Stay in touch
Subscribe to our RSS!
Oh c'mon
Bookmark us!
Have a question?
Get an answer!

Feature Title‎ 1

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat... Read More

Feature Title‎ 2

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat... Read More

Feature Title‎ 3

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat... Read More

Feature Title‎ 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat... Read More

Feature Title‎ 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat... Read More

FATIN SIDQIA _CAHAYA DI LANGIT ITU_ OST 99 CAHAYA DI LANGIT EROPA

0 komentar
Ketika cahayamu menerangi duniaku
Sentuhan tangan itu memelukku penuh cinta
Saat dalam keangkuhan dan meremehkan takdirku
Setiaku dalam cinta hampir kehilangan arah
Tersadarku dan berfikir ridhonya surga duniaku
Seperti ku terbang di langit tinggi
Temui satu titik cahaya-Mu
Ku lihat ada malaikat kecil-Mu
Membisikkanku tuk tetap di sini, ku tersimpuh
Perjalanan ini (perjalanan ini)
Kuatkan imanku (kuatkan imanku)
Tuk arungi hidup (tuk arungi hidup)
Nilai cinta dengan kasih-Mu
Seperti ku terbang di langit tinggi
Temui satu titik cahaya-Mu
Ku lihat ada malaikat kecil-Mu
Membisikkanku tuk tetap di sini
Seperti ku terbang di langit tinggi
Temui satu titik cahaya-Mu
Ku lihat ada malaikat kecil-Mu
Membisikkanku tuk tetap di sini, ku tersimpuh
Nilai cinta dengan kasih-Mu
Read More →

Cara Membuat Aplikasi Android untuk Blog Anda

0 komentar
Cara Membuat Aplikasi Android untuk Blog Anda - Saat ini Gadget yang paling di cari adalah Android. Kecanggihan Fasilitas ini terletak pada aplikasi yang menarik dan terus di perbarui. Apa jadinya kalau blog anda juga memiliki aplikasi di Android, pasti menarik bukan.
1. Masuk ke situs appsgeyser.com 2. Klik Create Now
3. Pilih Enter Website URL 4. Isi Formulir yang diusediakan sesuai dengan blog anda,
5. Isi data anda untuk Signup/daftar
6. Klik Download App
7. Coba buka aplikasi ini di Android 8. Selanjutnya, bagikan link download Aplikasi android blog anda di sidebar, untuk memudahkan pengunjung mengakses blog anda langsung di Android. Sangat menarik kan?, silahkan mencoba cara ini untuk lebih mengoptimalkan blog anda. dan Bagikan Aplikasi ini ke teman anda, atau pasang link nya di sidebar blog supaya pengunjung bisa download. SEMOGA BERMANFAAT :-)
Read More →

Jenis-jenis Teori Belajar Bahasa

0 komentar
Sehubungan dengan begitu banyaknya teori tentang belajar bahasa, maka yang akan kami kemukakan dalam makalah ini, kami batasi pada teori Behaviorisme, Nativisme, Kognitivisme, Fungsional, Konstruktivisme, Humanistik, dan Sibernetik. Hal ini dimaksudkan agar pembahasan kami menjadi lebih terfokus.Teori- teori ini ternyata berpengaruh sangat kuat dalam dunia ilmu bahasa. Sebelum kita berbicara lebih jauh tentang teori belajar bahasa, kita pahami dulu pengertian teori. Menurut Mc lauglin dalam (Hadley: 43, 1993) Fungsi teori adalah untuk membantu kita mengerti dan mengorganisasi data tentang pengalaman dan memberikan makna yang merujuk dan sesuai. Ellis menyatakan bahwa setiap guru pasti sudah memiliki teori tentang pembelajaran bahasa, tetapi sebagian besar guru tersebut tidak pernah mengungkapkan seperti apa teori itu. Teori mempunyai fungsi yaitu: 1. Mendeskripsikan, menerangkan, menjelaskan tentang fakta. Contohnya fakta bahwa mengapa air laut itu asin. 2. Meramalkan kejadian-kejadian yang akan terjadi berdasarkan teori yang sudah ada. 3.Mengendalikan yaitu mencegah sesuatu supaya tidak terjadi dan mengusahakan supaya terjadi Dengan kata lain teori belajar bahasa adalah gagasan-gagasan tentang pemerolehan bahasa. Pada kesempatan kali ini kita akan menyinggung tentang berbagai macam teori mengenai belajar bahasa. Ada banyak sekali teori mengenai belajar bahasa, diantaranya adalah teori belajar Behaviorisme, Nativisme, Kognitisme, Fungsional (Interaksionis), Konstruktivisme, Humanisme dan Sibernetik. 1. Teori Behaviorisme John B. Watson mengemukakan sebuah teori konspirasi mengenai sebuah teori belajar manusia. Di dalam teorinya, ia mengungkapkan bahwa teori belajar Behavorisme memusatkan perhatiannya pada aspek yang dirasakan secara langsung pada perilaku berbahasa serta hubungan antara stimulus dan respons pada dunia sekelilingnya. Dalam teori ini, tanpa kita sadari bahwa teori ini mengungkapkan bahwa tindak balas atau respons diakibatkan oleh adanya rangsangan atau stimulus. Atau dalam kata lain, aksi berawal oleh adanya reaksi. Sehingga tanpa kita sadari sebab menghasilkan akibat. Untuk membuktikan kebenaran teorinya, Watson mengadakan eksperimen terhadap Albert, seorang bayi berumur sebelas bulan. Pada mulanya Albert adalah bayi yang gembira dan tidak takut bahkan senang bermain-main dengan tikus putih berbulu halus. Dalam eksperimennya, Watson memulai proses pembiasaannya dengan cara memukul sebatang besi dengan sebuah palu setiap kali Albert mendekati dan ingin memegang tikus putih itu. Akibatnya, tidak lama kemudian Albert menjadi takut terhadap tikus putih juga kelinci putih. Bahkan terhadap semua benda berbulu putih, termasuk jaket dan topeng Sinterklas yang berjanggut putih. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelaziman dapat mengubah perilaku seseorang secara nyata. Pada teori yang lainnya, ilmuan kaum behavioristik Skinner, berhasil mengungkapkan pada sebuah teori yang bernama Behavior Skinner. Dalam teori tersebut mengungkapkan bahwa Kemampuan berbicara dan memahami bahasa diperoleh melalui rangsangan lingkungan. Teori skinner tentang perilaku verbal merupakan perluasan teorinya tentang belajar yang disebutnya operant conditioning. Menurut Skinner, perilaku verbal adalah perilaku yang dikendalikan oleh akibatnya. Bila akibatnya itu hadiah, perilaku itu akan terus dipertahankan. Kekuatan serta frekuensinya akan terus dikembangkan. Bila akibatnya hukuman, atau bila kurang adanya penguatan, perilaku itu akan diperlemah atau pelan-pelan akan disingkirkan. Jadi, pada teori ini kita mengetahui tentang akibat dan sebab perilaku yang dikendalikan oleh akibatnya. Seandainya hal itu baik menurut individu itu maka akan terus dipertahankan atau akan ditingkatkan terus. Begitu juga sebaliknya, apabila individu tersebut merasakan hal yang dilakukannya itu buruk, maka hal yang dilakukannya itu pun akan segera dikuranginya atau bahkan ditinggalkanya. Sebagai contoh dapat kita saksikan perilaku anak-anak di sekeliling kita. Ada anak kecil menangis meminta es pada ibunya. Tetapi, karena ibunya yakin dan percaya bahwa es itu menggunakan pemanis buatan maka sang ibu tidak meluluskan permintaan anaknya. Sang anak terus menangis. Tetapi sang ibu bersikukuh tidak menuruti permintaannya. Lama kelamaan tangis anak tersebut akan reda dan lain kali lain tidak akan minta es semacam itu lagi kepada ibunya, apalagi dengan menangis. Seandainya anak itu kemudian dituruti keinginannya oleh ibunya, apa yang terjadi? Pada kesempatan yang lain sang anak akan minta es lagi. Apabila ibunya tidak meluluskannya maka ia akan menangis dan terus menangis sebab dengan menangis ia akan mendapatkan es. Kalau ibunya memberi es lagi maka perbuatan menangis itu dikuatkan. Pada kesempatan lain dia akan menangis manakala ia meminta sesuatu pada ibunya. 2. Teori Nativisme atau Mentalistik Berbeda dengan kaum behavioristik, kaum nativistik atau mentalistik berpendapat bahwa pemerolehan bahasa pada manusia tidak boleh disamakan dengan proses pengenalan yang terjadi pada hewan. Mereka tidak memandang penting pengaruh dari lingkungan sekitar. Selama belajar bahasa pertama sedikit demi sedikit manusia akan membuka kemampuan lingualnya yang secara genetis telah terprogramkan. Dengan perkataan lain, mereka menganggap bahwa bahasa merupakan pemberian biologis. Menurut mereka bahasa terlalu kompleks dan mustahil dapat dipelajari oleh manusia dalam waktu yang relatif singkat lewat proses peniruan sebagaimana keyakinan kaum behavioristik. Jadi beberapa aspek penting yang menyangkut sistem bahasa menurut keyakinan mereka pasti sudah ada dalam diri setiap manusia secara alamiah. Perilaku bahasa adalah sesuatu yang diturunkan. Seorang anak lahir dengan piranti bawaan dan segudang potensi bawaan untuk memperoleh bahasa. Pemerolehan bahasa pada manusia tidak boleh disamakan dengan proses pengenalan yang terjadi pada hewan. Mereka tidak memandang penting pengaruh dari lingkungan sekitar. Selama belajar bahasa pertama sedikit demi sedikit manusia akan membuka kemampuan lingualnya yang secara genetis telah terprogramkan. Dengan perkataan lain, mereka menganggap bahwa bahasa merupakan pemberian biologis sejak lahir. Chomsky (Ellis, 1986: 4-9) yang merupakan kumpulan komunitas yang mengemukakan tokoh Teori Nativisme mengatakan bahwasannya hanya manusialah satu-satunya makhluk Tuhan yang dapat melakukan komunikasi lewat bahasa verbal. Selain itu bahasa juga sangat kompleks oleh sebab itu tidak mungkin manusia belajar bahasa dari makhluk Tuhan yang lain. Chomsky juga menyatakan bahwa setiap anak yang lahir ke dunia telah memiliki bekal dengan apa yang disebutnya “alat penguasaan bahasa” atau LAD (language Acquisition Device). Pada teori ini lebih menekankan pada cara manusia memperoleh bahasa yang telah ia miliki, dan cenderung pada bahasa yang telah dimiliki seseorang merupakan sebuah anugrah yang sedikit demi sedikit akan mengalami perkembangan hingga ia mampu membuka kemampuan berkomunikasi yang akan dimilikinya. 3. Teori Kognitivisme Jika pendekatan kaum behavioristik bersifat empiris maka pendekatan yang dianut golongan kognitivistik lebih bersifat rasionalis. Konsep sentral dari pendekatan ini yakni kemampuan berbahasa seseorang berasal dan diperoleh sebagai akibat dari kematangan kognitif sang anak. Mereka beranggapan bahwa bahasa itu distrukturkan atau dikendalikan oleh nalar manusia. Konsep sentral teori kognitif adalah kemampuan berbahasa anak berasal dari kematangan kognitifnya. Jadi, konsep kognitifistik bersumber pada hasil dari belajar anak dan tidak berasal dari luar kognitif anak , seperti afektif dan lain-lain. Konsep ini pula menjelaskan tentang dalam belajar bahasa, bagaimana kita berpikir, belajar terjadi dari kegiatan mental internal dalam diri kita, belajar bahasa merupakan proses berpikir yang kompleks. Menurut Piaget, Struktur tersebut lahir dan berkembang sebagai akibat interaksi yang terus menerus antara tingkat fungsi kognitif si anak dan lingkungan lingualnya. Proses belajar bahasa terjadi menurut pola tahapan perkembangan tertentu sesuai umur. Tahapan tersebut meliputi: a. Asimilasi: proses penyesuaian pengetahuan baru dengan struktur kognitif b. Akomodasi: proses penyesuaian struktur kognitif dengan pengetahuan baru c. Disquilibrasi: proses penerimaan pengetahuan baru yang tidak sama dengan yang telah diketahuinya. d. Equilibrasi: proses penyeimbang mental setelah terjadi proses asimilasi. 4. Teori Fungsional (Interaksionis) Bahasa merupakan manifestasi kemampuan kognitif dan efektif untuk menjelajah dunia, untuk berhubungan dengan orang lain dan juga keperluan terhadap diri sendiri sebagai manusia. Para peneliti bahasa mulai melihat bahwa bahasa merupakan manifestasi kemampuan kognitif dan efektif untuk menjelajah dunia, untuk berhubungan dengan orang lain dan juga keperluan terhadap diri sendirisebagai manusia. Menurut Slobin. Teori Fungsional (Interaksionis) Pada asas fungsional, perkembangan diikuti oleh perkembangan kapasitas komunikatif dan konseptual yang beroperasi dalam konjungsi dengan skema batin konjungsi. Pada asas formal, perkembangan diikuti oleh kapasitas perseptual dan pemerosesan informasi yang bekerja dalam konjungsi dan skema batin tata bahasa. 5. Teori Konstruktivisme Beberapa tokoh ahli kontruktivisme Jean Piaget dan Leu Vygotski menyatakan bahwa manusia membentuk versi mereka sendiri terhadap kenyataan, mereka menggandakan beragam cara untuk mengetahui dan menggambarkan sesuatu untuk mempelajari pemerolehan bahasa pertama dan kedua. Pembelajaran harus dibangun secara aktif oleh pembelajar itu sendiri dari pada dijelaskan secara rinci oleh orang lain. Dengan demikian pengetahuan yang diperoleh didapatkan dari pengalaman. Namun demikian, dalam membangun pengalaman siswa harus memiliki kesempatan untuk mengungkapkan pikirannya, menguji ide-ide tersebut melalui eksperimen dan percakapan atau tanya jawab, serta untuk mengamati dan membandingkan fenomena yang sedang diujikan dengan aspek lain dalam kehidupan mereka. Selain itu juga guru memainkan peranan penting dalam mendorong siswa untuk memperhatikan seluruh proses pembelajaran serta menawarkan berbagai cara eksplorasi dan pendekatan. Siswa dapat benar-benar memahami konsep ilmiah dan sains karena telah mengalaminya. Dalam kerjanya, ahli konstruktif menciptakan lingkungan belajar yang inovatif dengan melibatkan guru dan pelajar untuk memikirkan dan mengoreksi pembelajaran. Untuk itu ada dua hal yang harus dipenuhi, yaitu: Pembelajar harus berperan aktif dalam menyeleksi dan menetapkan kegiatan belajar yang menarik dan memotivasi pelajar, Harus ada guru yang tepat untuk membantu pelajar-pelajar membuat konsep-konsep, nilai-nilai, skema, dan kemampuan memecahkan masalah. Sehingga muncul hubungan yang dapat menambah komunikasi antara pembelajar dan pelajar dan menambah terjadinya proses belajar bahasa yang benar-benar diharapkan terjadi. 6. Teori Humanisme Tujuan utama dari teori ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa agar bisa berkembang di tengah masyarakat. Seorang tokoh ahli pada teori humanisme Coombs (1981) menyatakan bahwa: Pengajaran disusun berdasarkan kebutuhan-kebutuhan dan tujuan siswa a. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengaktualisasikan dirinya untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya. b. Pengajaran disusun untuk memperoleh keterampilan dasar (akademik, pribadi, antar pribadi, komunikasi, dan ekonomi). c. Memilih dan memutuskan aktivitas pengajaran secara individual dan mampu. d. Mengenal pentingnya perasaan manusia, nilai, dan persepsi. suasana belajar yang menantang dan bisa dimengerti. Mengembangkan tanggung jawab siswa, mengembangkan sikap tulus, respek, dan menghargai orang lain, dan terampil dalam menyelesaikan konflik. Dalam proses belajar-mengajar bahasa ada sejumlah variabel, baik bersifat linguistik maupun yang bersifat nonlinguistik, yang dapat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar itu. Variabel-variabel itu bukan merupakan hal yang terlepas dan berdiri sendiri-sendiri, melainkan merupakan hal yang saling berhubungan, berkaitan, sehingga merupakan satu jaringan sistem. Keberhasilan belajar bahasa dapat dikelompokkan menjadi asas-asas yang bersifat psikologis anak didik, dan yang bersifat materi linguistik. Asas-asas yang yang bersifat psikologis itu, antara lain adalah motivasi, pengalaman sendiri, keingintahuan, analisis sintesis dan pembedaan individual. Motivasi lazim diartikan sebagai hal yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu. Maka untuk berhasilnya pengajaran bahasa, murid-murid sudah harus dibimbing agar memiliki dorongan untuk belajar. Jika mereka mempunyai dorongan untuk belajar. Tanpa adanya kemauan, tak mungkin tujuan belajar dapat dicapai. Jadi, sebelum proses belajar mengajar dimulai, atau sebelum berlanjut terlalu jauh, sudah seharusnya murid-murid diarahkan. Pengalaman sendiri atau apa yang dialami sendiri akan lebih menarik dan berkesan daripada mengetahui dari orang, karena pengetahuan atau keterangan yang didapat dan dialami sendiri akan lebih baik daripada hanya mendengar keterangan guru. Keingintahuan merupakan kodrat manusia yang dapat menyebabkan manusia itu menjadi maju. Pada anak-anak usia sekolah rasa keingintahuan itu sangat besar. Rasa keingintahuan ini dapat dikembangkan dengan memberi kesempatan bertanya dengan meneliti apa saja. Read More →

Avril Lavigne (I Wish You Were Here)

0 komentar
I can be tough I can be strong But with you, it’s not like that at all There’s a girl who gives a shit behind this wall You’ve just walked through it And I remember, all those crazy things you said You left them running through my head You’re always there, you’re everywhere But right now I wish you were here. All those crazy things we did Didn’t think about it, just went with it You’re always there, you’re everywhere But right now I wish you were here Damn, Damn, Damn, What I’d do to have you here, here, here I wish you were here. Damn, Damn, Damn What I’d do to have you near, near, near I wish you were here. I love the way you are It’s who I am, don’t have to try hard We always say, say like it is And the truth is that I really miss All those crazy things you said You left them running through my head You’re always there, you’re everywhere But right now I wish you were here. All those crazy things we did Didn’t think about it, just went with it You’re always there, you’re everywhere But right now I wish you were here Chorus: Damn, Damn, Damn, What I’d do to have you here, here, here I wish you were here. Damn, Damn, Damn What I’d do to have you near, near, near I wish you were here. Bridge: No, I don’t wanna let go I just wanna let you to know That I never wanna let go (let go let go let go let go) No, I don’t wanna let go I just wanna let you to know That I never wanna let go (let go let go let go let go let go let go let go) Damn, Damn, Damn, What I’d do to have you here, here, here I wish you were here (I wish you were) Damn, Damn, Damn What I’d do to have you near, near, near I wish you were here. Damn, Damn, Damn, What I’d do to have you here, here, here I wish you were here. Damn, Damn, Damn What I’d do to have you near, near, near I wish you were here. Read More →

CARA PENULISAN NASKAH PROGRAM MULTIMEDIA INTERAKTIF

0 komentar
PENDAHULUAN
Dalam bidang pendidikan, penggunaan teknologi berbasis komputer merupakan cara untuk menyampaikan materi dengan menggunakan sumber-sumber yang berbasis mikro prosesor, di mana informasi atau materi yang disampaikan disimpan dalam bentuk digita..
Aplikasi teknologi komputer dalam pembelajaran umumnya dikenal dengan istilah “Computer Asisted Instruction (CAI)”, atau dalam istilah yang sudah diterjemahkan disebut sebagai “Pembelajaran Berbantuan Komputer (PBK)”.
Istilah CAI umumnya merujuk kepada semua software pendidikan yang diakses melalui komputer di mana pengguna dapat berinteraksi dengannya. Sistem komputer dapat menyajikan serangkaian program pembelajaran kepada peserta didik, baik berupa informasi konsep maupun latihan soal-soal untuk mencapai tujuan tertentu, dan pengguna melakukan aktivitas belajar dengan cara berinteraksi dengan sistem komputer. Sementara dalam kedudukannya dapat dikatakan bahwa CAI adalah penggunaan komputer sebagai bagian integral dari sistem instruksional, di mana biasanya pengguna terikat pada interaksi dua arah dengan komputer. Menurut Kaput dan Thompson (1994), CAI diartikan sebagai bentuk-bentuk pembelajaran yang menempatkan komputer dalam peran guru. Sedangkan menurut Hinich (dalam Said, 2000), CAI adalah suatu program pembelajaran yang dibuat dalam sistem komputer, di mana dalam menyampaikan suatu materi sudah diprogramkan langsung kepada pengguna. Materi pelajaran yang sudah terprogram dapat disajikan secara serentak antara komponen gambar, tulisan, warna, dan suara.
Sementara itu penggunaan CAI sebagai “sarana atau media belajar” lebih diarahkan sebagai media pembelajaran mandiri, sehingga dalam pemanfaatannya peran guru sangat minimal. Dalam hal ini peserta didik dituntut untuk lebih aktif dalam mendalami materi-meteri pembelajaran yang mungkin tidak bisa didapatkan hanya dari pembelajaran konvensional (klasikal), sehingga dalam proses pembelajaran yang memanfaatkan multimedia pembelajaran guru lebih berperan sebagai fasilitator. Dengan kelebihannya tersebut maka program pembelajaran berbasis komputer mempunyai kemampuan untuk mengisi kekurangan-kekurangan guru. Namun tentu saja tidak ada satupun media yang mampu menggantikan seluruh peran guru, karena masih banyak hal-hal yang bersifat pedagogi dan humanisme yang tidak bisa digantikan oleh komputer.
Program CAI mempunyai 2 (dua) karakteristik, yaitu : pertama, CAI merupakan integrated multimedia yang dapat menyajikan suatu paket bahan ajar (tutorial) yang berisi komponen visual dan suara secara bersamaan. Kedua CAI mempunyai komponen intelligence yang membuat CAI bersifat interaktif dan mampu memproses data atau jawaban dari sipengguna. Kedua karakteritik inilah yang membedakan antara program pembelajaran yang disajikan lewat CAI dengan program pembelajaran ;yang disajikan lewat media lainnya. Umumnya program-program pembelajaran yang disajikan lewat CAI terlihat lebih bermakna, karena mampu menyajikan suatu model pembelajaran yang bersiat interaktif.
Prosedur Pengembangan
Pada saat kita menulis naskah multimedia berarti kita sudah melakukan berbagai tahap yang pertama yaitu perencanaan. Untuk tahap yang kedua yaitu melaksanakan kegiatan pengembangan produksi multimedia interaktif, dari bentuk naskah kita urai atau diadakan pembahasan oleh anggota tim produksi untuk membagi-bagi tugas sesuai keahliannya masing-masing untuk segera dimulai pemrograman. Setelah melakukan kedua tahap tersebut, maka program telah jadi. Lalu lanjutkan pada tahap ketiga yaitu mengadakan penilaian atau mengevaluasi (mengujicobakan program tersebut pada sasaran yang sudah kita tentukan sebelumnya). Guna mengetahui apakah tujuan yang sudah direncanakan pada tahap sebelumnya ini sudah tercapai atau belum, dan apabila ternyata ada kekurangan atau kesalahan perlu diadakan revisi atau perbaikan program. . Adapun prosedur pengembangan CAI dapat di gambarkan pada bagan di bawah ini



tulisan ini hanya membahas tentang teknik penulisan naskah ( frame ) program multimedia. Karena didalam pembuatan naskah itu sendiri banyak langkah-langkah yang harus diikuti dan saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, maka kalau hanya membaca makalah ini saja masih jauh dari ideal seperti apa yang diinginkan oleh calon penulis. Untuk itu perlu untuk mencoba dan mencoba menulis sehingga jam terbang dalam penulisan naskah multimedia interaktif itu akan menentukan kehandalan sebagai penulis program multimedia interaktif yang profesional.

Pentingnya Naskah dalam Pembuatan Multimedia
Banyak orang yang berpendapat tentang pengertian istilah naskah yang kebanyakan pendapat yang satu dengan lainnya berlainan. Ada orang yang mengatakan bahwa naskah sama dengan storyboard dan ada juga yang mengatakan blueprint. Padahal antara pendapat yang satu dengan yang lainnya itu memiliki maksud dan tujuan yang sama. Naskah merupakan rancangan cerita atau pedoman bagi semua tim multimedia untuk menetukan urutan kejadian (materi) yang saling berhubungan antara satu kejadian dengan kejadian lainnya. Dari runtutan kegiatan tersebut yang nantinya akan diterjemahkan kedalam bentuk tampilan yang ada pada layar komputer.
Naskah merupakan tempat dimana ide-ide maupun imajinasi-imajinasi yang ditulis dan disusun menurut suatu urutan yang teratur dan sistematis. Naskah merupakan suatu gambaran kasar tentang apa yang ditampilkan pada layar komputer: tiap lembar naskah akan mewakili satu tampilan layar komputer. Naskah dikatakan baik apabila dapat memberikan panduan bagi seluruh tim produksi program multimedia yang nantinya akan bersama-sama untuk menterjemahkan kedalam bentuk tampilan gambar, foto, audio, animasi maupun video dan sebagainya.

Syarat-Syarat bagi Penulis Naskah Multimedia
Seorang penulis naskahmultimedia haruslah memenuhi kriteria-kriteria tertentu agar naskah yang ditulisnya dapat menjadi acuan bagi seluruh tim produksi program multimedia yang akan akan dibuat.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi antara lain:
1. Penulis harus menguasai bidang yang akan diajarkan
Syarat ini mungkin terdengar klise, tetapi memang demikian adanya. Apabila penulis memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang materi yang akan ditulisnya maka penulis nantinya akan lebih mudah didalam menuangkan ide-idenya atau imajinasinya kedalam bentuk naskah multimedia. Disamping itu nantinya hasil naskah yang ditulisnya akan lebih mendalam dan sistematis.
Perlu diketahui bersama bahwa penulis nantinya akan menjadikan pondasi untuk melakukan kegiatan produksi berikutnya. Dengan demikian, naskah yang baik dan jelas sistematikanya akan dapat memotivasi anggota tim yang ingin memproduksi nantinya, khususnya bagi programmer, perancang grafis, maupun animator yang akan dapat berkreativitas dengan lebih baik. Sebaliknya, naskah yang buruk akan membuat keseluruhan penampilan program multimedia tidak akan menarik dan tidak merangsang anggota tim lainnya untuk berkreasi.
2. Penulis harus menguasai media komputer
Setiap media selalu memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan spesifik. Selain itu, setiap media akan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tetapi disini kita tidak mencari perbedaan dari masing-masing media itu, justru dari berbagai perbedaan itu akan kita ramu untuk dijadikan suatu kekuatan yang baik sehingga dari berbagai kekuatan masing-masing kita satukan sehingga saling bersinergi antara satu media dengan media lainnya.
Sejalan dengan kemajuan tekhnologi, saat ini komputer menjadi suatu media yang kaya akan sajian atau tampilan. Artinya komputer mampu menampilkan berbagai media seperti teks, audio, gambar, animasi, atau video dalam suatu kesatuan yang utuh.
Kemampuan ini tentu dapat membuat komputer sebagai suatu media yang dapat dimanfaatkan dengan berbagai variasi tampilan yang interaktif. Akan tetapi, kelebihan-kelebihan yang dimiliki komputer tidak serta merta terus menjadikan proses pembelajaran langsung menjadikan siswa atau mahasiswa bisa dengan sendiri tanpa adanya usaha, bahkan ada yang mengatakan sekarang untuk belajar itu tidak perlu adanya kehadiran dosen atau guru, cukup dengan menggunakan program multimedia yang interaktif saja. Pendapat demikian ini salah dan berlebihan karena komputer (program multimedia) itu hanya sebuah alat yang perlu dioperasikan oleh guru atau dosen sehingga kehadiran guru atau dosen sampai kapan pun akan diperlukan. Kelebihan lain dari belajar dengan komputer adalah siswa akan lebih betah belajar dibandingkan belajar dengan alat bantu buku teks. Untuk itu, seorang penulis multimedia haruslah pandai-pandai memanfaatkan kelebihan-kelebihan yang ada pada komputer dengan baik. Misalnya, ia harus tahu kapan harus menampilkan animasi dan materi yang cocok apabila menggunakan video atau kapan harus menampilkan tampilan dengan teks atau suara. Tampilan berbagai macam media dalam komputer harus seimbang dan proporsional. Terlalu dominan menggunakan salah satu media, misalnya: melalui teks atau video saja akan menjadikan program multimedia membosankan dan tidak menarik karena kekutan-kekuatan yang terdapat di komputer tidak dimanfatkan secara maksimal.
3. Mampu menghadirkan materi pembelajran dengan bahasa visual
Tetapi yang perlu diingat oleh penulis bahwa keunggulan dan kemapuan komputer terletak pada tampilan visual interktif sehingga bagi para penulis harus pandai-pandai di dalam mengolah bahasa visualnya.
4. Terbuka dalam menerima masukan-masukan dari orang lain
Dalam membuat suatu program multimedia tidak bisa dikerjakan oleh satu orang saja maka diperlukan kerja tim. Seorang penulis tidak bekerja sendirian, melainkan seorang penulis harus bekerja sama degan ahli media, walaupun naskah merupakan karya seorang penulis, tetapi sebagai bagian dari keseluruhan proses pembuatan program maka seorang penulis haruslah membuka diri terhadap masukan-masukan dari ahli media maupun dari produksi guna kesempurnaan yang sudah ditulis. Sekali lagi naskah yang baik akan menentukan bagi hasil akhir suatu program multimedia.


5. Mau melihat hasil karya orang lain dengan menggali sumber-sumber lain yang berguna
Dalam hal ini penulis harus sering melihat hasil program multimedia hasil karya orang lain untuk menambah wawasan bagi penulis. Melihat karya orang lain adalah suatu masukan yang sangat baik untuk menumbuhkan kreativitas inovatif bagi seorang penulis.
6. Komitmen terhadap waktu yang telah disepakati
Penulisan naskah multimedia adalah suatu proses kreatif yang menyita waktu. Tanpa ada komitmen bersama, maka seorang penulis tidak bisa tepat waktu. Bila hal ini terjadi secara terus-menerus maka akan mengganggu proses produksi nantinya. Dengan demikian, banyak waktu yang terbuang untuk menunggu naskah finalnya.


Langkah yang Perlu Dilakukan Sebelum Memulai Penulisan Naskah
Seorang penulis harus mau meluangkan waktu ekstra untuk melakukan langkah-langkah tertentu sebelum penulisan dimulai, antara lain:
1. Mengidentifikasi sasaran yang akan menggunakan program multimedia tersebut
Sebelum menulis naskah, penulis hendaknya menetukan sasaran yang akan menggunakan program multimedia tersebut. Disamping itu, hendaknya penulis mengidentifikasi kemampuan awal yang telah dikuasai siswa (mahasiswa). Dengan demikian, materi yang akan ditulis nanti disesuaikan dengan pengguna program multimedia tersebut.
2. Mengembangkan atau mendeskripsikan tujuan pembelajaran dengan jelas
Dengan mendeskripsikan tujuan pembelajaran dengan baik, secara umum maupun tujuan khusus dengan jelas, maka siswa atau mahasiswa setelah menggunakan program multimedia yang kita buat ini akan dapat kita nilai atau evaluasi sejauh mana efektifitas program multimedia tersebut. Dengan demikian, kita dapat mengetahui sampai dimana materi yang ada di dalam program tersebut dapat dapat dikuasai siswa atau mahasiswa. Tanpa dikembangkannya tujuan pembelajaran dengan jelas, kita akan kesulitan dalam mengevaluasi kemampuan siswa. Disamping itu, kita akan kesulitan untuk menentukan materi apa saja yang akan kita tulis nanti.
3. Menyiapkan materi yang relevan dengan apa yang ditulis
Materi atau bahan yang akan ditulis ini hendaknya dipilih yang relevan dengan tujuan yang telah kita kembangkan. Disamping itu, materi yang akan ditulis hendaknya materi yang masih baru dan menarik (jangan materi yang sudah kadaluarsa), bila perlu didukung oleh fakta maupun data hasil penelitian yang terbaru. Biasanya pekerjaan ini sangat menyita banyak waktu bagi penulis program multimedia karena tidak mungkin didalam manulis nanti hanya cukup dengan satu sumber saja. Kalau itu dipaksakan, nantinya penulis kesulitan di dalam mengembangkan ide-idenya dan programnya setelah jadi terlihat membosankan dan programnya terlihat dangkal.
4. Identifikasi materi yang sudah terkumpul untuk diseleksi mana yang cocok dengan teks, gambar, foto, audio, animasi dan video
Setelah semua materi terkumpul, semua penulis dapat memilih dan mengelompokkan materi yang sesuai atau lebih jelas dipaparkan melalui teks dikumpulkan jadi satu, materi yang dengan video, jadi satu cocok dengan gambar atau audio dan sebagainya. Sehingga didalam proses penulisan berikutnya lebih mudah, misalnya pada saat pembuatan flowchart pada naskah merupakan naskah penulisan yang nantinya akan lebih mudah.
5. Tentukan navigasi untuk program yang akan dibuat
Pemilihan navigasi dalam penulisan program multimedia ini sangat diperlukan untuk panduan bagi penulis dalam membuat flowchart. Karena dengan menggunakan panduan navigasi alur materi yang ditulis akan lebih jelas dan sistematis sehingga didalam penulisan tidak terjadi pelebaran atau penyempitan di luar frame yang sedang kita bahas. Disamping itu, navigasi akan mempermudah dalam pembuatan flowchart karena sudah terlihat lebih terinci.
6. Membuat flowchart sesuai alur materi
Dalam penulisan maupun pemrograman multimedia, flowchart digunakan sebagai pedoman atau alur bagi penulis maupun pemrograman multimedia. Tanpa membuat flowchart, penulis maupun pemrogram akan mengalami kesulitan dalam menelusuri alur materi yang sedang ditulis atau pada saat programmer sedang memprogram akan mengalami kesulitan dalam membuat alur program yang sistematis. Dengan demikian, apabila penulis multimedia memaksa tidak membuat flowchart, programmer akan kesulitan dalam membuat alur pemrograman dan hasilnya nanti yang berbentuk multimedia yang sudah jadi terlihat acak-acakan dan kurang sistematis.
7. Melakukan penulisan naskah program multimedia dengan teliti
Kalau semuanya sudah siap, minimal semua langkah-langkah tersebut di atas, penulis dapat menuangkan materi yang akan ditulis kedalam bentuk naskah multimedia sesuai urutan pada flowchart yang telah ditulis.


Jenis-jenis navigasi yang perlu diketahui
Berikut ini akan dijelaskan tentang jenis-jenis navigasi yang umumnya digunakan dalam program multimedia seperti: linier, hierarki, campuran, hyperlink, dll. Tipe linier merupakan suatu navigasi yang paling sederhana. Tipe multimedia yang menggunakan pendekatan drill and practice sangat cocok menggunakan navigasi linier. Tipe-tipe yang paling kompleks dan merupakan navigasi yang paling rumit adalah tipe hyperlink.

Jenis-jenis strategi instruksional program multimedia
Presentasi materi yang dilakukan melalui program multimedia pembelajaran interaktif biasanya mempergunakan strategi instruksional berupa: drill and practice, tutorial, game, dan simulasi.
1. Drill and Practice (Latihan)
Multimedia pembelajaran interaktif yang mempergunakan strategi ini sangat cocok untuk melatihkan suatu konsep atau keterampilan baru, tentunya setelah guru memperkenalkan konsep dan keterampilan baru tersebut. Sebagai media latihan, komputer memiliki kelebihan-kelebihan dibanding guru. Pertanyaan bisa diajukan dengan cepat sementara jawabannya bisa diselesaikan sesuai kesanggupan siswa. Contoh: pelajaran tentang tenis, mula-mula dijelaskan konsep tenis tersebut secukupnya, setelah itu diberikan latihan penggunaannya.
Presentasi yang mempergunakan strategi latihan ciri-cirinya adalah:
- dilakukan setelah penyajian materi;
- tidak menyajikan materi baru;
- dapat dilakukan sekaligus dengan pemberian balikan;
- dapat menunjang berbagai keterampilan;
- dapat diberikan dalam berbagai tingkatan kesulitan sesuai kebutuhan siswa.
2. Tutorial
Multimedia pembelajaran interaktif yang mempergunakan strategi tutorial isinya menampilkan informasi dan penjelasan-penjelasan ketika diperlukan, mengajukan dan menjawab pertanyaan. Kemudian, memberikan penjelasan lebih lanjut bila ada kesulitan sebagaimana yang dilakukan oleh seorang tutor.
Presentasi yang mempergunakan strategi tutorial ciri-cirinya adalah:
- dapat mengajar keterampilan tingkat rendah maupun keterampilan tingkat tinggi;
- dapat berbentuk latihan;
- dapat berbentuk pemecahan dan analisis masalah;
- sering bersifat memberi pengulangan dan pengayaan atas dasar keinginan siswa;
- bisa berupa testing.
3. Simulasi
Multimedia pembelajaran interaktif yang mempergunakan strategi simulasi membawa siswa langsung dihadapkan pada lingkungan atau situasi yang menuntut perannya atau menuntut siswa untuk mengambil tindakan. Situasi atau lingkungan tersebut bisa berupa siswa seolah-olah berada dalam laboratorium sehingga ia harus bereksperimen.
Ciri-ciri simulasi yang efektif adalah:
- belajar menjadi relatif lebih singkat dibanding metode lain;
- efektivitas belajar meningkat bila model atau simulasinya benar-benar mendekati realita;
- belajar menjadi efisien karena tergetnya pada kemajuan dan hasil belajar.
4. Game (Permainan)
Multimedia pembelajaran interaktif yang mempergunakan strategi game (permainan) seringkali disebut edutainment.
Unsur hiburan dalam program jenis ini lebih menonjol dan dominan daripada unsur lainnya.
Ciri-cirinya adalah:
- dapat memancing berkembangnya keterampilan tertentu;
- dapat membantu mengajarkan berbagai keterampilan;
- efektif untuk memotivasi;
- membantu belajar menjadi lebih menyenangkan.

Format naskah multimedia
Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa tidak ada format yang dikatakan baku dalam pembuatan naskah multimedia. Masing-masing pengembang menggunakan format yang menurut mereka lebih familiar dan mudah digunakan. Yang jelas, format naskah harus ringkas dan dapat mudah dimnegerti oleh seluruh anggota tim pengembang. Untuk itu, sebelum suatu tim bekerja perlu disepakati format seperti apa yang akan digunakan nantinya.








































Karena format naskah multimedia ini tidak ada yang baku, maka sebaiknya format yang digunakan perlu ada kesepakatan bersama.
Tetapi perlu adanya acuan di dalam menentukan format naskah multimedia:
- menceritakan keseluruhan jalan cerita, dari awal samapai akhir program multimedia yang akan dibuat;
- Menarik dan jelas;
- Mendetail tetapi tidak terlalu teknis;
- Urut-urutan naskah logis;
- Dapat dimengerti oleh seluruh anggota tim.
Read More →

MAKALAH HAKIKAT LAYANAN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

0 komentar


HAKIKAT LAYANAN BAGI ANAK
BERKEBUTUHAN KHUSUS


Oleh :
1. WINDA NOVELASARI
2. MAHFUDHA Y. NURRISKIYAH
3. RETNO UVI ARUMDANI
4. SITI NURUL QOMARIAH
5. ZAINUL HASAN CH.
6 .HADI PURNOMO


PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ABDURACHMAN SALEH
SITUBONDO
2013




















Kata Pengantar

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat, hidayah, dan bimbingannya dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Makalah berjudul “Hakikat Layanan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus”. Penulisan makalah ini dimaksudkan guna memenuhi tugas kuliah studi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis telah mendapatkan bantuan dan bimbingan secara langsung maupun tidak langsung dari ibu dosen mata kuliah Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Inda Novitasari, S. Pd, rekan serta kakak tercinta. Untuk itu, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu. Semoga Tuhan memberikan anugerah yang setimpal.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Selanjutnya, penulis berharap semoga makalah ini dapat memberi tambahan pengetahuan dan memberikan manfaat bagi kita semua.


Situbondo, 23 Oktober 2013



Penulis

















BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pada dasarnya setiap anak berpotensi mengalami problema dalam belajar, hanya saja problema tersebut ada yang ringan dan tidak memerlukan perhatian khusus dari orang lain karena dapat diatasi sendiri oleh anak yang bersangkutan dan ada juga yang problem belajarnya cukup berat sehingga perlu mendapatka perhatian dan bantuan dari orang lain.

Anak penyandang cacat mulai diakui keberadaannya, dan oleh sebab itu mulai berdiri sekolah-sekolah khusus, rumah-rumah perawatan dan panti sosial yang secara khusus mendidik dan merawat anak-anak penyandang cacat. Mereka yang menyandang kecacatan, dipandang memiliki karakteristik yang berbeda dari orang kebanyakan, sehingga dalam pendidikannya mereka memerlukan pendekatan dan metode yang khsusus pula sesuai dengan karakteristiknya. Oleh sebab itu, pendidikan anak penyandang cacat harus dipisahkan (di sekolah khusus) dari pendidikan anak lainnya.

Konsep pendidikan seperti inilah yang disebut dengan konsep Special Education, yang melahirkan sistem pendidikan segregasi. Konsep special education dan sistem pendidikan segregasi lebih melihat anak dari segi kecacatannya (labeling), sebagai dasar dalam memberikan layanan pendidikan. Oleh karena itu terjadi dikotomi antaran pendidikan khusus (PLB) dengan pendidikan reguler. Pendidikian khusus dan pendidikan regular dianggap dua hal yang sama sekali berbeda.
Konsep dan pemahaman terhadap pendidikan anak penyandang cacat terus berkembang, sejalan dengan dinamika kehidupan masyarakat. Pemikiran yang berkembang saat ini, melihat persoalan pendidikan anak penyandang cacat dari sudut pandang yang lebih bersifat humanis, holistik, perbedaan individu dan kebutuhan anak menjadi pusat perhatian. Dengan demikian layanan pendidikan tidak lagi didasarkan atas label kecacatan anak, akan tetapi didasarkan pada hambatan belajar dan kebutuhan setiap individu anak. Oleh karena itu layanan pendidikan anak penyandang cacat tidak harus di sekolah khusus, tetapi bisa dilayani di sekolah regular terdekat dimana anak itu berada. Cara berpikir seperti ini dilandasi oleh konsep Special needs education, yang antara lain melatarbelakangi munculnya gagasan pendidikan inklusif.

1.2 Rumusan masalah
1.2.1 Apa hakikat layanan bagi anak berkebutuhan khusus?
1.2.2 Bagaimana konsep layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus?
1.2.3 Apa saja model layanan bagi anak berkebutuhan khusus?
1.2.4 Apa pengertian dari pendidikan inklusif serta bagaimana implementasinya?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui hakikat lyanan bagi anak berkebutuhan khusus
1.3.2 Untuk memahami konsep layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus
1.3.3 Mengetahui dan memahami model layanan bagi anak berkebutuhan khusus
1.3.4 Mengetahui pengertian dari pendidikan inklusif serta bagaimana implementasinya






BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Hakikat Anak Berkebutuhan Khusus
Istilah anak berkebutuhan khusus merupakan istilah terbaru yang digunakan dan merupakan terjemahan dari child with specials needs yang telah digunakan secara luas di dunia nternasional.
Penggunaan istilah anak berkebutuhan khusus membawa kosekuensi cara pandang yang berbeda dengan istilah anak luar biasa yang pernah diergunakan dan mungkin masih digunakan. Jika pada istilah luar biasa lebih menitik beratkan pada kondisi (fisik, mental, emosi-sosial) anak, maka pada berkebutuhan khusus lebih pada kebutuhan anak untuk mencapai prestasi sesuai dengan prestesinya.
Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang secara pendidikan memerlukan layanan yang spesifik yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus ini memiliki apa yang disebut dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan (barier to learning and development). Oleh sebab itu mereka memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan hamabatan belajar dan hambatan perkembang yang dialami oleh masing-masing anak.
Secara umum rentangan anak berkebutuhan khusus meliputi dua kategori yaitu: (a) anak yang memiliki kebutuhan khusus yang bersifat permanen, akibat dari kecacatan tertentu (anak penyandang cacat), seperti anak yang tidak bisa melihat (atunanetra), tidak bisa mendengar (tunarungu), anak yang mengalami cerebral palsy dst. Dan (b) anak berkebutuhan khusus yang bersifat temporer.


2.2 Konsep layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus
konsep layanan memiliki arti yang sama meskipun dalam konteks kegiatan yang berbeda, yaitu suatu jasa yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam beberapa terminologi, Istilah layanan diartikan sebagai (1) cara melayani; (2) usaha melayani kebutuhan orang lain dengan memperoleh imbalan (uang); (3) kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual beli jasa atau barang.
Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang mengalami keterbatasan atau hambatan dalam segi fisik, mental-intelektual, maupun sosial emosional. Kondisi yang demikian, baik secara langsung atau tidak berdampak pada berbagai aspek kehidupan mereka. Untuk itu layanan sangat diperlukan bagi mereka, untuk dapat menjalani kehidupannya.
Dari segi waktu, pemberian layanan pada anak berkebutuhan khusus juga sangat bervariasi. Tidak semua anak-anak berkebutuhan khusus memerlukan layanan secara wajar. sepanjang hidupnya, ada kalanya layanan bagi mereka bersifat temporer. Anak-anak mungkin hanya membutuhkan layanan dalam beberapa periode waktu. Contohnya, anak-anak tunanetra membutuhkan layanan orientasi dan mobilitas hanya diperlukan pada tingkat satuan pendidikan Sekolah Dasar. Demikian juga bina komunikasi untuk anak tunarungu, bina diri dan gerak untuk anak tunadaksa, bina diri dan sosial untuk
anak tunalaras. Namun untuk anak-anak yang berklasifikasi berat, memerlukan berbagai layanan yang lebih lama untuk menumbuhkan kemandirian mereka.
Ada beberapa jenis layanan yang bisa diberikan kepada anak-anak berkebutuhan khusus, sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Namun secara umum akan mencakup (1) layanan medis dan fisiologis, (2) layanan sosialpsikologis, dan (3) layanan pedagogis/pendidikan. Beberapa jenis layanan tersebut diberikan oleh para ahli yang kompeten pada bidangnya masing-masing, dan dilakukan berdasarkan kebutuhan anak.

2.3 Model layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus
ABK memiliki tingkat kekhususan yang amat beragam, baik dari segi jenis, sifat, kondisi maupun kebutuhannya, oleh karena itu, layanan pendidikannnya tidak dapat dibuat tunggal/seragam melainkan menyesuaiakan diri dengan tingkat keberagaman karakteristik dan kebutuhan anak. Dengan beragamnya model layanan pendidikan tersebut, dapat lebih memudahkan anak-anak ABK dan orangtuanya untuk memilih layanan pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya. Ada beberapa model layanan pendidikan bagi ABK yang ditawarkan mulai dari yang model klasik sampai yang modern/terkini.

2.3.1 Bentuk Layanan Pendidikan Segregrasi
Sistem layanan pendidikan segregasi adalah sistem pendidikan yang terpisah dari sistem pendidikan anak normal. Model ini mencoba memberikan layanan pendidikan secara khusus dan terpisah dari kelompok anak normal maupun ABK lainnya. Dengan kata lain anak berkebutuhan khusus diberikan layanan pendidikan pada lembaga pendidikan khusus untuk anak berkebutuhan khusus, seperti Sekolah Luar Biasa atau Sekolah Dasar Luar Biasa, Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa, Sekolah Menangah Atas Luar Biasa. Sistem pendidikan segregasi merupakan sistem pendidikan yang paling tua. Pada awal pelaksanaan, sistem ini diselenggarakan karena adanya kekhawatiran atau keraguan terhadap kemampuan anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama dengan anak normal.
Kelebihan dari model ini adalah (1) anak merasa senasib, sehingga dapat menghilangkan rasa minder, rasa rendah diri, dan membangkitkan semangat menyongsong kehidupan di hari-hari mendatang, (2) anak lebih mudah beradaptasi dengan temannya yang sama-sama mengalami/menyandang ketunaan, (3) anak termotivasi dan bersaing secara sehat dengan sesama temannya yang senasib di sekolahnya, dan anak lebih mudah bersosialisasi tanpa dibayangi rasa takut bergaul, minder, dan rasa kurang percaya diri.
Kekurangan/Kelemahan adalah (1) anak terpisah dari lingkungan anak lainnya sehingga anak sulit bergaul dan menjalin komunikasi dengan mereka yang normal, (2) anak merasa terpasung dan dibatasi pergaulanya dengan anak yang cacat saja sehingga pada giliranya dapat menghambat perkembangan sosialisasinya di masyarakat, dan (3) anak merasakan ketidakadilan dalam kehidupan di sekolah yang terbatas bagi mereka yang tergolong berkelainan.
Ada empat bentuk penyelenggaraan pendidikan dengan sistem segregasi, yaitu:
a.) Sekolah Luar Biasa (SLB)
Bentuk Sekolah Luar Biasa merupakan bentuk sekolah yang paling tua. Bentuk SLB merupakan bentuk unit pendidikan. Artinya, penyelenggaraan sekolah mulai dari tingkat persiapan sampai dengan tingkat lanjutan diselenggarakan dalam satu unit sekolah dengan satu kepala sekolah. Pada awalnya penyelenggaraan sekolah dalam bentuk unit ini berkembang sesuai dengan kelainan yang ada (satu kelainan saja), sehingga ada SLB untuk tunanetra (SLB-A), SLB untuk tunarungu (SLB-B), SLB untuk tunagrahita (SLB-C), SLB untuk tunadaksa (SLB-D), dan SLB untuk tunalaras (SLB-E). Di setiap SLB tersebut ada tingkat persiapan, tingkat dasar, dan tingkat lanjut. Sistem pengajarannya lebih mengarah ke sistem individualisasi.
Selain, ada SLB yang hanya mendidik satu kelainan saja, ada pula SLB yang mendidik lebih dari satu kelainan, sehingga muncul SLB-BC yaitu SLB untuk anak tunarungu dan tunagrahita; SLB-ABCD, yaitu SLB untuk anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, dan tunadaksa. Hal ini terjadi karena jumlah anak yang ada di unit tersebut sedikit dan fasilitas sekolah terbatas.

b.) Sekolah Luar Biasa Berasrama
Sekolah Luar Biasa Berasrama merupakan bentuk sekolah luar biasa yang dilengkapi dengan fasilitas asrama. Sekolah Luar Biasa Berasrama merupakan bentuk sekolah luar biasa yang
dilengkapi dengan fasilitas asrama. Peserta didik SLB berasrama tinggal diasrama. Pengelolaan asrama menjadi satu kesatuan dengan pengelolaan sekolah, sehingga di SLB tersebut ada tingkat persiapan, tingkat dasar, dan tingkat lanjut, serta unit asrama.
Pada SLB berasrama, terdapat kesinambungan program pembelajaran antara yang ada di sekolah dengan di asrama, sehingga asrama merupakan tempat pembinaan setelah anak di sekolah. Selain itu, SLB berasrama merupakanpilihan sekolah yang sesuai bagi peserta didik yang berasal dari luar daerah, karena mereka terbatas fasilitas antar jemput.

c.) Kelas jauh/Kelas Kunjung
Kelas jauh atau kelas kunjung adalah lembaga yang disediakan untuk memberi pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus yang tinggal jauh dari SLB atau SDLB. Pengelenggaraan kelasjauh/kelas kunjung merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam rangka menuntaskan wajib belajar serta pemerataan kesempatan belajar. Anak berkebutuhan khusus tersebar di seluruh pelosok tanah air, sedangkan sekolah-sekolah yang khusus mendidik mereka masih sangat terbatas di kota/kabupaten. Oleh karena itu, dengan adanya kelas jauh/kelas kunjung ini. Dalam penyelenggaraan kelas jauh/kelas kunjung menjadi tanggung jawab SLB terdekatnya. Tenaga guru yang bertugas di kelas tersebut berasal dari
guru SLB-SLB di dekatnya. Mereka berfungsi sebagai guru kunjung (itenerant teacher). Kegiatan administrasinya dilaksanakan di SLB terdekat tersebut.

d.) Sekolah Dasar Luar Biasa
Dalam rangka menuntaskan kesempatan belajar bagi anak berkebutuhan khusus, pemerintah mulai Pelita II menyelenggarakan Sekolah Dasar LuarBiasa (SDLB). Di SDLB merupakan unit sekolah yang terdiri dari berbagai kelainan yang dididik dalam satu atap. Dalam SDLB terdapat anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, dan tunadaksa. SDLB keberadaannya hampir mirip dengan SLB, akan tetapi SDLB sesuai adalah sekolah yang diperuntukkan dan untuk menampung anak-anak berkebutuhan khusus usia sekolah dasar dari berbagai jenis dan tingkat kekhususan yang dialaminya. Mereka belajar di kelas masing-masing yang disesuaikan dengan jenis kekhususannya, akan tetapi mereka bersosialisasi secara bersama-sama dalam satu naungan sekolah. SDLB pada hakikatnya adalah SD Negeri Inpres biasa tetapi diperuntukkan bagi anak usia wajib belajar yang memerlukan pendidikan khusus. Dilihat dari keragaman anak di SDLB dengan berbagai jenis kekhususannya tersebut, maka SDLB sebenarnya termasuk sekolah terpadu, akan tetapi terpadu secara fisik bukan terpadu secara akademik.

2.3.2 Bentuk Layanan Pendidikan Terpadu/Integrasi
Bentuk layanan pendidikan terpadu/integrasi adalah sistem pendidikan yang memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama-sama dengan anak biasa (normal) di sekolah umum. Dengan demikian, melalui sistem integrasi anak berkebutuhan khusus bersama-sama dengan anak normal belajar dalam satu atap.
Sistem pendidikan integrasi disebut juga sistem pendidikan terpadu, yaitu sistem pendidikan yang membawa anak berkebutuhan khusus kepada suasana keterpaduan dengan anak normal. Keterpaduan tersebut dapat bersifat menyeluruh, sebagaian, atau keterpaduan dalam rangka sosialisasi.
Ada tiga bentuk keterpaduan dalam layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus menurut Depdiknas (1986). Ketiga bentuk tersebut adalah:
a. Bentuk Kelas Biasa
Dalam bentuk keterpaduan ini anak berkebutuhan khusus belajar di kelas biasa secara penuh dengan menggunakan kurikulum biasa. Oleh karena itu sangat diharapkan adanya pelayanan dan bantuan guru kelas atau guru bidang studi semaksimal mungkin dengan memperhatikan petunjukpetunjuk khusus dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar di kelas biasa. Bentuk keterpaduan ini sering juga disebut keterpaduan penuh.
Pendekatan, metode, cara penilaian yang digunakan pada kelas biasa ini tidak berbeda dengan yang digunakan pada sekolah umum. Tetapi untuk beberapa mata pelajaran yang disesuaikan dengan ketunaan anak. Misalnya, anak tunanetra untuk pelajaran menggambar, matematika, menulis, membacaperlu disesuaikan dengan kondisi anak. Untuk anak tunarungu mata pelajaran kesenian, bahasa asing/bahasa Indonesia (lisan) perlu disesuaikan
dengan kemampuan wicara anak.

b. Kelas Biasa dengan Ruang Bimbingan Khusus
Pada keterpaduan ini, anak berkebutuhan khusus belajar di kelas biasa dengan menggunakan kurikulum biasa serta mengikuti pelayanan khusus untuk mata pelajaran tertentu yang tidak dapat diikuti oleh anak berkebutuhan khusus bersama dengan anak normal. Pelayanan khusus tersebut diberikan di ruang bimbingan khusus oleh guru pembimbing khusus (GPK), dengan menggunakan pendekatan individu dan metode peragaan yang sesuai. Untuk keperluan tersebut, di ruang bimbingan khusus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk memberikan latihan dan bimbingan khusus. Misalnya untuk anak tunanetra, di ruang bimbingan khusus disediakan alat tulis braille, peralatan orientasi mobilitas. Keterpaduan pada tingkat ini sering disebut juga keterpaduan sebagian.

c. Bentuk Kelas Khusus
Dalam keterpaduan ini anak berkebutuhan khusus mengikuti pendidikan sama dengan kurikulum di SLB secara penuh di kelas khusus pada sekolah umum yang melaksanakan program pendidikan terpadu. Keterpaduan ini disebut juga keterpaduan lokal/bangunan atau keterpaduan yang bersifat sosialisasi.

2.4 Pendidikan Inklusif Dan Pengimplementasiannya
a. Pengetian Inklusif
konsep inklusif lebih menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Pendidikan inklusif menurut Sapon-Shevin dalam O’Neil (1994/1995) didefinisikan sebagai suatu sistem layanan pendidikan khusus yang mensyaratkan agar semua anak berkebutuhan khusus dilayani di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya. Untuk itu perlu adanya restrukturisasi di sekolah sehingga menjadi komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan khusus bagi setiap anak. Sejalan dengan konsep ini, Smith (2006:45) mengemukakan, bahwa inklusi dapat berarti penerimaan anak-anak yang mengalami hambatan ke dalam kurikulum, lingkungan, interaksi sosial dan konsep diri (visimisi) sekolah.

Gagasan utama mengenai pendidikan inklusif ini menurut Johnsen (2003:181), adalah sebagai beriku:
Bahwa setiap anak merupakan bagian integral dari komunitas lokalnya dan kelas dan kelompok reguler.
Bahwa kegiatan sekolah diatur dengan sejumlah besar tugas belajar yang kooperatif, individualisasi pendidikan dan fleksibilitas dalam pilihan materinya.
Bahwa guru bekerjasama dan memiliki pengetahuan tentang strategi pembelajaran dan kebutuhan pengajaran umum, khusus dan individual, dan memiliki pengetahuan tentang cara menghargai tentang pluralitas perbedaan individual dalam mengatur aktivitas kelas.

b.Implementasi Inklusif
Ada beberapa faktor yang harus dipertimbagkan dalam implementasi pendidikan inklusif, beberapa faktor dimaksud menurut skjorten, Miriam D (2003:52-58) adalah;
1)Kebijakan – hukum- undang-undang – ekonomi, yaitu perlunya ada undang-undang khusus yang mengakomodasi kepentingan anak berkebutuhan khusus, sertu dukungan dana dalam implementasinya;
2)Sikap – pengalaman- pengetahuan, yaitu berkenaan dengan pengakuan hak anak serta kemampuan dan potensinya;
3Kurikulum lokal, reginal, dan nasional;
4Perubahan pendidikan yang potensial, inklusi harus didukung oleh reorientasi di lapangan, dalam bidang pendidikan guru dan penelitian;
5)Kerjasama lintas sektoral;
6Adaptasi lingkungan, dan
7)Penciptaan lapangan kerja.

Di Indonesia sendiri Pelaksanaan pendidikan inklusif di sekolah didasarkan pada beberapa landasan, filosofis dan yuridis-empiris. Secara filosofis, implementasi inklusi mengacu pada beberapa hal, diantaranya, bahwa:
Pendidikan adalah hak mendasar bagi setiap anak, termasuk anak berkebutuhan khusus
Anak adalah pribadi yang unik yang memiliki karakteristik, minat, kemampuan dan kebutuhan belajar yang berbeda
Penyelenggaraan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara orang tua masyarakat dan pemerintah
Setiap anak berhak mendapat pendidikan yang layak
Setiap anak berhak memperoleh akses pendidikan yang ada di lingkungan Sekitarnya


c.Tenaga Kependidikan dalam Layanan ABK
Personil pendidikan ABK tidak jauh berbeda dengan personil pendidikan umum lainnya.Personil yang dimaksud adalah sebagai berikut :
•Tenaga Guru
Guru yang bertugas pada pendidikan ABK harus memiliki kualifikasi dan kemampuan yang dipersyaratkan. Tenaga guru tersebut meliputi: Guru Khusus, Guru Pembimbing (Konselor Pendidikan), Guru Umum yang telah memiliki pengalaman luas dalam mendidik dan menangani masalah-masalah pendidikan anak di sekolah.

•Tenaga Ahli
Tenaga ahli dalam pendidikan ABK sangat diperlukan keberadaannya untuk ikut membantu pemecahan permasalahan anak dalam bidang non akademik. Tenaga ahli itu meliputi: Dokter umum, Dokter spesialis, Psikolog, Social worker, maupun tenaga ahli lainnya yang diperlukan.

•Tenaga Administrasi
Untuk kelancaran proses belajar-mengajar perlu dukungan tenaga admistrasi sekolah. Sebagai tenaga non akademik keberadaannya sangat diperlukan untuk kelancaran tugas-tugas sekolah secara umum, misalnya keuangan, surat-menyurat, pendataan murid/guru, dan sebagainya.














BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari berbagai pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki perbedaan-perbedaan baik perbedaan interindividual maupun intraindividual yang signifikan dan mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan lingkungan sehingga untuk mengembangkan potensinya dibutuhkan pendidikan
Penanganan pendidikan untuk anak-anak ABK dapat berbentuk model segregasi (Contohnya SLB), kelaskhusus, SDLB, guru kunjung, sekolah terpadu, dan pendidikan inklusi. Sedangkan Personil/tenaga yang terlibat dalam pelaksanaan pelayanan pendidikan ABK, meliputi: guru, konselor, tenaga medis, psikolog dan personil lain yang dibutuhkan.

3.2 Saran
Setelah membaca makalah ini diharapkan kita bisa memberikan layanan bagi Anak Berkebutuhan Khusus dengan baik dan benar, dan kita bisa memberikan pelayanan terbaik bagi anak yang berkebutuhan khusus










DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, dkk. 2006. Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: Upi Press
Http://Www.Scribd.Com/Doc/17387933/Mengenal-Anak-Berkebutuhan-Khusus
http://z-alimin.blogspot.com/2008/03/pemahaman-konsep-pendidikan-kebutuhan.html
Suparno, dkk. 2009. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Universitas Lampung.
Sujiono,Nuraini yuliana.2012.Konsep Dasar Anak Usia Dini.Indeks.s
Read More →

Download IDM 6.17 build 8 Full Version

0 komentar
IDM 6.17 Build 8.rar - 5.2 MB [URL=http://www.tusfiles.net/hc9a977zbmed]IDM 6.17 Build 8.rar - 5.2 MB[/URL] Read More →