mengidentifikasi alat-alat olahraga dengan percaya diri.
6. Dengan mampu mengidentifikasi alat-alat olahraga, siswa mampu menggambar salah satu olahraga yang disukainya dengan tertib.
7. Dengan menggunakan gambar, siswa mampu menentukan pola gambar tertentu dengan tepat.
8. Dengan pengamatan terhadap gambar, siswa mampu melengkapi pola gambar dengan tepat.

D. Materi
1. Mengenal macam-macam olaharaga
2. Mengenal nama alat olahraga
3. Membaca teks tentang olaharaga dengan berulang-ulang
4. Menyusun nama olaharaga

E. Pendekatan & Metode
Pendekatan : Scientific (Mengamati, Mengomunikasikan, Menanya, Menalar, dan Mengumpulkan Informasi)
Model : Cooperative Learning (discovery based learning)
Metode : Penugasan, Tanya jawab, dan ceramah


F. Sumber dan Media
1. Buku siswa.
2. Pensil/pensil warna/krayon/spidol.
3. Buku Guru / Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.-- Edisi Revisi Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014.





G. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi Waktu
Pendahuluan 1. Mengajak siswa berdoa menurut agama keyakinan masing – masing (untuk mengawali kegiatan pembelajaran)
2. Melakukan komunikasi tentang kehadiran siswa
3. Menginformasikan tema yang akan dibelajarkan yaitu tentang Kegemaranku.
4. Menanyakan jenis olahraga yang digemari oleh siswa
10’
Inti 1. Siswa mengamati gambar yang ada pada buku siswa. (mengamati)
2. Siswa menyebutkan nama-nama olahraga. (mengkomunikasikan)
3. Siswa bertanya jawab berkaitan dengan gambar yang diamatinya. (menanya)
4. Beri kesempatan kepada siswa untuk saling mengajukan pertanyaan dan menjawab. (mengolah informasi)
5. Contoh pertanyaan yang mungkin:
• Olahraga apa yang kamu lihat pada gambar?
• Apa yang kamu ketahui tentang olahraga tersebut?
• Berapa banyak anak yang bermain bulutangkis pada gambar?
• Berapa banyak anak yang bermain sepak bola pada gambar?
• Berapa jumlah anak seluruhnya pada gambar?
• Olahraga mana yang merupakan olahraga tim?
• Sikap apa yang harus dilakukan dalam melakukan olahraga tim?
• Olahraga apa yang paling kamu sukai?
• Olahraga apa yang baru kamu ketahui?
6. Siswa membaca nyaring nama-nama cabang olahraga dengan bimbingan guru. (mengkomunikasikan)
7. Siswa menyusun huruf menjadi nama-nama cabang olahraga yang dipelajari. (mengolah informasi)
8. Siswa berlatih menulis dengan cara menebalkan. (mengolah informasi)
9. Untuk mengonfirmasi pengetahuan siswa, siswa menyebutkan kembali nama-nama cabang olahraga yang sudah diketahui dan baru diketahui. (mengolah informasi)
10. Setelah menyebutkan nama-nama cabang olahraga, siswa bertanya jawab tentang cabang-cabang olahraga dan alat-alat olahraga yang mereka ketahui dengan arahan guru. ((mengolah informasi)
11. Siswa mengamati contoh pertanyaan yang diajukan guru sebagai berikut:
• Jika kamu ingin bermain sepak bola, alat apa yang kamu butuhkan? (mengamati)
12. Siswa melakukan kegiatan tanya jawab secara bergantian berdasarkan contoh pertanyaan guru yang divariasikan atau dengan bahasa mereka sendiri.
• jika kamu ingin bermain bulutangkis, alat apa yang kamu butuhkan?
• jika kamu ingin bermain kasti, alat apa yang kamu butuhkan?
• dan seterusnya. (mengkomunikasikan)
13. Siswa menyebutkan kembali alat-alat yang dipergunakan untuk berolahraga. (mengkomunikasikan)
14. Siswa berlatih mengenal alat olahraga dengan memasangkan gambar alat-alat olahraga yang saling berhubungan dengan menarik garis. Misalnya, gambar bola dengan gambar lapangan bola dan gambar pelampung dengan kolam renang. (mengolah informasi)
15. Kemudian, siswa memilih pasangan gambar yang paling disukai untuk dijadikan tema dalam menggambar. ( menalar)
16. Siswa menggambar dan mewarnai sesuai tema yang dipilih. (mengolah informasi)
17. Siswa menuliskan tema yang dipilihnya di sudut kiri gambar. ( megolah informasi) 150’
Penutup 1. Bersama – sama siswa membuat kesimpulan rangkuman hasil belajar selama sehari (komunikasi)
2. Bertanya jawab tentang materi yang telah dipelajari (untuk mengetahui hasil ketercapaian materi)
3. Melakukan penilaian
4. Mengajak siswa – siswa berdoa menurut keyakinan masing – masing untuk mengakhiri pembelajaran. 15’

H. Penilaian
1. Penilaian Sikap



2. Penilaian Pengetahuan
- Tes tertulis (lembar kerja di buku siswa)

3. Penilaian Keterampilan
Rubrik: Kegiatan Menggambar dan Mewarnai


Situbondo, 2 September 2014
Mahasiswa / Praktikan




WINDA NOVELASARI
NPM. 201110182

Mengetahui,

Guru Pamong Dosen Pembimbing





Dra.RINDANG SARI VIDYA PRATIWI, M.Pd
NIY. 045992012 NIS.360 010 173
Kepala Sekolah





HADI SUKOMULYONO, S.Pd
NIP. 196990917 199308 1 001

Read More →

Perbandingan Pendidikan Multikultural di Berbagai Negara

0 komentar
A. Pendidikan Multikultural di Indonesia

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat dengan tingkat keanekaragaman yang sangat kompleks. Masyarakat dengan berbagai keanekaragaman tersebut dikenal dengan istilah mayarakat multikultural. Bila kita mengenal masyarakat sebagai sekelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama sehingga mereka mampu mengorganisasikan dirinya dan berfikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu (Linton), maka konsep masyarakat tersebut jika digabungkan dengan multikurtural memiliki makna yang sangat luas dan diperlukan pemahaman yang mendalam untuk dapat mengerti apa sebenarnya masyarakat multikultural itu.

Pada dasarnya, multikulturalisme yang terbentuk di Indonesia merupakan akibat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Menurut kondisi geografis, Indonesia memiliki banyak pulau dimana stiap pulau tersebut dihuni oleh sekelompok manusia yang membentuk suatu masyarakat. Dari masyarakat tersebut terbentuklah sebuah kebudayaan mengenai masyarakat itu sendiri. Tentu saja hal ini berimbas pada keberadaan kebudayaan yang sangat banyak dan beraneka ragam.

Multikultural dapat terjadi di Indonesia karena: 1. Letak geografis indonesia 2. Perkawinan campur 3. Iklim

Multikultural di Indonesia bersifat normatif. Multikulural normatif adalah petunjuk tentang berbagai kepentingan yang membimbing pada pengakuan yang lebih tinggi mengenai kebangsaan dan identitas kelompok yang berbeda di dalam masyarakat. Multikultural normatif di Indonesia pertama kali diamanatkan dalam UUD 1945. Ketentuan di dalam UU menyatakan bahwa rakyat dan bangsa Indonesia mencakupi berbagai kelompok etnis. Mereka telah berbagi komitmen dalam membangun bangsa Indonesia.

Di dalam pendidikan multikultural terletak tanggung jawab besar untuk pendidikan nasional. Tanpa pendidikan yang difokuskan pada pengembangan perspektif multikultural dalam kehidupan adalah tidak mungkin untuk menciptakan keberadaan aneka ragam budaya di masa depan dalam masyarakat Indonesia. Multikultural hanya dapat disikapi melalui pendidikan nasional.

Ada tiga tantangan besar dalam melaksanakan pendidikan multikultural di Indonesia, yaitu:
1. Agama, suku bangsa dan tradisi
Agama secara aktual merupakan ikatan yang terpenting dalam kehidupan orang Indonesia sebagai suatu bangsa. Bagaimanapun juga hal itu akan menjadi perusak kekuatan masyarakat yang harmonis ketika hal itu digunakan sebagai senjata politik atau fasilitas individu-individu atau kelompok ekonomi. Di dalam kasus ini, agama terkait pada etnis atau tradisi kehidupan dari sebuah masyarakat.

Masing-masing individu telah menggunakan prinsip agama untuk menuntun dirinya dalam kehidupan di masyarakat, tetapi tidak berbagi pengertian dari keyakinan agamanya pada pihak lain. Hal ini hanya dapat dilakukan melalui pendidikan multikultural untuk mencapai tujuan dan prinsip seseorang dalam menghargai agama.

1. Kepercayaan
Unsur yang penting dalam kehidupan bersama adalah kepercayaan. Dalam masyarakat yang plural selalu memikirkan resiko terhadap berbagai perbedaan. Munculnya resiko dari kecurigaan/ketakutan atau ketidakpercayaan terhadap yang lain dapat juga timbul ketika tidak ada komunikasi di dalam masyarakat/plural.

1. Toleransi
Toleransi merupakan bentuk tertinggi, bahwa kita dapat mencapai keyakinan. Toleransi dapat menjadi kenyataan ketika kita mengasumsikan adanya perbedaan. Keyakinan adalah sesuatu yang dapat diubah. Sehingga dalam toleransi, tidak harus selalu mempertahankan keyakinannya.


B. Pendidikan Multikultural di Amerika Serikat

Pendidikan multikultural sekarang sudah mengalami perkembangan baik teoritis maupun praktek sejak konsep paling awal muncul tahun 1960-an yang pertama kali dikemukakan oleh Banks. Pada saat itu, konsep pendidikan multikultural lebih pada supremasi kulit putih di AS dan diskriminasi yang dialami kulit hitam (Murrell P., 1999). Pendidikan multikultural berkembang di dalam masyarakat Amerika bersifat antarbudaya etnis yang besar, yaitu budaya antarbangsa.

Terdapat empat jenis dan fase perkembangan pendidikan multikultural di Amerika (Banks, 2004: 4), yaitu:
1. Pendidikan yang bersifat segregasi yang memberi hak berbeda antara kulit putih dan kulit berwarna terutama terhadap kualitas pendidikan;
2. Pendidikan menurut konsep salad bowl, di mana masing-masing kelompok etnis berdiri sendiri, mereka hidup bersama-sama sepanjang yang satu tidak mengganggu kelompok yang lain;
3. Konsep melting pot, di dalam konsep ini masing-masing kelompok etnis dengan budayanya sendiri menyadari adanya perbedaan antara sesamanya. Namun dengan menyadari adanya perbedaan-perbedaan tersebut, mereka dapat membina hidup bersama. Meskipun masing-masing kelompok tersebut mempertahankan bahasa serta unsur-unsur budayanya tetapi apabila perlu unsur-unsur budaya yang berbeda-beda tersebut ditinggalkan demi untuk menciptakan persatuan kehidupan sosial yang berorientasi sebagai warga negara as. Kepentingan negara di atas kepentingan kelompok, ras, dan budaya;
4. Pendidikan multikultural melahirkan suatu pedagogik baru serta pandangan baru mengenai praksis pendidikan yang memberikan kesempatan serta penghargaan yang sama terhadap semua anak tanpa membedakan asal usul serta agamanya. Studi tentang pengaruh budaya dalam kehidupan manusia menjadi sangat signifikan. Studi kultural membahas secara luas dan kritis mengenai arti budaya dalam kehidupan manusia

Pendidikan di AS pada mulanya hanya dibatasi pada migran berkulit putih, sejak didirikan sekolah rendah pertama tahun 1633 oleh imigran Belanda dan berdirinya Universitas Harvard di Cambridge, Boston tahun 1636. Baru tahun 1934 dikeluarkan Undang Undang Indian Reservation Reorganization Act di daerah reservasi suku Indian. Tujuan pendidikannya adalah proses Amerikanisasi. Suatu kelompok etnis atau etnisitas adalah populasi manusia yang anggotanya saling mengidentifikasi satu dengan yang lain, biasanya berdasarkan keturunan (Smith, 1987). Pengakuan sebagai kelompok etnis oleh orang lain seringkali merupakan faktor yang berkontribusi untuk mengembangkan ikatan identifikasi ini. Kelompok etnis seringkali disatukan oleh ciri budaya, perilaku, bahasa, ritual, atau agama.

Pendidikan Multikultural berkembang di dalam masyarakat multikultural Amerika yang bersifat antarbudaya etnis yang besar yaitu budaya antarbangsa. Ada upaya untuk mengubah Pendidikan Multikultural dari yang bersifat asimilasi (berupa penambahan materi multikultural) menuju ke arah yang lebih radikal berupa Aksi Sosial. Berkaitan dengan nilai-nilai kebudayaan yang perlu diwariskan dan dikembangkan melalui sistem pendidikan pada suatu masyarakat, maka Amerika Serikat memakai sistem demokrasi dalam pendidikan yang dipelopori oleh John Dewey. Intinya adalah toleransi tidak hanya diperuntukkan untuk kepentingan bersama akan tetapi juga menghargai kepercayaan dan berinteraksi dengan anggota masyarakat.


C. Pendidikan Multikultural di Australia

Australia tidak dapat menahan masuknya orang Asia sehingga dia tidak dapat menutup ekonominya bagi bangsa-bangsa Asia dan Pasifik, karena imigran dari kedua benua itu masuk dengan jumlah dan waktu yang sangat cepat. Akibatnya, Australia mengubah kebijakannya dari White Australia Policy ke multicultural policy. Dampak dari perubahan kebijakan itu membuat orang Aborigin meningkatkan kepercayaan dirinya.

Aborigin, penduduk asli Australia berasal dari benua Asia. Menyusul imigran dari Eropa yang sebagian merupakan orang hukuman dibawa oleh kapten Arthur Philip. Pada mulanya imigran pertama yang memasuki Australia berasal dari para narapidana serta pembangkang politik Irlandia, kemudian berdatangan orang Jerman yang terusir dari negerinya karena masalah agama. Menyusul orang India dan Cina sebagai pekerja kasar. Ketika diketemukan emas di New South Wales dan Victoria mulai berdatangan para pekerja dari berbagai bangsa.

Paham multikulturalisme di Australia berkaitan erat dengan perkembangan politik, terutama Partai Buruh. Pelaksanaan Pendidikan Multikultural dapat dibedakan tiga fase perkembangan yaitu dari politik pasif ke arah asimilasi aktif (1945-1972), pendidikan untuk kaum migran bersifat pasif. Artinya anak kaum imigran menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan yang ada. Karena ada kesulitan dalam penggunaan bahasa Inggris bagi anak imigran diberikanlah bantuan laboratorium bahasa. Hingga tahun 1970-an kurikulum masih terpusat hingga menyulitkan di dalam menyesuaikan dengan kebutuhan multietnis Australia. Kedua, dari pendidikan imigran ke Pendidikan Multikultural (1972-1986) semua propinsi diAustralia telah mengadopsi kebijakan Pendidikan Multikultural. Kebijakan tersebut adalah sebagai berikut: “ Di dalam masyarakat multi budaya, masing-masing orang memiliki hak atas integritas budaya; memiliki citra diri yang positif (a positif self image), dan untuk pemahaman dan penghargaan terhadap perbedaan. Masing-masing orang tidak hanya harus menyatakan perasaan yang positif terhadap warisan budayanya sendiri tetapi juga harus mengalami seperti perasaan terhadap warisan budaya orang lain.” Tujuan Pendidikan Multikultural adalah :
1. Pengertian dan menghargai bahwa Australia pada hakekatnya adalah masyarakat multibudaya di dalam sejarah, baik sebelum maupun sesudah kolonisasi bangsa Eropa.
2. Menemukan kesadaran dan kontribusi dari berbagai latar kebudayaan untuk membangun Australia.
3. Pengertian antar budaya melalui kajian-kajian tentang tingkah laku, kepercayaan, nilai-nilai yang berkaitan dengan multikulturalisme.
4. Tingkah laku yang memperkuat keselarasan antaretnis.
5. Memperluas kesadaran akan penerimaannya sebagai seseorang yang mempunyai identitas nasional Australia tetapi juga akan identitas yang spesifik di dalam masyarakat multi budaya Australia.

Program Pendidikan Multikultural antara lain berbentuk bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, pendidikan “community language” yaitu bahasa yang digunakan di dalam suatu masyarakat tertentu. Ketiga, imperatif ekonomi dalam Pendidikan Multikultural (1986-1993). Yaitu adanya bantuan dana dan masuknya Asian Studies Program yang berisi bahasa Asia dan kebudayaannya. Bahkan informasi terakhir pelajaran Bahasa Indonesia sudah dimasukkan di dalam kurikulum sekolah dasar.

Dewasa ini hampir semua sekolah di Australia telah melaksanakan Pendidikan Multikultural. Pendidikan Multikultural Australia mempunyai wajah yang spesifik. Kebijakan imigrasi dan masalah etnis dipecahkan secara konsensus dari seluruh masyarakat. Ada pakar yang berpendapat bahwa Australia merupakan masyarakat yang polietnik bukan multi kultur dalam arti Australia lebi bercorak Anglo Saxon yang menerima kebhinekaan selama tidak mengganggu atau mengubah gaya hidup masyarakat Anglo Saxon tersebut.


D. Pendidikan Multikultural di Inggris

Pendidikan Multikultural di Inggris terkait dengan perkembangan revolusi industri pada tahun 1650-an. Pada awalnya Inggris terkenal sebagai masyarakat yang monokultur dan baru sesudah PD II menjadi multikultur ketika kedatangan tenaga kerja untuk pembangunan dari kepulauan Karibia dan India. Meskipun oleh pemerintah Inggris telah berusaha memperbaiki taraf kehidupan kelompok kulit berwarna ini, ternyata di dalam masyarakat terlihat adanya pembedaan-pembedaan di dalam perumahan, tenaga kerja, dan pendidikan.

Gerakan wanita bermula di akhir tahun 1700-an dan awal yahun 1800-an. Perubahan seperti revolusi Amerika dan Prancis mendorong gagasan mengenai ”kesamaan” dan ”kebebasan”. Sekalipun demikian kaum wanita tidak diizinkan untuk memberikan suara, dan sebagian besar mempunyai akses terbatas pada pendidikan.

Pada tahun 1792, seorang penulis Inggris bernama Mary Wollstonecraft menerbitkan A Vindication of the Rights of Woman, mengemukakan keyakinannya dalam persamaan hak untuk pria dan wanita. Ide ini mendapat dukungan kuat selama tahun 1800-an, dan banyak wanita yang mulai melakukan kampanye menuntut reformasi.

Pendidikan Multikultural berkembang sejalan dengan banyaknya kaum imigran yang memasuki Inggris, namun masih terdapat perlakuan yang diskriminatif sehingga memunculkan berbagai gerakan yang berlatar belakang budaya. Gerakan ini merupakan gerakan politik yang didukung pandangan liberal, demokrasi dan gerakan kesetaraan manusia. Hal ini tidak lepas dari pemikiran kelompok progresif di Universitas Birmingham yang melahirkan studi budaya (cultural studies) pada tahun 1964 yang mengetengahkan pemikiran progresif kaum terpinggirkan yang didukung oleh Kaum Buruh (Labor party). Pendidikan Multikultural terjadi karena dorongan dari bawah, yaitu kelompok liberal (orang putih) bersama dengan kelompok kulit berwarna.. Hal ini diperkuat oleh politik imigrasi melalui undang-undang Commonwealth Immigrant Act tahun 1962 yang mengubah status kelompok kulit berwarna dari kelompok imigran menjadi “shelter” (penghuni tetap).

Pada tahun 1968 didirikan Select Community on Race Relations and Immigration (SCRRI) yang bertugas meninjau kebijakan imigrasi. Kesempatan ini digunakan oleh kaum imigran terutama dari Hindia Barat dan Asia untuk mengetengahkan permasalahannya. Pada tahun 1973 laporan SCRRI berkontribusi terhadap pendidikan kolompok imigran:
1. Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua
2. Penggantian istilah imigran dengan masyarakat multirasial (multiracal society)
3. Menuntut pendidikan yang lebih baik
4. Meminta untuk memenuhi tuntutan National Union of Teachers (NUT) akan adanya pendidikan yang dibutuhkan oleh masyarakat multi rasial.
5. Merumuskan bahwa pengertian seperti integrasi, asimilasi, pluralisme dapat digunakan untuk menggambarkan hal yang sama. (Tilaar, 2004).

Pada tahun 1981 terjadi perubahan yang signifikan dengan terbitnya British Nationality Act yang menghendaki agar Pendidikan Multikultural bukan hanya terlihat di bidang pendidikan namun juga forum-forum pendidikan masyarakat seperti jaringan televise BBC.

Pada tahun 1988 diundangkan Education Reform Act (ERA) yang mengandung dua arti, yaitu paham neoliberalisme yang percaya pada kekuatan pasar, dan neokonservatisme yang memberi kekuatan besar pada kontrol pusat. Paham neoliberalisme memberi kekuasaan yang lebih besar pada masing-masing sekolah untuk mengurus dirinya sendiri demikian juga kepada pemerintah lokal. Pandangan neokonservatisme mempertahankan kurikulum yang terpusat dan mempertahankan pendidikan agama yang bersifat Kristiani. Namun pelaksanaan kebijakan ini memungkinkan terjadinya diskriminasi. Penyerahan pendidikan pada kekuatan pasar berarti memperkecil kesempatan bagi kelompok kulit berwarna untuk mendapat pendidikan yang layak. Kelompok kulit berwarna tidak kompetitif dengan budaya dominan yang menguasai sumber pendidikan. Demikian juga dalam penulisan sejarah Inggris raya yang kurang menguntungkan kelompok minoritas.


E. Pendidikan Multikultural di Kanada

Di Kanada ada konsep dan kebijakan multikultural yang harus memajukan bangsa dengan membandingkannya dengan negara lain. Negara ini berusaha keras untuk tidak terlalu menggantungkan ekonominya pada AS dan mencoba mempersatukan multikulturalnya demi kemajuan bangsa.

Pendidikan Multikultural di Kanada berbeda dengan negara tetangganya AS karena perbedaan sejarah dan komposisi penduduknya. Etnis terbesar dari Perancis dan Inggris selanjutnya dari etnis lain seperti Jerman, Cina, Italia, penduduk asli Indian, Asia Selatan, Ukraina serta etnis lain.

Sejarah pertumbuhan penduduk Kanda dapat diidentifikasi atas empat kelompok :
1. Etnis asli ada sekitar 50 jenis dengan berbagai bahasa yang hidup secara nomaden sebagai pemburu dan petani.
2. Abad 16 sampai 1760 masuk etnis Perancis sebagai penjajah dan pedagang karena perdagangan bulu binatang. Percampuran etnis Perancis dengan penduduk asli Indian melahirkan penduduk Metis.
3. Kedatangan Inggris setelah Treaty of Paris (1763) yang ditambah etnis Perancis yang terlibat Perang Kemerdekaan Amerika 1776..
4. Imigran dari Eropa (terutama Belanda, Ukraina dan Jerman) dan Asia (Jepang, India, Cina) dilatar belakangi kebutuhan pekerja di propinsi tengah dan barat.

Sesudah PD II terjadi banjir imigran dari Italia, Jerman, Belanda dan Polandia. Pada tahun 1960-an terjadi perkembangan ekonomi Kanada yang membutuhkan tenaga terdidik untuk memenuhi kebutuhan metropolitan. Toronto menjadi pusat konsentrasi imigran asing.

Berbeda dengan AS yang menerapkan politik asimilasi, Pemerintah Liberal Kanada menerapkan politik multi kulturalisme (1971) yang memberlakukan status yang sama untuk bahasa Perancis dan Inggris sebagai bahasa resmi.

Pada tahun 1972 didirikanlah Direktorat Multikultural di dalam lingkungan Departemen Luar Negeri untuk memajukan cita-cita multikultural, integrasi social, dan hubungan positif antarras. Upaya tersebut melahirkan Canadian Multiculturalism act (1988) yang isinya antara lain :
1. Alokasi dana untuk memajukan hubungan harmonis antarras
2. Memperluas saling pengertian kebudayaan yang berbeda
3. Memelihara budaya dan bahasa asli
4. Kesempatan yang sama untuk berpartisipasi
5. Pengembangan kebijakan multikultural di semua kantor pemerintah federal.

Kanada merupakan negara pertama yang memberikan pengakuan legal terhadap multikulturalisme. Sekalipun kebijakan multikultural merupakan kebijakan federal, namun masing-masing negara bagian melaksanakan kebijakan sesuai dengan kebutuhannya. Kebijakan multikultural dimasukkan dalam bentuk yang berbeda-beda di dalam program sekolah, penataran guru. Kurikulum dikaji ulang untuk dilihat hal-hal yang mengandung stereotipe dan prasangka antaretnis. Demikian pula di dalam pendidikan oleh Ontario Heritage Language Programme yang didirikan tahun 1977 memberikan bantuan terhadap pengajaran bahasa etnis yang bermacam-macam sesudah jam resmi sekolah. Diberikan penataran guru untuk menyebarluaskan sumber-sumber yang bebas dari prasangka, terutama kelompok kulit berwarna (black population). Di propinsi Manitoba, Alberta, Saskacthewan diijinkan memberikan bahasa di luar bahasa Inggris dan Perancis sampai 50 % dari jumlah jam di sekolah. Kebijakan ini diterima dengan baik oleh kelompok imigran, terutama imigran Ukraina dan Jerman.

Sejak 1993, beberapa dewan pendidikan seperti Vancouver School Board melaksanakan penataran guru-guru untuk Pendidikan Multikultural, mendirikan komite penasehat untuk hubungan rasial, serta melembagakan hubungan rasial di distrik sekolah.

Secara terinci Magsino (1985) mengidentifikasi 6 jenis model Pendidikan Multikultural:
1. Pendidikan “emergent society”. Model ini merupakan suatu upaya rekonstruksi dari keanekaan budaya yang diarahkan kepada terbentuknya budaya nasional.
2. Pendidikan kelompok budaya yang berbeda. Model ini merupakan suatu pendidikan khusus pada anak dari kelompok budaya yang berbeda. Tujuannya adalah memberikan kesempatan yang sama dengan mengurangi perbedaan antara sekolah dan keluarga, atau antara kebudayaan yang dikenalnya di rumah dengan kebudayaan di sekolah. Model ini bertujuan membantu anak untuk menguasai bahasa resmi serta norma dominan dalam masyarakat.
3. Pendidikan untuk memperdalam saling pengertian budaya. Model ini bertujuan untuk memupuk sikap menerima dan apresiasi terhadap kebudayaan kelompok yang berbeda. Model ini merupakan pendekatan liberal pluralis yang melihat perbedaan budaya sebagai hal yang berharga dalam masyarakat. Di dalam kaitan ini Pendidikan Multikultural diarahkan kepada memperkuat keadilan sosial dengan menentang berbagai jenis diskriminasi dan etnosentrisme.
4. Pendidikan akomodasi kebudayaan. Tujuan model ini adalah mempertegas adanya kesamaan dari kelompok yang bermacam-macam. Mengakui adanya partikularisme dengan tetap mempertahankan kurikulum dominan.
5. Pendidikan “accomodation and reservation” yang berusaha untuk memelihara nilai-nilai kebudayaan dan identitas kelompok yang terancam kepunahan.
6. Pendidikan Multikultural yang bertujuan untuk adaptasi serta pendidikan untuk memelihara kompetensi bikultural. Model ini mengatasi pendekatan kelompok spesifik, identifikasi dan mengembangkan kemampuan untuk berkomunikasi secara cross-cultural dengan mendapatkan pengetahuan tentang bahasa atau kebudayaan yang lain. (Tilaar, 2004).

Pengalaman di Kanada menunjukkan bahwa isi budaya (cultural content) di dalam kurikulum sekolah menempati urutan kedua, sedangkan yang utama adalah bagaimana mencapai kemajuan akademis. Pendidikan Multikultural di Kanada tergantung di mana pendidikan multietnis itu berada di dalam kerangka struktur ekonomi, politik, dan sosial masyarakatnya.

Read More →

ARTIKEL TENTANG MORAL, AKHLAK DAN ETIKA

0 komentar
ARTIKEL TENTANG MORAL, AKHLAK DAN ETIKA

Dalam pandangan islam, akhlak merupakan cermin dari apa yang ada dalam jiwa seseorang. Karena itu akhlak yang baik merupakan dorongan dari keimanan seseorang, sebab keimanan harus ditampilkan dalam perilaku nyata sehari-hari.
Pada saat ini, kehidupan semakin sulit di mana kebutuhan semakin kompleks namun sarana pemenuhan kenutuhan terbatas. Ada sebagian orang yang belum dapat memenuhi kebutuhanya, sehingga menyebabkan beberapa dari mereka menghalalkan segala cara untuk bisa memenuhi kebutuhanya. Terutama pada saat ini banyak orang beranggapan bahwa harta adalah prioritas utama
Akhlak tercela tidak hanya terjadi pada orang dewasa saja namun juga terjadi pada sebagian besar para remaja. Remaja sering dikaitkan dengan masalah. Banyak pengaruh serta tekanan dari luar yang kebanyakan menjerumuskan kepada hal-hal yang negatif. Apabila sudah terpedaya pada hal-hal yang negatif, akhlak remaja mudah rusak sehingga menimbulkan berbagai masalah. Padahal pemuda adalah generasi penerus bangsa, namun pada kenyatanya sebagian besar remaja pada saat ini sudah terjerumus dalam hal negatif, seperti seks bebas, narkoba, dan lain-lain.

Pengertian Etika, Moral,dan Akhluk
Etika adalah sebuah tatanan perilaku berdasarkan suatu sistem tata nilai suatu masyarakat tertentu, Etika lebih banyak dikaitkan dengan ilmu atau filsafat, karena itu yang menjadi standar baik dan buruk itu adalah akal manusia. Jika dibandingkan dengan moral, maka etika lebih bersifat teoritis sedangkan moral bersifat praktis. Moral bersifat lokal atau khusus dan etika bersifat umum.
Moral berasal dari bahasa Latin mores yang berarti adat kebiasaan. Moral selalu dikaitkan dengan ajaran baik buruk yang diterima umum atau masyarakat. Karena itu adat istiadat masyarakat menjadi standar dalam menentukan baik dan buruknya suatu perbuatan.
Akhlak berasal dari kata “khuluq” yang artinya perang atau tabiat. Dan dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata akhlak di artikan sebagai budi pekerti atau kelakuan. Dapat di definisikan bahwa akhlak adalah daya kekuatan jiwa yang mendorong perbuatan dengan mudah, spontan tanpa di pikirkan dan di renungkan lagi. Dengan demikian akhlak pada dasarnya adalah sikap yang melekat pada diri seseorang secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku atau perbuatan. Apabila perbuatan spontan itu baik menurut akal dan agama, maka tindakan itu disebut akhlak yang baik atau akhlakul karimah (akhlak mahmudah). Misalnya jujur, adil, rendah hati, pemurah, santun dan sebagainya. Sebaliknya apabila buruk disebut akhlak yang buruk atau akhlakul mazmumah. Misalnya kikir, zalim, dengki, iri hati, dusta dan sebagainya. Baik dan buruk akhlak didasarkan kepada sumber nilai, yaitu Al Qur’an dan Sunnah Rasul

Perbedaan antara akhlak, moral dan etika
Perbedaan antara akhlak dengan moral dan etika dapat dilihat dari dasar penentuan atau standar ukuran baik dan buruk yang digunakannya. Standar baik dan buruk akhlak berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul, sedangkan moral dan etika berdasarkan adat istiadat atau kesepakatan yang dibuat olehsuatu masyarakat jika masyarakat menganggap suatu perbuatan itu baik maka baik pulalah nilai perbuatan itu.
Dengan demikian standar nilai moral dan etika bersifat lokal dan temporal, sedangkan standar akhlak bersifat universal dan abadi. Dalam pandangan Islam, akhlak merupakan cermin dari apa yang ada dalam jiwa seseorang. Karena itu akhlak yang baik merupakan dorongan dari keimanan seseorang, sebab keimanan harus ditampilkan dalam prilaku nyata sehari-hari. Inilah yang menjadi misi diutusnya Rasul sebagaimana disabdakannya :“ Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.”(Hadits riwayat Ahmad).
Secara umum dapat dikatakan bahwa akhlak yang baik pada dasarnya adalah akumulasi dari aqidah dan syari’at yang bersatu secara utuh dalam diri seseorang. Apabila aqidah telah mendorong pelaksanaan syari’at akan lahir akhlak yang baik, atau dengan kata lain akhlak merupakan perilaku yang tampak apabila syari’at Islam telah dilaksanakan berdasarkan aqidah.

ARTIKEL TENTANG PENELITIAN PROFESI

Antara Fasilitator, Guru dan Sertifikasi Profesi
Ada beberapa peristiwa penting yang mewarnai bulan Mei dalam sejarah dunia maupun bangsa yang besar ini, seperti:
a. Tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Sedunia.
b. Tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.
c. Tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
d. Pun "Tragedi Berdarah Mei 1998" yang meruntuhkan rezim Orde Baru dan melahirkan orde reformasi hingga kini, terjadi di bulan Mei.
Agar tidak melebar, berdasarkan judul tulisan saya di atas, maka yang akan coba saya bahas kali ini adalah mengenai dunia pendidikan, khususnya nasib para pelaku-pelakunya, yang meliputi profesi Fasilitator dan profesi guru, dikaitkan dengan sertifikasi profesi bagi keduanya.
Kenapa?
Karena, katanya, merekalah yang menjadi ujung tombak di lapangan dalam mengawal pendidikan formal maupun informal yang ada di masyarakat kita—walaupun dengan berbagai sebutan yang berbeda dan sesuai. Di tingkat formal, mulai SD, SMP sampai SMA, mereka dipanggil "Guru". Di tingkat mahasiswa, mereka dipanggil "Dosen". Di tingkat non formal, dalam model Pendidikan Orang Dewasa (POD), biasa dipanggil "Fasilitator"—kadang pula disebut sebagai Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM), kadang pula instruktur/pelatih, hingga aktivis “L.S-Eng”.
Nah, cuman sedihnya, sejak zaman "Oemar Bakri" hingga kini profesi guru kadang masih dipandang sebelah mata. Masih menjadi pilihan terakhir bagi cita-cita anak-anak kita setelah dokter, tukang insinyur, presiden, pramugara ataupun pramugari Sukhoi maupun dosen. Padahal dosen kan guru juga?
Kalau Fasilitator atau TPM malah lebih sedih lagi. Di tingkatan konsultan malah dianggap profesi paling rendahan, sering dijadikan “kambing hitam” oleh orang-orang yang ada di atas. Jika target project atau program tidak tercapai, di tingkat masyarakat, Faskel malah sering diancam, diintimidasi, dan diusir karena tidak mau diajak sepakat dengan "kepentingan" para pemangku kebijakan di lapangan.
Terus, bagaimana dengan kesejahteraan mereka?
Ya. Kita akan tertawa sekaligus menangis melihat keberadaan mereka. Di satu sisi mereka—para "Guru"—disebut sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Diagung-agungkan dalam nyanyian anak2 sekolahan, dijadikan puisi, dihujani kata-kata yang indah dalam acara-acara perpisahan maupun selamatan anak-anak sekolah yang berhasil lulus. Begitupun para "Fasilitator". Ketika masyarakat berhasil melaksanakan pembangunan, ucapan terima kasih pun bertubi-tubi kepada mereka.
Tetapi, di sisi lainnya, ironis, di mana-mana kita lihat, guru-guru masih jualan, bekerja serabutan di sela kesibukan mereka mengajar. Ada pula yang menjadi tukang ojek saat pulang sekolah, atau memberikan les tambahan sore dan malam agar ada tambahan penghasilan bulanan. Hingga profesi buruh lainnnya pun dilakoni.
Fasilitator juga, kurang lebih demikian; menjalani "profesi ganda” atau double job terpaksa dilakoni agar teuteup bisa bertahan hidup, menghidupi keluarganya, karena gaji pas-pasan. Di sisi lain, mereka mencoba menjaga integritas, (utamanya) ketika mengawal uang miliaran rupiah buat masyarakat. Agar tak bisa “dibeli” dengan iming-iming fee dari pihak-pihak/oknum-oknum yang menjual kemiskinan atas nama masyarakat. Pun, jika program tersendat atau macet, maka hujatan, cacian dan makian harus siap disematkan bagi mereka.
Sudah begitu, waktu kerja tidak menentu, karena mengikuti waktu luang masyarakat. Sementara itu, masyarakat mana pusing kalau persoalan administrasi harus mengikuti tahun anggaran, hingga terkadang keluar pagi pulangnya malam, tapi teuteup dianggap "tidak kerja", karena tidak kelihatan tetangga waktu pergi dan pulangnya.
Alhamdulillah, ketika adanya sertifikasi profesi bagi guru oleh pemerintah; begitu pula bagi Fasilitator, yang sementara ini tengah digodok di tingkat pusat, lahir harapan besar bagi perbaikan kesejahteraan mereka.
Sekarang, profesi "Guru" mulai kembali menjadi idola saat ini, karena iming-iming tunjangan sertifikasi yang diterima sebesar gaji mereka, yang akan dirapel setiap tiga bulanan. Walau proses sertifikasi belum semulus harapan berbagai pihak, bahkan masih ada protes atas siapa-siapa yang berhak mengikutinya dan keterbatasan anggaran pemerintah, sejauh ini titik terang kebangkitan kesejahteraan para guru mulai terlihat.
Contohnya, kini banyak guru yang mampu membeli mobil baru, rumah baru, insya Allah, perbaikan kesejahteraan sebanding dengan perbaikan mutu pendidikan bangsa ini. Amiiin
Lalu, bagaimana dengan fasilitator?
Walaupun sudah ada badan sertifikasi yang didirikan di Pusat dan oleh PNPM Mandiri Perkotaan di tingkat internal mereka, berdasarkan banyaknya pelatihan-pelatihan yang diikuti, sampai saat ini belum dirasakan geliatnya, bagaimana penerapannya di tingkat bawah. Selain minimnya informasi dari pihak-pihak di atas hingga menimbulkan ketakutan prosesnya nanti tidak transparan, banyak pula Fasilitator bingung: yang mana yang bisa disebut Fasilitator sebenarnya?
Apakah Fasilitator yang memiliki kontrak kerja sebagai Fasilitator, ataukah semua pekerja konsultan di proyek, ataupun program-program pemberdayaan yang ada mulai dari tingkat lapangan hingga team leader bisa disebut Fasilitator pula? Karena terkadang, ketika bertugas mengawal masyarakat, para pelaku di tingkat atas mengatakan, kerjakan tugas kalian sesuai tupoksi sebagai Fasilitator Teknik, Sosial dan Ekonomi di lapangan, seperti tertera di kontrak kerja yang kalian tandatangani!
Terus, kalau berdsar dari penafsiran kontrak kerja saja, kadang mereka tidak mengganggap sebagai Fasilitator, eeeh ketika muncul penilaian sertifikasi profesi tiba-tiba mereka mengaku-ngaku sebagai Fasilitator pula! Bah, kalau hanya melihat atas banyaknya pelatihan-pelatihan yang diikuti, otomatis orang-orang lama yang sudah menjabat di atas langsung lulus serifikasi dong? Sementara kita, yang di bawah, yang berdarah-darah, berkeringat dan bermandi air mata bercampur debu jalanan, akan terus dapat bagian yang paling sedikit pula jika sertifikasi diintegrasikan pada besarnya tunjangan maupun gaji yang ada. Nah lho?
Wooiiii, Tuan-tuan, gaji Anda sudah paling besaaar di atas sana! Sementara menginjak tanah berdebu saja kalian jarang. Eeeh.. kok pengen gajinya ditambah lagi oleh proses serifikasi?
Kalau mau "fair", mari turun ke lapangan.
Beri masyarakat "ruang" untuk memberikan penilaian atas nama kinerja dan profesionalisme yang kalian dengung-dengungkan dan doktrinkan kepada kami! Jangan selalu main belakang dengan alasan "sistemik". Laaaah, kaannn? (Prikitiuuwww...hihihi...)
By the way, anyway, busway.. Maaf, tulisan ini bukan untuk berburuk sangka ataupun mencari pembenaran liar. Mohon maaf jika "ada" yang tak berkenan, ya. Tapi, semoga dijadikan pertimbangan bagi para pengambil kebijakan di atas, agar saat memutuskan sebuah sistem yang menyangkut hak orang banyak bisa komprehensif melakukan uji kompetensinya, agar kesejahteraan bukan milik sebagian orang-orang dekat saja, dan keadilan atas nama "kerja sama dan bukan sama-sama kerja" bisa diwujudkan dalam bingkai "Profesionalisme Profesi".

ARTIKEL TENTANG PRODUKTIVITAS

Mengangkat Produktivitas Fasilitator
Ketika menjadi seorang fasilitator, saya cukup berbangga, karena saat itu saya memiliki empat orang teman fasilitator, yang secara waktu memiliki loyalitas dan komitmen yang teruji. Loyalitas dan komitmen adalah nilai plus. Namun itu bukan hal yang utama. Ada hal yang lebih penting daripada sekedar loyalitas dan komitmen. Apakah itu Produktivitas?
Tanpa produktivitas, loyalitas dan komitmen jadi tidak ada artinya. Jika seorang fasilitator sangat produktif dan memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi suksesnya program PNPM Mandiri Perkotaan, terlebih untuk masyarakat dampingan kita, kepuasan dalam bekerja akan menjadi miliknya, bahkan dinikmati banyak orang.
Bagaimana caranya agar seorang fasilitator bisa produktif dalam pekerjaan pendampingannya? Di sini saya tidak bermaksud untuk menggurui Anda, tetapi hanya suatu upaya berbagi pendapat, yang boleh-boleh saja tidak diterima kalau memang tidak sesuai dengan model dan/atau mungkin berbeda dengan cara yang Anda terapkan. Sekali lagi ini, hanyalah sedikit berbagi, dan mungkin bisa dipertimbangkan. Kita mulai secara berurutan:
1. Tetapkan Tolok Ukur (Standar Produktivitas)
Tanpa tolok ukur atau target, jelas kita tidak tahu apakah fasilitator produktif atau tidak. Setelah tahu standar produktivitasnya, seorang fasilitator harus berupaya untuk melakukan lebih dari yang diminta (lampaui target)
2. Fokus Dalam Bekerja
Jika fasilitator tidak fokus dalam bekerja, tidak mungkin produktif. Coba perhatikan hal-hal apa saja yang membuat fasilitator tidak fokus. Misalnya tidak serius, tidak mencintai pekerjaan dan kurang memiliki inisiatif. Itu mungkin hanya sebuah contoh sederhana.


3. Jangan Terlalu Perfeksionis
Kesempurnaan sebuah hasil adalah bagus, tapi menjadi masalah jika itu membuat kinerja fasilitator tidak produktif. Kualitas memang harus, tapi kuantitas (produktivitas) juga harus diperhitungkan.
4. Jangan Menunda
Dengan kita menunda sebuah pekerjaan, sebenarnya waktu penyelesaian pekerjaan itu sendiri akan membengkak lebih lama. Tentu saja hal ini akan berimbas pada minimnya produktivitas.
5. Lebih Smart Dalam Bekerja
Ada banyak fasilitator yang rajin saat bekerja, meski demikian hasilnya tidak maksimal juga. Biasanya hal ini dikarenakan fasilitator tersebut tidak menemukan cara yang efektif untuk meningkatkan produktivitasnya, atau mungkin juga ia membuat pekerjaannya jadi lebih sulit dari yang seharusnya.
Jangan Malas
Agar menjadi fasilitator yang produktif, tentu kita harus mengubah sikap dan kebiasaan buruk itu. Perangi kemalasan dan jadilah fasilitator yang bekerja dengan lebih rajin. Terlebih dalam menghadapi perang dengan kemiskinan.
Semoga kita semua benar-benar menjadi fasilitator pendamping masyarakat yang produktif dan memiliki arti buat masyarakat, bukan hanya sebagai kewajiban memenuhi tuntutan manajemen
Read More →